DEMAK – Persoalan banjir rob yang terus mengikis ruang hidup dan merenggut masa depan masyarakat pesisir Demak kini diangkat ke atas panggung teater. Melalui pementasan monolog bertajuk Ya, Rob, komunitas Teater Simpul menyuarakan kegelisahan ekologis dan krisis kemanusiaan tersebut di Sasana Citra Alam, Minggu (1/11/2026). Pementasan ini sekaligus menjadi milestone penting bagi pembentukan ekosistem seni pertunjukan di Kabupaten Demak.
Ditulis dan disutradarai oleh Agung Widodo, pertunjukan ini memproyeksikan banjir rob bukan semata bencana alam musiman, melainkan persoalan eksistensial tentang hilangnya tanah kelahiran, ingatan kolektif, dan identitas warga pesisir Demak bagian barat.
Semar dan Buto: Simbolisme Perjuangan Ruang Hidup
Dalam pementasan yang disaksikan puluhan penonton dari kalangan seniman hingga masyarakat umum tersebut, aktor tunggal Zein Arsyad memerankan berbagai karakter sekaligus. Berbekal eksplorasi tubuh, ekspresi, tata artistik, dan musik, Zein menjadi medium yang menghidupkan banyak suara dalam satu raga.
Suasana emosional dibangun sejak awal pementasan ketika sosok Semar muncul dari arah belakang penonton. Sebagai representasi kebijaksanaan dan ingatan lokal, Semar digambarkan terasing di tanahnya sendiri akibat kepungan air laut. Sementara itu, sosok Buto hadir sebagai alegori dari kekuatan besar yang harus dihadapi masyarakat dalam mempertahankan ruang hidup mereka.
"Kegelisahan kami berangkat dari kehidupan sehari-hari masyarakat Demak bagian barat yang sudah sangat dekat dengan persoalan rob. Dari situ, kami mencoba mengemasnya menjadi sebuah pertunjukan yang lebih epik dan simbolik," ujar Agung Widodo, Senin (2/11/2026).
Mendorong Embrio Ekosistem Teater Lokal
Di luar pesan lingkungan yang diusungnya, pementasan Ya, Rob memiliki posisi strategis bagi tumbuh kembang seni di Demak. Sebagai komunitas yang relatif baru, Teater Simpul berupaya menjadikan ruang pertunjukan ini sebagai laboratorium kreatif tempat para seniman lokal bertemu, belajar, dan berkolaborasi.
Zein Arsyad menegaskan pentingnya keberadaan ruang ekspresi seni bagi masyarakat, khususnya generasi muda, agar berani menyuarakan gagasan sosial melalui bahasa panggung.
"Harapan kami, Ya, Rob bisa menjadi embrio bagi tumbuhnya geliat teater di Demak. Semakin banyak orang yang berani berkarya, membangun komunitas, dan menciptakan ruang pertunjukan," tutur Zein.
Menuju Panggung Kudus dan Ruang Refleksi Bersama
Perjalanan karya artistik-ekologis ini tidak berhenti di Demak. Teater Simpul dijadwalkan kembali mementaskan Ya, Rob di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) pada 13 November 2026 mendatang.
Melalui tur pementasan ini, Ya, Rob tidak sekadar hadir sebagai tontonan estetis, melainkan sebuah ruang refleksi kritis. Sebab di balik limpasan air rob yang tak kunjung surut, ada kisah ketangguhan manusia yang terus berjuang mempertahankan rumah, tanah kelahiran, dan martabat hidup mereka.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar