Di Kabupaten Kudus, di mana deru mesin industri dan aroma knalpot truk Pantura menjadi napas harian, ruang bagi imajinasi visual sering kali tersisih ke sudut-sudut sempit. Ekosistem film di kota ini ibarat lahan kering yang merindukan hujan; kita memiliki banyak potensi, namun sangat minim ruang apresiasi. Di tengah sunyinya layar-layar alternatif itulah, pelajar kelas XI DKV SMK NU Miftahul Falah hadir membawa sebuah "gangguan" kreatif melalui MIFFA Creative Exhibition.
Agenda pemutaran (screening) 10 film pendek karya siswa yang di[utar pada 02–03 2026 Mei di ruang kelas ini bukan sekadar seremoni sekolah biasa. Ia adalah sebuah peristiwa, karena di sana terjadi pertemuan penting antara kreator muda dengan publiknya. Di sana, film tidak hanya diputar lalu hilang, tetapi diuji, dirasakan, dan dirayakan.
Sebagai penikmat dan sedikit pengamat, saya sering kali datang ke ruang putar dengan ekspektasi yang terstandarisasi: gambar harus tajam, scoring mesti rapi, dan logika cerita mesti jelas. Namun, karya-karya siswa SMK MIFFA ini mengajak kita menanggalkan jubah pretensi itu. Mereka mengajarkan kita untuk merayakan apa yang selama ini kita takuti dan hindari: ketidaksempurnaan.
Kita akan melihat momen di mana audio sesekali hilang, color grading yang tidak solid, atau akting dan dialog yang absurd. Tapi hei, justru di situlah letak kemewahannya: kejujuran. Sinema tidak melulu datang dari para teknisi, tapi dari mereka yang memiliki keresahan batin, kurang lebih begitu kata Bapack Warner Herzog.
Di balik film yang mungkin dilabeli gagal atau jelek atau itu, ada anak SMK yang sedang belajar jatuh, bangun, dan berekspresi. Karena sejujurnya, tanpa film jelek, tidak akan pernah ada film bagus. Kita semua harus mulai dari suatu tempat, bukan?
Selain itu, keputusan untuk memberlakukan tiket seharga Rp3.000 hingga Rp5.000 adalah siasat yang cerdas sekaligus berani. Angka tersebut memang kecil, namun nilai simbolisnya besar. Tiket tersebut adalah kontrak apresiasi. Penonton tidak hanya sekadar duduk melihat gambar bergerak, tetapi belajar menghargai jerih payah tim produksi dan setiap tetes keringat di balik layar.
Dengan membeli tiket, penonton mendukung ekosistem agar kreativitas sineas muda ini tetap sehat. Lagipula, harga segitu bahkan lebih murah daripada bayar seblak atau parkir Rumah Sakit yang dihitung per jam.
Menampilkan 10 film di tengah minimnya ruang putar di Kudus menjadikan pemutaran film ini sebagai oase. Sebuah upaya merawat keberanian bahwa keterbatasan infrastruktur daerah bukanlah alasan untuk berhenti bercerita. Sebagaimana spirit pujangga sinema Abbas Kiarostami yang meyakini bahwa film yang baik adalah yang memberikan ruang bagi penonton untuk "menyelesaikan" cerita di kepalanya sendiri, ketidaksempurnaan teknis di sini justru memberi ruang bagi kita untuk melihat lebih dalam: apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh anak muda Kudus?
Melalui lensa para pelajar DKV ini, kita tidak perlu menunggu perangkat negara untuk bergerak. Kita tidak perlu menunggu ketukan palu birokrasi, rapat-rapat formal yang panjangnya mengalahkan durasi film dokumenter, atau turunnya anggaran yang entah kapan akan sampai ke tangan sineas pemula. Kita juga tidak perlu menunggu dibangunnya gedung bioskop megah atau festival besar. Kita hanya perlu keberanian untuk menyapu debu di ruang kelas, memasang layar dari kain seadanya, meminjam proyektor, dan mengaktivasi sudut sekolah menjadi ruang sinema inklusif yang sederhana dan menyenangkan.
Saat ini, SMK NU Miftahul Falah Kudus sedang menanam benih. Jika hari ini mereka berhasil mengumpulkan massa untuk menonton karya mereka, maka di masa depan, bisa jadi Kudus akan dikenal bukan hanya karena industrinya, teaternya, Menaranya, tapi juga karena geliat sineas mudanya yang berdaya. Semoga.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar