Folks

Kontempoye Ala Martir; Dunia di Sebelah Kita

✍ Afif Khoiruddin Sanjaya - 📅 01 May 2026

Kontempoye Ala Martir; Dunia di Sebelah Kita
Afif Khoiruddin Sanjaya

Oleh Afif Khoiruddin Sanjaya , Lahir di Kudus. Menulis resensi pertunjukan, Sutradara teater, dan mengajar Bahasa Indonesia.

Ngomong-ngomong soal Theatre of the Oppresed, Augusto Boal; kita tak kan jauh dengan transformasi realitas. Seperti harapan-harapan yang kacau, atau cita-cita yang runtuh kerana tak semua orang sepakat dengan apa yang kita pikirkan, sehari-hari. Mungkin. Tapi, aku pilih menikmati teater Minatani—Martirnya, dengan senyap, dengan yang tersayang, dangan gelap, doa, dan macam-macam estetika. Maka, berbahagialah kita yang maju karena pengalaman sendiri. Lebih lebih, teater Minatani, hari ini. Uyee.

Teater bukan hanya pertunjukan yang bertutur dengan bahasa yang dikenal sebagai drama, tetapi juga pertunjukan yang ber-”bahasa” dengan tubuh, rupa dan bunyi (Putu Wijaya, 2008: 23). Dalam pengupayaannya, teater Minatani begitu dekat dengan itu, berangkat dari tubuh sebagai gagasan untuk menghasilkan teks dan bunyi, dan perupaan yang dihasilkan dari eksplorasi setiap punggawanya, identifikasi maksud yang menarik mengingat setiap adegan yang berjalan runtut merupakan suatu kesepakatan dan pengolahan yang presisi untuk membertebal bahasa tubuh dan pertunjukan yang bertutur. Martir, upaya kemerdekaan tubuh untuk berterus-terang. Persis seperti bentangan tulis mereka; respons terhadap realitas sosial dan kondisi di mana segala sesuatu terasa harus didasarkan pada insentif, mengangkat isu idealisme dan perlawanan tiada akhir. Sedapp. Indonesia telah memiliki tradisi teater rakyat yang memiliki fungsi serupa, saya pikir Martir mengembangkan itu demi menggaet karakteristik yang asik sebagai alat resistensi yang relevan- terror nakal untuk kita yang tolah-toleh memikirkan karya demi karya dipertontonkan.

Saya sengaja menulis ini dengan terlambat, alih-alih tepat waktu sering jadi gampang terlupa-- saya harap catatan ini jadi pengingat bagi kita, bahwa Martir, di UMK Desember lalu telah membekas di hati kau dan aku (asseekk). Saya yakin teater Minatani mengakui; kebebasan berekspresi di ruang publik tidak terlalu sering berbuah manis; ia selalu dinegosiasikan bersama norma kolektif. Namun, dengan itu pula dalam negosiasi yang ‘subjektiv’ terbentuk. Sial, saya terngiang pada nukilan puisi salah setunggal actor yang berteriak; “Adakah kesenangan setelah menyerahkan tubuh pada lawan?” ini seperti menggugah aku pada persoalan yang lubuk sekaligus ngeri. Jangan-jangan Martir berbisik bahwa Kekerasan seksual sebagai senjata perang menjadi salah satu cara paling kejam untuk menimbulkan rasa takut, menundukkan, mempermalukan, menghancurkan moral musuh, dan memindahkan secara paksa penduduk dari wilayah yang diperebutkan. Tentu sepaket dengan pratanda yang telah dibungkus rapi dalam kolase-kolase ala kompempoyeaah sebelum kita masuk ruang pemeranan para actor yang meledak itu. Tata panggung serupa museum of Bad Art, atau seperti bayangan Kawan aku yang selalu membicarakan betapa indahnya menonton pertunjukan di pinggir aquarium sambil menikmati para actor tenggelam dan kehabisan napas lalu tewas. Martir lebih secret lagi. Ia seperti berkisah bahwa; Bahkan tidak jarang kekerasan seksual digunakan oleh para komandan militer untuk memotivasi tentaranya serta dijadikan sebagai bentuk ‘reward’ atas kinerjanya. Artinya perempuan sering dijadikan alat untuk menghancurkan harga diri lawan dengan menjadikan tubuh mereka sebagai “medan pertempuran” entah, jangan-jangan piiranku saja yang melayang gara-gara menonton ini sambil jalan-jalan.

Perpaduan daya peran, kekuatan kata, sekaligus rupa- ini adalah trobosan mujarab untuk memprioritaskan Pati sebagai sample batin yang berbudaya dan meruang untuk setiap apa-dan siapa saja di dalamnya. Entah kecermatan saya yang mentok dalam mempertajam pengalaman menonton dan mengulik hal-hal magic, atau memang seperti demikian yang sama kita ketahui, Martir berupa keras memasukkan ke-Urban-an ini lewat nama, kalimat, dan atau tari-tarinya. Tapi, sebagai tampilan yang proporsional, ini lebih dalam, bermakna. Ini seperti memberi cermin bagi saya dalam memergoki diri yang habis-habisan memerangi zaman, lewat identifikasi biologi, laku tubuh, dan aktifititas manusia. Haduh, sehabis menontonnya, saya seperti ingin ingin sebats sembari membuang sampah pada tempatnya, kemudian mencintai kekaasihku lebih lama, lalu membangun hidup dengan hati-hati, dan menyumpahi negara ini dengan doa-doa baik biar kita tak dikecewakan berkali-kali. Martir yang seolah ingin menggapai fenomentil ini menjadikan kemurnian karya semakin bening, sekaligus keruh kerana kepahaman seluruh lapisan pegiat maupun penikmat seni yang menjangkaunya belum begitu penuh, ini menjadikan pengetahuan berharga bagi saya, dan orang lain barangkali, bahwa hal-hal ringan itu mengesankan. Mendebarkan, nikmat dan tak harus dihabiskan dengan buru-buru.

Lagi, saya pikir Martir dengan segala keterbatasannya, barangkali sengaja melampirkan nukil kalimat berupa; “seolah-olah semua orang mau berkarya, kalau ada bayarannya” bukan tanpa tedeng aling-aling. Ini seperti gejolak jiwa yang meronta bahwa suatu Upaya juga butuh ketenangan. Ya, logika tanpa logistic serupa khayalan, kan? Martir seperti menemani kita yang sering kacaw kerana mengusahakan yang terbaik tapi terbalas yang terbalik, apalagi dalam kesyenian; risiko terbesar adalah berkurangnya kualitas batiniah atau "jiwa" dari suatu karya. Fenomena ini sering membuat pelaku kreatif merasa jenuh atau merasa gambarnya/tulisannya "tak berjiwa". Kreativitas bisa terancam ketika fokus bergeser dari ekspresi diri menjadi sekadar memenuhi keinginan orang lain. Martir cukup mewakili kita, barangkali.

Tapi, apalah. Martir tetap Martir. Juga, Seperti yang kita ketahui bersama, Fungsi teater sebagai estetika dalam kehidupan bukan saja mengungkapkan pikiran, perasaan, kecemasan, harapan dan sebagainya, akan tetapi juga menikmati bentuk-bentuk pengungkapan itu. Dalam peristiwa seperti itu, penikmat maupun pelaku, atau masyarakat luas barangkali, tidak hanya merasa puas dengan; telah dapat mengungkapkan pengalamannya, akan tetapi mereka juga merasa puas atau tidak puas dalam hubungan dengan bentuk-bentuk ungkapan yang mereka gunakan. Saya pikir, teater Minatani telah menggenggam ini dengan bijak, meski agak keteteran dalam hal-hal disipliner panggung yang menurut anak teater; panggung tempat sakral, butuh keseimbangan, musik yang ber-nyawa dan ber-timing yang kadang-kadang bikin sinting atau blablabla- Aku pikir, mereka sangat bersungguh-sungguh dalam menerapkan maksud dalam gejolak gelisah itu, dan mengakumulasikan tarikan yang gemas dan berani dalam mengamati hidup, kritis sekaligus fantastisss. Gila dan terkesan spontan, Pertunjukan ini memberi kesan sungguh-sungguh tapi haha-hihi, haha-hihi tapi terjadi. Fungsi teater untuk menghibur sekaligus menabur respons pada hal-hal di sekitar, memberi ajar tanpa menghajar, agak ndugal dan nakal, tapi ini segar.

Sekali lagi, Perpaduan daya peran, kekuatan kata, sekaligus rupa- ini adalah trobosan mujarab untuk memprioritaskan Pati sebagai sample batin yang berbudaya dan meruang untuk setiap apa-dan siapa saja di dalamnya. entah kecermatan saya yang mentok dalam mempertajam pengalaman menonton dan mengulik hal-hal magic, atau memang seperti demikian yang sama kita ketahui, Martir berupa keras memasukkan ke-Urban-an ini lewat nama, kalimat, dan atau tari-tarinya. Tapi, sebagai tampilan yang proporsional, ini lebih dalam, bermakna. Weh, Kontempoye ala Martir. Peradaban manis di sebelah kita. Dunia yang sempit dengan problema yang menganga.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar