BAYANGKAN sebuah panggung akan memantaskan kisah tentang seorang Nitisemito: raja kretek Kudus yang pernah berdiri di puncak kejayaan, lalu perlahan runtuh di bawah tekanan yang tidak selalu tampak. Penonton mungkin menunggu drama manusia: keluarga yang retak, buruh yang letih, atau kolonialisme yang menjadi latar besar di belakang panggung. Namun lakon ini menyimpan satu tokoh yang paling menentukan, tetapi jarang diberi tubuh dan suara. Tokoh itu bernama pajak.
Dalam dramaturgi Nitisemito, pajak bukan sekadar catatan administrasi, melainkan monster tak terlihat yang mengubah arah cerita tanpa pernah tampil sebagai manusia. Ia tidak masuk panggung dengan langkah kaki, tetapi membuat semua tokoh tiba-tiba berjalan lebih cepat, bicara lebih keras, atau diam lebih lama. Pajak adalah kekuasaan yang bekerja tanpa harus memperlihatkan wajahnya. Dalam teater, ini adalah antagonis paling berbahaya: ia tidak bisa ditunjuk dengan jari.
Jika Nitisemito dipentaskan, maka pajak dapat dibaca sebagai hantu struktural: bukan sekadar masalah, melainkan sistem yang menyusup ke tubuh produksi. Ia mengatur ritme kerja, memaksa keputusan-keputusan ekonomi, dan mendorong tragedi menuju titik puncak. Ia hadir dalam ketegangan, bukan dalam wujud. Ia bekerja seperti tangan yang tidak terlihat tetapi selalu menarik tali panggung.
Kita terbiasa memahami tragedi sebagai akibat dari kesalahan karakter: keserakahan, ambisi, atau kesombongan. Namun tragedi Nitisemito lebih menarik bila dibaca sebagai benturan antara manusia dengan sesuatu yang tak bisa ia lawan secara personal. Pajak tidak punya emosi, tidak punya keluarga, tidak punya rasa malu. Ia hanya bekerja sebagai angka, tetapi angka itu adalah palu.
Di panggung, pajak tidak harus diwujudkan sebagai aktor manusia. Ia bisa hadir sebagai suara tanpa tubuh: datang dari pengeras suara, dari balik tirai, dari lembar-lembar kertas yang jatuh seperti hujan. Penonton tidak melihat siapa yang bicara, tetapi seluruh tubuh panggung bereaksi. Pajak dapat menjadi bunyi stempel yang berulang: tak! tak! tak!
Setiap stempel adalah ketukan genderang perang yang tidak pernah diumumkan. Setiap bunyi adalah pengingat bahwa ada kuasa yang bekerja di luar kehendak manusia. Nitisemito yang awalnya menguasai pasar, tiba-tiba tampak kecil di hadapan bunyi itu. Dan di situlah penonton mulai paham: tragedi ini tidak bergerak karena dendam manusia, tetapi karena mekanisme.
Jika mengikuti logika Brecht, pajak adalah mesin dramaturgi yang memaksa penonton sadar bahwa tragedi ini bukan sekadar kisah pribadi. Ini bukan sekadar tentang orang sukses yang jatuh. Ini tentang struktur ekonomi kolonial yang bekerja seperti mekanisme panggung: lampu, tirai, tali, katrol. Semua menggerakkan aktor, tetapi aktor tidak pernah mengendalikan sistem panggung itu sendiri.
Dalam lakon, pajak dapat muncul sebagai judul babak yang selalu menginterupsi alur. Babak kemegahan: pajak menatap dari jauh. Babak ekspansi: pajak mulai mengukur. Babak kejatuhan: pajak mulai memakan.
Monster ini tidak menyerang tiba-tiba. Ia bertumbuh pelan, seperti jamur di tembok rumah: mula-mula kecil, lalu menyebar, lalu menjadi bagian dari arsitektur. Penonton menyaksikan bahwa tragedi tidak selalu datang dalam bentuk ledakan, tetapi dalam akumulasi. Kejatuhan bukan peristiwa tunggal, melainkan proses panjang yang tak terasa.
Jika pabrik Bal Tiga adalah ruang disiplin, maka pajak adalah bentuk pengawasan yang lebih halus daripada penjaga. Buruh diawasi oleh mandor, tetapi Nitisemito diawasi oleh sistem pajak. Pengawasan ini lebih menakutkan karena tidak terlihat dan tidak bisa ditatap balik. Pajak adalah panopticon ekonomi: ia menciptakan ketakutan tanpa wajah.
Dalam pementasan, ini dapat diwujudkan melalui pencahayaan. Setiap kali pajak disebut, lampu berubah menjadi dingin, bayangan muncul seperti jeruji. Panggung tiba-tiba terasa seperti kantor kolonial, meskipun adegan masih berada di pabrik. Penonton menyadari bahwa pabrik itu tidak pernah sepenuhnya milik Nitisemito.
Dalam kapitalisme kolonial, pajak bukan hanya instrumen pendapatan negara, melainkan cara untuk menundukkan ekonomi lokal. Ia mengubah pengusaha pribumi menjadi bagian dari mesin kolonial: bekerja, tumbuh, lalu diperas. Pajak adalah metode pemerasan yang dilegalkan dan dinormalisasi. Ia bukan hanya angka, tetapi juga cara menundukkan martabat.
Di titik ini, pajak bukan sekadar monster, melainkan mulut raksasa yang selalu lapar. Ia tidak pernah kenyang dan tidak peduli apakah pabrik sedang makmur atau sekarat. Ia hanya mengenal satu bahasa: kewajiban. Kesuksesan menjadi umpan, dan pertumbuhan menjadi jerat.
Teater biasanya menampilkan horor melalui darah atau jeritan. Tetapi lakon Nitisemito dapat menawarkan horor yang lebih modern: horor administrasi. Horor ketika manusia tidak kalah oleh senjata, tetapi kalah oleh dokumen. Di sinilah kertas menjadi lebih menakutkan daripada pisau.
Dalam adegan tertentu, sebuah meja besar bisa masuk ke panggung: meja kantor pajak. Di atasnya tumpukan kertas yang tidak dibaca, tetapi ditumpuk seperti tembok. Kertas itu seperti makam yang pelan-pelan menimbun hidup seseorang. Seorang pegawai kolonial tidak perlu berteriak, ia cukup berkata pelan: “Ini ketentuannya.”
Kalimat itu lebih tajam daripada senjata, karena ia menutup semua ruang negosiasi. Di situ pajak menjadi monster yang bahkan tidak perlu marah untuk menang. Ia tidak membutuhkan kebencian, cukup prosedur. Ia tidak membunuh dengan kekerasan, tetapi dengan legalitas yang dingin.
Nitisemito adalah manusia pilihan: ia memilih menjadi besar, memilih membangun pabrik, memilih memperluas pasar. Tetapi kebebasannya semakin lama semakin sempit karena pajak membuat setiap pilihan menjadi jebakan. Jika ia berhenti berkembang, ia kalah dalam kompetisi. Jika ia berkembang, ia menjadi target.
Inilah tragedi eksistensialnya: ia tetap bebas, tetapi kebebasannya seperti orang yang berjalan di lorong sempit. Ia bisa maju, tetapi hanya ke satu arah. Ia bisa memilih, tetapi pilihannya selalu terasa salah. Monster itu tidak merampas kehendak, tetapi membuat kehendak terasa sia-sia.
Dalam pementasan, ini dapat digambarkan melalui blocking. Nitisemito berjalan semakin sempit, ruang geraknya dipagari buruh yang memegang buku besar, pegawai yang membawa meterai, dan suara mesin ketik yang memukul udara. Tak. Tak. Tak. Suara mesin ketik adalah taring monster yang tidak terlihat.
Dalam kosmologi Jawa, monster bukan sekadar makhluk buruk rupa, tetapi simbol dari kekuatan besar yang tidak dapat ditundukkan manusia biasa. Pajak dapat dibaca sebagai buto modern: raksasa yang tidak muncul dari hutan, melainkan dari kantor. Ia tidak makan daging, tetapi makan jenang. Ia tidak merebut nama secara langsung, tetapi menggerogoti nama perlahan.
Nitisemito hidup di antara jeneng dan jenang. Namun pajak mengajarkan sesuatu yang pahit: ketika jenang dikuras, jeneng pun ikut runtuh. Kehormatan dalam modernitas sering kali berdiri di atas angka. Ketika angka jatuh, kehormatan ikut jatuh.
Buto pajak ini tidak perlu menakut-nakuti. Ia cukup menunggu, karena ia tahu manusia akan lelah sendiri. Dalam tragedi klasik, tokoh utama sering mati secara fisik. Tetapi dalam lakon Nitisemito, kematian bisa hadir sebagai sesuatu yang lebih halus: kematian sosial. Kehancuran bukan darah, melainkan sepi.
Pabrik sunyi. Lampu padam. Buruh pulang. Logo Bal Tiga mungkin masih menggantung, tetapi menggantung seperti nisan. Di titik itu, pajak tidak terlihat merayakan kemenangan. Monster ini tidak punya pesta, karena ia tidak punya perasaan. Ia hanya pergi ke korban berikutnya, sebab monster struktural tidak punya dendam pribadi. Ia bekerja seperti musim: datang, mengeringkan, lalu berlalu.
Jika lakon Nitisemito dipentaskan dengan pajak sebagai monster tak terlihat, pertunjukan ini tidak lagi menjadi sekadar nostalgia industri kretek. Ia menjadi refleksi tentang negara, kuasa, dan modernitas Indonesia. Kehancuran kadang bukan disebabkan oleh perang atau pengkhianatan, tetapi oleh sesuatu yang terlihat kecil: angka-angka di atas kertas. Kuasa paling efektif adalah kuasa yang tidak perlu memukul, cukup menulis.
Dan mungkin pertanyaan yang tersisa bagi penonton bukan lagi, “Mengapa Nitisemito jatuh?” Melainkan, “Siapa sebenarnya yang mengatur panggung ini sejak awal manusia, atau sistem yang tak pernah punya wajah?” (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar