Esai

Nitisemito dan Dramaturgi Sejarah

✍ Imam Khanafi - 📅 01 May 2026

Nitisemito dan Dramaturgi Sejarah
Imam Khanafi

Oleh Imam Khanafi , tinggal di Kudus dan menulis esai tentang pertunjukan serta budaya. Sejak 2024, ia berkarya bersama Phos dengan menerbitkan zine sastra.

JIKA sejarah adalah panggung besar, maka Kudus pernah menjadi salah satu panggung yang paling riuh dan beraroma tajam. Di kota kecil yang harum oleh tembakau dan cengkeh itu, lahir seorang tokoh yang hidupnya seperti lakon teater tiga babak: jatuh, bangkit, lalu diuji hingga batas terakhir. Namanya Nitisemito, raja kretek legendaris yang kisahnya tidak hanya layak dibaca sebagai catatan ekonomi, tetapi juga sebagai tragedi sosial yang penuh ketegangan. Dalam kacamata kesenian, hidupnya bukan sekadar biografi, melainkan naskah besar tentang manusia yang berhadapan dengan nasib dan kekuasaan. Ia adalah tokoh utama yang bergerak di tengah pusaran konflik: kreativitas lokal, ambisi pribadi, dan sistem kolonial yang menekan.

Dalam konsep dramaturgi, Nitisemito dapat dibaca sebagai karakter yang terus bernegosiasi dengan keadaan. Ia bukan pahlawan yang muncul dari kemudahan, tetapi sosok yang dibentuk oleh jalan panjang kegagalan dan kesabaran. Setiap langkahnya seperti adegan yang disusun rapi oleh takdir, dengan klimaks yang tidak selalu menyenangkan. Ia hidup di masa ketika industri bukan hanya persoalan produksi, tetapi juga soal politik dan kendali negara. Karena itu, kisahnya terasa seperti drama sosial yang melibatkan banyak tokoh, bukan hanya satu orang. Nitisemito menjadi simbol bagaimana seorang manusia bisa membesar, namun juga bisa diguncang oleh sistem yang lebih besar darinya.

Nitisemito lahir dengan nama Roesdi atau Rusdi di Desa Jagalan, Kudus. Ia berasal dari keluarga terpandang, sebab ayahnya dikenal sebagai lurah desa, sementara ibunya hidup dalam tradisi masyarakat agraris. Namun panggung kehidupan tidak selalu memberi jalur mulus, bahkan bagi anak seorang pejabat lokal. Sejak muda ia telah merasakan bagaimana kerasnya hidup dan ketidakpastian ekonomi. Dalam struktur teater klasik, fase ini adalah prolog yang membangun suasana: tokoh utama diperkenalkan dengan luka-luka kecil yang kelak membentuk keteguhan.

Pada masa awal, Nitisemito bukanlah pengusaha besar, melainkan pedagang kecil yang mencoba banyak jalan. Ia pernah jatuh bangun dalam usaha tekstil, minyak kelapa, bahkan ternak kerbau yang tidak selalu berhasil. Ia juga pernah menjadi kusir dokar, sebuah pekerjaan yang memperlihatkan bagaimana ia tidak malu bekerja dari lapisan paling bawah. Dari sudut pandang dramaturgi, ini adalah fase eksposisi yang memperlihatkan watak tokoh: keras kepala, ulet, dan tidak mudah menyerah. Penonton sejarah melihatnya bukan sebagai tokoh yang langsung menang, tetapi tokoh yang terus mencoba meski berkali-kali kalah. Di sinilah daya tariknya sebagai figur seni muncul: ia manusia biasa yang bergerak tanpa henti.

Sekitar tahun 1910, ia mulai memproduksi rokok kretek secara kecil-kecilan. Kretek pada masa itu belum menjadi industri modern, melainkan kerja rumahan yang hidup dari tangan-tangan pekerja dan tradisi. Namun Nitisemito melihat sesuatu yang belum dibaca orang lain: bahwa tembakau dan cengkeh bukan sekadar komoditas, tetapi identitas dan peluang besar. Ia membangun merek Bal Tiga dengan strategi pemasaran yang cerdas dan keberanian yang tidak umum pada zamannya. Dalam istilah teater, ini adalah momen ketika tokoh menemukan jalur takdirnya. Sejak titik itu, panggung hidupnya mulai membesar.

Puncak kejayaannya terjadi pada rentang 1922–1940 ketika ia membangun pabrik besar di Jati, Kudus. Pabrik itu mempekerjakan hingga 10 ribu buruh, dengan produksi sekitar 8 juta batang rokok per hari, angka yang mengguncang imajinasi pada masa tersebut. Ini bukan sekadar statistik, melainkan perubahan sosial yang nyata karena ribuan keluarga menggantungkan hidup pada asap kretek. Kudus perlahan berubah dari kota tradisi menjadi kota industri, dengan denyut ekonomi yang ditentukan oleh kerja pabrik. Dalam dramaturgi modern, babak ini adalah fase ekspansi, ketika tokoh utama bukan lagi individu, melainkan pusat dari kehidupan kolektif. Kejayaan itu membuatnya mendapat julukan “De Kretek Koning”, Raja Kretek, seolah ia benar-benar berdiri di puncak panggung sejarah.

Namun dalam teater, kejayaan jarang menjadi akhir cerita. Semakin tinggi seseorang berdiri, semakin rapuh panggung tempat ia berpijak. Di balik kemegahan industri, selalu ada bayang-bayang kekuasaan yang menunggu celah untuk menekan. Kejayaan sering kali melahirkan kecemburuan, pengawasan, dan aturan yang semakin ketat. Pada titik ini, penonton sejarah mulai merasakan bahwa cerita akan memasuki babak gelap. Dalam naskah tragedi, inilah saat ketika konflik besar mulai mengetuk pintu. Dan bagi Nitisemito, konflik itu datang dalam bentuk yang tidak bisa dilawan dengan tenaga, melainkan dengan politik dan hukum.

Pada akhir 1930-an, perusahaan Bal Tiga menghadapi tuduhan penggelapan pajak. Jumlah yang disebut-sebut sangat besar untuk masa itu, berkisar antara 75 ribu hingga 160 ribu gulden menurut berbagai sumber. Pajak kolonial bukan sekadar angka, melainkan simbol kekuasaan negara yang mampu mengguncang siapa pun, bahkan pengusaha paling besar sekalipun. Dalam dramaturgi, ini adalah turning point, titik balik yang mengubah arah cerita secara drastis. Bayangkan seorang tokoh berdiri di tengah panggung: di belakangnya pabrik raksasa, di sekelilingnya buruh yang menunggu nasib, dan di depannya aparat kolonial dengan dokumen-dokumen dingin. Ketegangan itu membuat kisah Nitisemito terasa seperti drama sosial yang nyata dan getir.

Konflik pajak ini bukan hanya persoalan pribadi, tetapi juga persoalan masyarakat. Jika pabrik runtuh, ribuan buruh kehilangan pekerjaan dan Kudus kehilangan denyut ekonominya. Karena itu, drama yang terjadi bukan lagi drama bisnis, melainkan drama kolektif yang menyeret banyak nasib sekaligus. Nitisemito akhirnya memilih jalan kompromi dengan mencicil utang pajak hingga lunas. Dalam bahasa teater, ini adalah resolusi sementara, semacam jeda yang memberi napas sebelum badai berikutnya datang. Tetapi tragedi sering bekerja dengan cara yang ironis: kemenangan kecil hanya menunda kehancuran yang lebih besar. Sejarah seperti sengaja mengatur panggung agar tokoh utamanya tetap berada dalam tekanan.

Nitisemito meninggal pada 7 Maret 1953 di Krapyak, Kudus. Namun kematiannya tidak menutup cerita, sebab warisan sosial dan kulturalnya tetap hidup di ingatan masyarakat. Ia menjadi simbol bahwa industri lokal mampu membentuk wajah kota, bahkan membentuk identitas ekonomi Indonesia. Yang paling menarik adalah ironi yang begitu teatrikal: namanya diabadikan menjadi Jalan Nitisemito yang berada dekat Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kudus. Seolah sejarah menempatkan namanya tepat di dekat “antagonis” yang dulu mengguncang hidupnya. Ia juga dikenang dalam Museum Kretek Kudus sebagai bagian dari memori kolektif kota.

Jika kisah Nitisemito dipentaskan sebagai pertunjukan teater, struktur dramatiknya terasa lengkap dan kuat. Tokoh utamanya jelas: seorang manusia pekerja keras yang lahir dari kegagalan dan tumbuh lewat ketekunan. Latar sosialnya juga kokoh: Kudus sebagai kota yang berubah dari tradisi menjadi industri, dari sunyi menjadi riuh. Konflik utamanya hadir sebagai pertarungan antara kreativitas lokal dan sistem kolonial yang menekan melalui pajak dan birokrasi. Dalam tradisi teater Yunani, buruh dan masyarakat Kudus dapat menjadi “kor”, suara kolektif yang menyanyikan kecemasan, harapan, dan ketakutan. Maka kisah ini menjadi tragedi modern: kehancuran tidak datang dari musuh tunggal, melainkan dari benturan sistem dan tekanan struktural.

Kisah Nitisemito mengajarkan bahwa sejarah tidak hanya berisi angka produksi atau nama besar yang diagungkan. Sejarah juga berisi tubuh manusia, keputusan sulit, dan ketegangan sosial yang tidak selalu selesai dengan bahagia. Di balik asap kretek, ada keringat buruh, ada ambisi pengusaha, dan ada kekuasaan negara yang selalu siap menekan. Kudus tidak hanya menjadi kota rokok, tetapi kota yang menyimpan drama sosial dalam lapisan-lapisan sejarahnya. Dan Nitisemito, dalam cerita ini, bukan sekadar raja industri, melainkan tokoh panggung yang hidupnya dipenuhi ironi. Seperti teater yang baik, kisahnya tidak selesai ketika lampu padam, karena ia terus hidup di jalan, museum, cerita warga, dan ingatan kota yang tak pernah berhenti mengepul. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar