Membaca mentas.id, saya menabur sedikit harapan untuk mendapat siraman tulisan perihal berbagai wacana dan kerja-kerja kebudayaan yang semoga memenuhi kebutuhan mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Namun kali ini ada kesan yang berbeda. Ada tiga tajuk tulisan memuat kata kunci yang sama: Pemuda B. Ya, "Pemuda B". Bukan Pemuda E yang ditulis Dea Anugrah dalam cerpen 'Kemarahan Pemuda E' (oh ya silakan cerpennya dibaca. Bagus!).
Cerita panjangnya, di Kudus, 9 Mei 2026 sekitar pukul 19.00 WIB di Auditorium Universitas Muria Kudus sedang dihelat pementasan teater oleh guru MGMP Bahasa Indonesia dan pemutaran film dokumenter Gadis Pingitan oleh Sakakarsa Pictures.
Nah si Pemuda B muncul sebagai anomali (meski saya yakin penampilannya tak akan mirip dengan tung tung tung sahur yang dimanifestasikan sebagai anomali oleh anak-anak usia 5-10 tahun saat ini).
Cerita lebih panjangnya bermula dari tulisan Elang Ade Iswara yang berjudul 'Patologi Kebebalan di Lantai Dua: Surat Terbuka untuk Oknum Teater'.
Dalam tulisan ini, Elang mencontohkan standar dalam menulis sebuah prosa. Alur linear, penggambaran latar, dialog yang disusun dengan sabar menjadi kunci berkembangnya cerita.
Tapi harus diakui seharusnya pengembangan karakter Elang bisa lebih detail dengan demikian pembaca akan lebih tergugah untuk memberondong Pemuda B dengan kata-kata 'krama' sebagai bukti cerita yang bagus akan meninggalkan dampak dan kesan.
Boleh saja digambarkan Pemuda B berambut cepak ABRI, suaranya lantang atau melengking, mengenakan sepatu canva, sambil menenteng totebag lusuh hasil meminjam kelamaan. Hal ini memaksa Pemuda B memancarkan ideologi dan haluan kesenian macam apa yang dianut sampai layak menjadi tokoh utama menyaingi pentas dan film yang ditayangkan.
Saya bertanya mengapa hal itu tak dilakukan? Apa karena ini kisah nyata? Ah tak ada nama terang, semestinya tak masalah. Di samping kekurangan itu, Elang tetap menulis prosa yang rapi dan layak menjadi standar acuan paling awal dalam menulis.
Andai saya adalah Guru MGMP yang pentas malam itu, tanpa ragu tulisan Elang wajib dicantumkan dalam modul pembelajaran Bahasa Indonesia setidaknya untuk murid-murid mereka sendiri.
Cerita panjang Elang tadi rupanya cukup di jemarinya saja. Sebab jemari lain, yaitu Afif Khoiruddin Sanjaya memilih menulis catatan yang seakan memeluk tulisan Elang yang menggebu dan penuh kemarahan itu. Ini bukan romantisisasi, melainkan empati. Melalui judul 'Teater Menghasilkan Mereka yang Bebal dan Beban', Afif tak lagi menyentuh Pemuda B.
Ini mengingatkan saya dengan potongan dialog dalam serial 'Ted Lasso' yang berbunyi 'be curious, not judgemental'. 'Jadilah ingin tahu, bukan menghakimi'. Begitulah dalam bahasa Indonesia. Kutipan ini selaras dengan tulisan Afif yang mencoba menggali letar belakang terbentuknya individu seperti Pemuda B.
Kebebalan Pemuda B seperti yang dijelaskan Afif, tidak terbentuk dengan sendirinya. Ada semacam miskonsepsi pola asuh lingkungan 'ke-teater-an' yang secara tidak langsung dilanggengkan. Dan barangkali juga memaksa kita memikul beban pertanyaan: Jangan-jangan kita-kita ini juga bertanggung jawab atas miskonsepsi ini?
Upaya Afif menyelami ironi Pemuda B tak akan sepenuhnya menghindarkan adanya penghakiman. Dan sekarang penghakiman itu saya kira tak hanya mengarah ke Pemuda B.
Setelah Elang dan Afif, masih ada Imam Khanafi yang ikut andil sebagai fragmen yang melengkapi trilogi Pemuda B ini. Secara lugas lewat tulisan 'Pemuda B, Genealogi Kebebalan dan Krisis Adab dalam Ekosistem Teater Kudus' menghadirkan sabda berbagai tokoh.
Jean Baudrillard, Clifford Geertz, Jerzy Grotowski, Antonin Artaud, adalah nama-nama yang kurang familiar di telinga saya ia sebutkan dalam tulisannya. Menyenangkan sekaligus membuat saya merasa kurang cerdas ketika membacanya. Imam memang merasa perlu mengajak pembaca masuk ke pustaka di kepalanya.
Imam ingin kita sadar bahwa fenomena Pemuda B seperti kanker (berlebihan? Sudah saya duga, baca kalimat setelah ini). Kita paham apa penyebabnya, data-data empiris sudah ada, tapi kita menolak untuk mengakuinya demi ketentraman (dan marwah?).
Baik Elang, Afif, Imam, tulisan mereka merupakan trilogi jika berdiri sendiri. Namun melihat adanya kesinambungan antar tiga karakter penulisan yang berbeda sedikitnya memberi saya ruang prasangka adanya niat kolaborasi yang terstruktur dan sistematis tentu saja. Tapi saya akan memilih opsi 'kebetulan' sebab prasangka saya memang terdengar absurd.
Ada kesan yang tendensius (semacam sanksi sosial mungkin?) dalam trilogi ini. Peristiwa Pemuda B tak akan ada tanpa pentas MGMP dan dokumenter Gadis Pingitan. Saya yakin dua menu utama itu tetap harus mendapat sorotan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Dan saya yakin pula ketiga penulis ini sadar betul. Semoga ketiganya berkenan mencerahkan kepada saya tentang hal ini.
Sebab ada potensi kerja keras dan kreativitas orang-orang dibalik perayaan kesenian terlewat begitu saja. Dan saya berharap potensi semacam itu tak pernah ada.
Terima kasih kepada Elang, Afif, Imam yang mau repot-repot mengingatkan kita perihal Pemuda B dengan cara yang ciamik.
Tabik.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar