ADA karya sastra yang justru terasa lebih hidup ketika meninggalkan halaman buku. Surti + Tiga Sawunggaling karya Goenawan Mohamad, bagi saya, termasuk di dalamnya. Sebagai novel, karya ini tidak terlalu berhasil: liris, puitis, penuh simbol, tetapi pada banyak bagian seperti terlalu sadar bahwa dirinya sedang ingin menjadi indah. Anehnya, ketika teks itu dibawa Tilik Sarira Creative Process ke panggung, Minggu malam, 4 Oktober 2026, di Studio Teater Djarum Kudus, sesuatu yang sebelumnya terasa jauh mulai mendapatkan tubuhnya.
Barangkali persoalannya memang terletak pada bentuk. Surti + Tiga Sawunggaling berasal dari lakon yang kemudian dikembangkan menjadi novel, sehingga jejak panggung seperti tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Dalam bentuk novel, saya merasa cerita Surti kerap tertahan oleh bahasa yang terlalu sibuk menciptakan suasana dan metafora. Ia indah dibaca pada bagian-bagian tertentu, tetapi keindahan belum tentu membuat sebuah cerita bergerak.
Surti hidup pada Juli 1947, ketika Agresi Militer Belanda I menjadi latar yang menentukan kehidupannya. Ia kehilangan Niken, anak perempuannya, sementara Jen, suaminya yang bergerak sebagai gerilyawan, semakin sering pergi dan akhirnya hadir seperti bayang-bayang. Dalam kesunyian itu Surti membatik tiga Sawunggaling: Anjani, Baira, dan Cawir. Ketiga burung tersebut kemudian berada di antara mimpi, ingatan, dan kenyataan, seolah menjadi anak-anak yang menggantikan sesuatu yang telah direnggut dari hidup Surti.
Di atas kertas, hubungan antara Surti, batik, tiga Sawunggaling, Jen, perang, kehilangan, dan mimpi menghasilkan dunia yang surealis. Masalahnya, simbol-simbol itu terkadang terlalu rapat sehingga pembaca seperti diminta terus-menerus menafsirkan sebelum sempat merasakan. Kesedihan Surti menjadi gagasan tentang kesedihan; perang menjadi ingatan tentang perang; burung menjadi simbol yang meminta diterjemahkan. Novel akhirnya lebih mudah dikagumi bahasanya daripada diguncang peristiwanya.
Panggung mengubah keadaan itu. Tilik Sarira tidak harus menanggung seluruh beban kepuitisan bahasa. Tubuh aktor dapat menggantikan kalimat, bunyi dapat menggantikan penjelasan, sementara diam dapat bekerja lebih panjang daripada metafora. Di sinilah Surti + 3 Sawunggaling memperoleh sesuatu yang menurut saya kurang kuat ketika berada sebagai novel: kehadiran. Kesedihan yang semula berada dalam kalimat kini mempunyai napas, gerak, tatapan, suara, bahkan keringat.

Pilihan memainkan pertunjukan di Studio Teater Djarum juga menjadi keputusan yang tepat. Ruang yang tidak terlalu luas membuat hubungan pemain dan penonton nyaris tanpa perlindungan. Kita tidak berada jauh di balik kegelapan auditorium sambil memandang dunia rekaan di depan sana. Pemain berada begitu dekat sehingga tubuh mereka menjadi bagian dari pengalaman menonton.
Pada jarak semacam itu, detail kecil menjadi penting. Tarikan napas, perubahan tatapan, perpindahan tubuh, bunyi langkah, hingga keheningan dapat diterima penonton tanpa perlu dibesarkan. Pertunjukan tidak mempunyai kemewahan untuk berbohong melalui jarak. Ketika aktor gagal membangun emosi, kegagalan itu akan terlihat; sebaliknya, ketika tubuh aktor benar-benar hidup, penonton hampir tidak mempunyai tempat untuk menghindar.
Pertunjukan juga beberapa kali membangun atmosfer melalui bunyi yang datang seperti serangan. Ada kejutan yang cara kerjanya menyerupai jump scare: suara mendadak memecahkan ketenangan dan membuat tubuh penonton spontan bereaksi. Kita terkejut, menjadi waspada, kemudian diam-diam menunggu kemungkinan serangan bunyi berikutnya. Tubuh penonton akhirnya ikut dimainkan.
Tetapi di situlah muncul pertanyaan: sampai sejauh mana kejutan bunyi dibutuhkan? Jika terlalu sering dipakai, ketegangan dapat berubah menjadi formula. Penonton bukan lagi takut atau gelisah karena dunia Surti, melainkan karena telah belajar bahwa sebentar lagi mungkin ada suara keras. Ketakutan yang seharusnya lahir dari kehilangan, perang, dan ketidakpastian hidup berisiko digantikan refleks tubuh yang sifatnya sesaat.
Padahal kekuatan terbesar cerita Surti sebenarnya bukan pada kejutan. Ia berada pada kecemasan seseorang yang tidak tahu apakah orang yang dicintainya masih akan pulang. Ada perang di luar rumah, tetapi ada perang lain yang berlangsung jauh lebih senyap di dalam dirinya. Tiga Sawunggaling kemudian menarik karena mereka dapat dibaca bukan sekadar sebagai burung ajaib, melainkan sebagai cara Surti bertahan dari kehilangan.
Di titik inilah pertunjukan menurut saya berhasil memperbaiki kelemahan novel. Sesuatu yang dalam novel terasa terlalu liris mendapatkan dagingnya di panggung. Simbol tidak lagi hanya meminta ditafsirkan karena ia bergerak di depan mata. Teater seperti menyelamatkan cerita dari kecenderungan teksnya sendiri untuk terlalu menikmati kata-kata.
Namun penyelamatan itu belum sepenuhnya selesai. Ada jarak lain yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan mendekatkan kursi penonton kepada pemain. Surti hidup pada 1947, sementara kami menontonnya pada 2026. Hampir delapan dekade memisahkan pengalaman perang dalam cerita dengan pengalaman keseharian penonton hari ini. Dan menurut saya, justru jarak sejarah inilah yang sesekali masih terasa menganga.
Secara fisik kami sangat dekat dengan pemain, tetapi secara historis kami belum tentu dekat dengan Surti. Kami dapat melihat wajahnya, mendengar suaranya, bahkan mungkin mendengar napasnya, tetapi apakah kami sungguh merasakan ketakutan seorang perempuan yang hidup ketika perang dapat mengambil suami, anak, rumah, dan masa depan kapan saja? Pertunjukan sudah menghapus jarak panggung, tetapi belum selalu berhasil menghapus jarak zaman.
Ini persoalan menarik dalam mementaskan karya berlatar sejarah. Sejarah tidak cukup dihadirkan sebagai tahun, kostum, perang, atau nama peristiwa. Ia perlu menemukan pintu menuju kegelisahan manusia hari ini. Tanpa pintu tersebut, sejarah mudah menjadi sesuatu yang kita hormati tetapi tidak benar-benar kita alami.
Mungkin karena itulah sampai pertunjukan berakhir saya merasa tubuh penonton tetap tenang di tempatnya. Kedekatan ruang tidak otomatis menghasilkan kedekatan pengalaman. Kita berada hanya beberapa langkah dari peristiwa, tetapi beberapa kali terasa masih menjadi orang yang mengamati Surti dari tahun 2026. Panggung sudah intim, sementara sejarahnya belum sepenuhnya intim.
Meski demikian, justru di situlah Surti + 3 Sawunggaling menarik untuk dibicarakan setelah lampu pertunjukan padam. Ia menunjukkan bahwa adaptasi tidak harus tunduk kepada karya asalnya. Teks sastra bukan kitab suci yang setiap kalimatnya wajib diselamatkan; sutradara dan aktor berhak mencurigainya, membongkarnya, bahkan memperbaiki bagian-bagian yang tidak bekerja ketika dipindahkan ke medium lain. Kesetiaan paling penting dalam adaptasi mungkin bukan kesetiaan kepada kalimat, melainkan kepada kemungkinan pengalaman yang tersembunyi di belakangnya.
Saya tidak terlalu menyukai Surti + Tiga Sawunggaling sebagai novel. Tetapi pertunjukan Tilik Sarira membuat saya melihat bahwa di balik novel yang menurut saya kurang berhasil itu ternyata tersimpan bahan teater yang kuat. Tubuh, bunyi, jarak, dan keheningan mengerjakan sesuatu yang tidak selesai dikerjakan kata-kata. Panggung, dengan caranya sendiri, telah melakukan kritik terhadap novel sekaligus menyelamatkannya.
Dan mungkin itulah salah satu kegunaan terbaik teater: ia tidak sekadar memindahkan sastra ke atas panggung. Ia menguji apakah kata-kata masih mempunyai nyawa ketika berhadapan dengan tubuh manusia. Surti + 3 Sawunggaling membuktikan sebagian darinya, meskipun masih menyisakan pekerjaan untuk mendekatkan 1947 kepada 2026. Sebab sebuah panggung boleh hanya berjarak beberapa sentimeter dari kursi penonton, tetapi sejarah kadang masih berjarak puluhan tahun dari tubuh kita. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar