Sejujurnya, saya adalah "orang luar" di lingkaran ini. Berangkat dari latar belakang Pendidikan Agama Islam (PAI), saya merasa seperti seseorang yang tiba-tiba ketiban sampur: mendapat amanah di sebuah panggung yang awalnya terasa asing. Menghadapi tanggung jawab besar sebagai sutradara dalam proyek kreatif MGMP Bahasa Indonesia ini adalah sebuah kejutan, namun bagi saya, tantangan adalah bahan bakar. Saya mengambil peran itu bukan karena merasa paling ahli, melainkan karena saya mencintai proses penemuan yang ada di dalamnya.
Lakon Gadis Pingitan bermula dari naskah awal milik Bu Dian Guru Bahasa Indonesia SMP 1 Dawe. Namun, ketika naskah itu berpindah ke tangan saya, tanggung jawab sutradara menuntut saya untuk "menelan" ceritanya lebih dalam. Saya mulai melakukan navigasi batin, menenggelamkan diri dalam observasi, membedah bacaan film, dan menelusuri jejak-jejak sejarah dari mereka yang pernah hidup dalam kungkungan tradisi pingitan. Bersama kawan diskusi, naskah itu saya bedah dan saya kembangkan ulang. Saya ingin membawa penonton melampaui sekadar dialog; saya ingin mereka merasakan denyut nadi sebuah zaman.
Dalam visi saya, panggung harus menjadi ruang yang "berbicara". Saya membayangkan rumah Kudus di kawasan Langgar Dalem sebagai laboratorium emosi. Setiap jengkal bangunan sengaja saya rancang untuk menjadi batas gerak. Lihatlah gerbang yang tinggi menjulang dengan pintu kupu tarung yang terbuka ke dalam; itu adalah simbol keramahan yang sekaligus memenjara. Ada jendela kecil berukuran 60x80 cm dengan jeruji kayu, satu-satunya celah bagi seorang gadis untuk menatap dunia luar saat petang menjelang, ketika sayup-sayup suara pemuda yang pergi mengaji terdengar dari kejauhan. Bahkan bancik atau undak-undakan rumah saya hadirkan sebagai penanda etika, di mana setiap tamu yang datang dipaksa merunduk, sebuah bentuk penghormatan sekaligus penyerahan diri pada kuasa ruang tersebut.
Di dalam rumah itu, kita bertemu dengan Haryuni. Ia adalah potret diskriminasi yang nyata. Ayahnya, seorang buruh pengrajang tembakau, mewakili dinding kokoh adat yang tak bisa dinegosiasi. Ibunya, penjual jamu yang sibuk menyulam di waktu senggang, terjepit dalam dilema antara ketaatan dan kasih sayang. Melalui alur flashback yang maju-mundur, saya mencoba memotret akar pemberontakan Haryuni yang sudah tumbuh bahkan sebelum ia balig.
Salah satu fragmen yang paling saya resapi adalah saat Haryuni kecil ingin ikut bermain jaranan, kuda-kudaan dari debog pisang. Kuda adalah kendaraan tempur laki-laki, simbol maskulinitas garis depan. Namun, Haryuni dilarang ikut. Ia dipaksa kembali ke belakang, ke arah pawon (dapur), tempat yang dianggap sebagai penjaga marwah perempuan agar tetap tersembunyi. Dari sinilah isu emansipasi itu saya letakkan: seorang anak perempuan yang merasa kebebasannya direnggut oleh kehendak orang tua yang kaku.
Pada akhirnya, saya mempertemukan Haryuni Tua dan Haryuni Muda dalam satu bingkai penyesalan. Berdasarkan observasi saya, nasib gadis pingitan hanya punya dua muara: mereka yang manut lalu menikah, atau mereka yang melawan namun harus menanggung beban menjadi perawan tua.
Saya sengaja membiarkan akhir cerita ini menggantung, seperti kabut tipis di langit Kudus. Sebagai sutradara, saya ingin penonton membawa pulang kegelisahannya sendiri. Biarlah mereka memaknai malam itu sebagai renungan tentang pola asuh orang tua, keteguhan adat yang menjeruji, atau mungkin tentang harga mahal yang harus dibayar demi sebuah kemerdekaan diri.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar