Sebuah Ruang yang Hidup
Dalam sebuah ruangan yang dipenuhi peserta dari berbagai latar belakang dan golongan masyarakat, Festival Film Anak Bangsa (FFAB) keempat resmi dibuka. Mellyana, selaku perwakilan panitia acara, menyampaikan sambutan yang menjadi penanda dimulainya perhelatan tahunan ini. Ia menggarisbawahi semangat yang menjadi ruh dari festival ini: bahwa Scene the Unseen — merangkul apa yang tidak terlihat — bukan sekadar tema, melainkan sebuah ajakan.
"Festival anak bangsa bisa menjadi sesuatu yang lebih dekat dan nyata."
Melly Hana S, Perwakilan FFAB ke-4
Harapan itu pula yang disampaikan oleh Arif Khilwa, yang berharap agar pertemuan semacam ini dapat terus berlangsung secara konsisten di masa mendatang. Kehadiran peserta yang beragam menjadi bukti nyata bahwa antusiasme terhadap film sebagai medium ekspresi terus tumbuh di kalangan anak muda.
Film Pertama: Ujung Jakarta
Pemutaran pertama menampilkan film berjudul Ujung Jakarta. Usai layar menggelap, para peserta tak sungkan untuk bersuara. Nanda, salah satu peserta, menyampaikan kesannya dengan penuh semangat.
"Filmnya berwarna dan ada sedikit plot twist yang membuka kacamata baru tentang sisi Jakarta yang tidak tampak."
Tanggapan Nanda mencerminkan kekuatan film sebagai medium untuk mengungkap realitas yang tersembunyi di balik wajah kota yang biasa kita lihat. Jakarta bukan hanya gedung pencakar langit dan kemacetan — ada sisi-sisi lain yang menunggu untuk dikenali.
Film Kedua: Mulih
Film kedua yang diputar adalah Mulih, sebuah kata dalam bahasa Jawa yang berarti pulang. Film ini ternyata menyentuh banyak lapisan emosi dan pengalaman personal para penontonnya.
Joy, salah satu peserta, merefleksikan film itu dari kacamata seorang anak kecil yang pernah dihantui rasa takut di masa kecilnya.
"Saya belajar bahwa saya ingin menjadi orang tua yang baik, seperti yang ditunjukkan dalam film itu."
Muhammad Abdul, yang akrab disapa Mbah Gencik, menambahkan tafsir yang sederhana namun penuh makna. Baginya, kata mulih bukan sekadar pulang ke rumah, melainkan pulang ke jalan yang baik — sebuah perjalanan spiritual yang tak kalah pentingnya dari perjalanan fisik.
"Mulih itu kembali dan yang dimaksud kembali adalah kembali ke jalan yang baik."
Film Ketiga: Ulat-Ulat Menggeliat
Sesi pemutaran ditutup dengan film Ulat-Ulat Menggeliat, yang membawa nuansa nostalgia tersendiri. Bapak Warih Bayu Wicaksono hadir sebagai pemateri dan berbagi kenangan tentang film tersebut, khususnya tentang mendiang Epik Kusnandar sosok yang kerap membahas makna di balik film itu.
Diskusi: Antara Teknis dan Nilai
Sesi diskusi berlangsung hangat dan produktif. Bapak Imam Bucah membuka dengan catatan kritis: dari ketiga film yang diputar, terdapat beberapa ketidakkonsistenan dalam aspek visual maupun tata musik. Sebuah masukan yang penting, karena konsistensi adalah salah satu tolok ukur kualitas sinematik.
Pak Warih merespons dari perspektif produksi: dalam ranah televisi, kesalahan dalam sebuah film dapat diperbaiki melalui proses editing ulang. Namun lebih dari sekadar teknis, ia menegaskan satu hal yang krusial:
"Dalam film, konsistensi visual adalah sesuatu yang harus dijaga. Tapi jangan takut berekspresi — terutama di festival film."
Pak Imam Bucah menambahkan dimensi lain yang tak kalah penting: niat. Sebuah film harus mampu mengungkap makna yang sesungguhnya, dan untuk itu, proses berlatih tidak boleh berhenti.
"Niat dalam sebuah film harus mengungkap makna sebenarnya. Dan latihan harus berlanjut supaya kita nantinya berhasil dan bisa."
FFAB ke-4 bukan sekadar festival pemutaran film. Ia adalah ruang perjumpaan antara karya dan penonton, antara gagasan dan refleksi, antara pengalaman lama dan semangat baru. Dari Ujung Jakarta yang membuka mata tentang sisi kota yang tak terlihat, Mulih yang mengajak kita pulang ke nilai-nilai terbaik dalam diri, hingga Ulat-Ulat Menggeliat yang mengingatkan bahwa gagasan tak lazim pun bisa menjadi karya yang bermakna setiap film adalah cermin.
Yang tersisa dari malam itu bukan hanya gambar yang bergerak di layar, melainkan sesuatu yang lebih abadi: keyakinan bahwa kreativitas tidak menunggu alat yang sempurna, bahwa belajar tidak mengenal batas, dan bahwa setiap pertemuan seperti ini adalah benih dari perubahan yang lebih besar. Sebagaimana semangat Scene the Unseen kadang, yang paling berharga adalah apa yang belum sempat kita lihat dalam diri kita sendiri.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar