Ada sesuatu yang sulit dijelaskan setiap kali lampu panggung mulai redup dan musik perlahan mengalun. Seolah ada ruang lain yang terbuka sunyi, tapi penuh isyarat. Gerakan tubuh yang sederhana bisa tiba-tiba terasa memiliki makna, dan tanpa disadari, kita seperti ikut terseret masuk ke dalamnya. Tari memiliki daya magis yang mampu menghipnotis penonton melalui gerakan yang khas, dinamis, dan penuh tenaga. Tapi, apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh setiap gerak itu? Mungkin jawabannya tidak selalu jelas dan justru di situlah letak pesonanya.
Semalam saya menyaksikan sebuah pertunjukan bertajuk Serah Edisi Keempat, sebuah program yang merupakan bagian dari ruang kreatif yang digagas oleh Dewan Kesenian Kudus dengan dukungan utama dari Djarum Bakti Budaya. Serah sendiri hadir sebagai wadah bagi para seniman untuk menampilkan karya-karya mereka lintas disiplin mulai dari tari, teater, puisi, hingga musik. Namun, pada edisi keempat yang digelar tadi malam, fokus utama diarahkan pada seni tari sebagai medium ekspresi. Pertunjukan ini melibatkan lima penampil, yang sebagian besar adalah perempuan, dengan eksplorasi tari tradisi yang dipadukan dengan pakem-pakem filosofis yang tetap dijaga keutuhannya. Sejak awal pertunjukan dimulai, terasa bahwa setiap karya tidak berdiri sendiri, melainkan dirangkai dalam sebuah alur dramaturgi yang cukup terstruktur.
Meski demikian, tidak semua penonton mungkin dapat langsung menangkap pesan yang ingin disampaikan. Tari, pada dasarnya, adalah bahasa yang sunyi, ia bercerita seperti puisi tanpa kata. Gerak tubuh, komposisi ruang, ekspresi wajah, hingga iringan musik menjadi medium untuk menyampaikan narasi yang tidak selalu gamblang, tetapi justru mengundang tafsir. Setiap segmen terasa seperti potongan cerita yang hidup. Ada momen ketika musik menjadi penuntun utama, lalu tubuh para penari meresponsnya dengan ritme yang selaras. Di lain waktu, justru gerak yang tampak lebih dominan, seolah musik hadir sebagai penguat suasana.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam proses penciptaan tari, tidak ada satu metode tunggal. Koreografer bisa memulai dari gerak, dari musik, atau bahkan dari gagasan abstrak yang kemudian diterjemahkan menjadi adegan-adegan yang utuh. Di balik keindahan yang tersaji, saya menyadari bahwa tari adalah seni yang βmahalβ bukan hanya dalam arti biaya, tetapi juga dalam prosesnya. Untuk menghadirkan satu karya yang utuh, dibutuhkan kolaborasi banyak pihak: penari, koreografer, penata musik, perancang kostum, hingga penata panggung.
Ada pula anggapan bahwa tari identik dengan sesuatu yang bersifat seksis, terutama karena tubuh khususnya tubuh perempuan menjadi medium utamanya. Namun, menurut saya, hal tersebut lebih bergantung pada sudut pandang penikmatnya. Tubuh dalam tari adalah instrumen ekspresi, bukan sekadar objek visual. Ia membawa pesan, emosi, bahkan nilai-nilai budaya yang dalam. Sebagai seni yang memadukan berbagai unsur gerak, musik, visual, dan rasa tari memiliki potensi besar untuk menjadi ruang pertemuan berbagai cabang seni.
Dalam konteks Indonesia yang kaya akan keberagaman budaya, tari tradisi menjadi salah satu kekuatan yang tak ternilai. Namun, di tengah arus globalisasi dan gempuran budaya populer seperti Korean wave yang dianggap lebih atraktif oleh generasi muda, tari tradisi menghadapi tantangan tersendiri. Karena itu, pertunjukan seperti Serah Edisi Keempat menjadi penting, bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai upaya menghadirkan kembali tari dalam kemasan yang relevan tanpa kehilangan akar tradisinya.
Saya berharap, dari pertunjukan tadi malam, dapat tumbuh ekosistem tari yang lebih kreatif, sehat, dan terbuka, sehingga generasi muda pun semakin tertarik untuk mengenal dan mencintai seni tari sebagai bagian dari identitas budaya mereka.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar