Cerita tentang bagaimana perempuan nampak di bawah cahaya panggung proscenium, bunyi seperti terbangan mengalun seperti suara yang tertahan, seolah mengajak kita masuk ke dalam lanskap kultur masyarakat tertentu. Dan saya duduk sebagai penonton yang tanpa sadar sedang belajar tentang diri sendiri.
Gadis Pingitan garapan MGMP Bahasa Indonesia di bawah sutradara Dono mungkin bukan semata apa yang terjadi di atas panggung, melainkan apa yang terjadi di antara panggung dan penonton. Ada jarak yang tidak pernah sepenuhnya tertutup di sana. Jarak antara niat penggarap, simbol yang ditampilkan, dan cara penonton menerimanya.
Di dalam jarak itulah sesuatu yang lebih kritis bekerja: bisikan-bisikan dari kalangan masyarakat yang coba ditangkap, diwakilkan, dan ditafsirkan ulang oleh tangan penggarapnya. Pertanyaannya kemudian melebar tentang apakah pertunjukan ini berhasil menyampaikan sesuatu, melainkan seberapa setia tafsiran itu terhadap suara yang hendak diwakilinya.
Sebelum ngomongin pertunjukannya, saya ngerasa perlu nanya dulu ke diri sendiri: emang pingitan itu apa?
Pingitan
Saya pernah dengar kata itu, tapi nggak bener-bener mikirin. Ternyata pingit itu artinya kurang lebih "disembunyiin" atau "dijauhkan dari pandangan luar." Dan tradisi ini bukan cuma soal calon pengantin yang nggak boleh keluar seminggu sebelum nikah, dan ternyata dulu, pingitan bisa dimulai sejak seorang cewek akil balik. Sejak dia mulai "dianggap perempuan" oleh masyarakatnya.
Yang bikin saya berhenti sejenak adalah ini: yang mengatur masa peralihan itu bukan si perempuannya sendiri. Tapi keluarganya, komunitasnya. Tubuhnya, ruang geraknya, dengan siapa dia boleh ketemu dan semua diatur orang lain. Dan itu dianggap normal, bahkan sakral.
Saya nggak langsung bisa bilang itu dalam kerangka hitam putih. Tapi saya juga nggak bisa bilang itu biasa-biasa aja.
Priyayi
Perempuan dari keluarga priyayi — bangsawan, orang yang punya jabatan, keluarga yang namanya dikenal sering menanggung beban pingitan yang lebih berat.
Bukan karena mereka lebih "dijaga," tapi karena kehormatan keluarganya ikut dipertaruhkan lewat tubuh dan perilaku mereka. Cara mereka jalan, cara mereka ngomong, ke mana mereka pergi semua itu dianggap mencerminkan nama besar keluarga. Semakin terkenal keluarganya, semakin sempit ruang gerak perempuannya.
Dan ini yang bikin saya sadar: kelas sosial itu kerja dua arah. Di satu sisi kamu dikasih lebih banyak akses, sekolah yang lebih bagus, relasi yang lebih luas. Tapi di sisi lain, ekspektasinya juga lebih berat. Sangkarnya lebih ketat, justru karena namamu terlalu besar untuk diabaikan.
Pilihan Artistik dari Tradisi yang Ditafsirkan Ulang
Salah satu bagian yang membekas buat saya adalah waktu jaran kepang muncul. Dalam kebudayaan Jawa, jaran kepang itu identik dengan kesurupan, tubuh yang dirasuki, kendali yang bukan lagi milik orangnya sendiri. Dalam konteks Gadis Pingitan, saya langsung nangkep: ini gambaran dunia yang bergerak bukan karena kemauannya sendiri, tapi karena kekuatan lain yang ngatur.
Tapi saya juga nyadar, dan ini yang bikin saya agak resah bahwa nggak semua penonton malam itu nangkapnya begitu. Ada yang kayaknya cuma menikmati visualnya. Eksotis, artistik, indah. Dan itu sah-sah aja sih. Tapi kalau kita cuma nikmatin estetikanya tanpa nanya kenapa, kita malah jadi meromantisasi sesuatu yang harusnya bikin kita gerah.
Saya juga penasaran: riset budayanya seberapa dalam? Apakah penggarap beneran menggali cerita dari masyarakat yang hidup dengan tradisi ini, atau lebih banyak dari cara pandang penggarapnya sendiri? Itu pertanyaan yang adil, saya rasa.
Paradoks Voyeurisme
Di malam itu saya seperti nonton perempuan di atas panggung menanggung sesuatu yang berat. Lampu bikin lukanya kelihatan artistik. Musik bikin sedihnya terdengar puitis. Dan di akhir pertunjukan, saya ikut tepuk tangan.
Setelah itu saya pulang. Dan di jalan pulang itu saya mulai nanya ke diri sendiri, emang tadi nonton apa? Cerita tentang perjuangan dan pemberontakan yang getir, yang sudah dikemas jadi pengalaman estetis yang bisa dinikmati bareng-bareng. Lalu kita pulang, ngerasa udah "peduli," dan besok paginya hidup normal lagi.
Apakah kita jadi lebih berani mempertanyakan sesuatu setelah itu? Atau cukup nonton sudah terasa cukup?
Etika yang Dipertontonkan
Satu hal lagi yang saya pikirin: saya nggak mau langsung memutuskan semua yang ada di balik tradisi pingitan. Pasti ada rasa sayang di baliknya. Ada orang tua yang genuinely khawatir, yang genuinely pengen anaknya terjaga. Itu bukan niat jahat. Dan saya nggak mau berpura-pura semua itu nggak ada.
Tapi niat baik bukan jaminan hasilnya baik. Kalau perlindungan akhirnya berubah jadi kontrol, kalau seseorang dinilai dari seberapa patuh dia sama aturan yang orang lain buat, dan itu perlu dipertanyakan. Kenapa hanya perempuan yang dipingit? Kenapa laki-laki bebas menjalani harinya seperti biasa di waktu yang sama? Pertanyaan itu kedengarannya simpel, tapi jawabannya nggak simpel sama sekali.
Penggarapnya mungkin berupaya menjawab semuanya lewat satu pertunjukan. Dan itu bukan hal yang mudah. Tapi yang saya rasakan setelah itu bukan jawaban, lebih ke pertanyaan yang ikut pulang bersama saya.
Di dalam ruangan itu, ada yang berbisik bahwa ceritanya nggak sesuai dengan pengalaman kulturnya sendiri. Ada juga yang ngangguk setuju, merasa itu relevan dengan cara pikir hari ini. Dua-duanya ada, dan dua-duanya valid.
Apakah bisikan-bisikan protes yang coba diwakili pertunjukan ini beneran sampai ke orang yang harusnya mendengar? Atau cuma beredar di antara penonton yang memang udah punya pemahaman tentang pingitan sebelum masuk ke gedung, dari kampung halamannya, dari buku yang pernah dibaca, dari cerita neneknya?
Apakah teater malam itu jadi tempat merenung yang nyata? Atau sekadar tempat kegelisahan sosial dikemas jadi tontonan, lalu pulang bersama tiket yang udah disobek di pintu masuk? Saya nggak punya jawabannya.
Yang saya tahu: saya rasa semua orang pernah punya keinginan bebas, bukan bebas dari ruangan, tapi bebas dari cara pandang orang lain yang mencoba mendefinisikan hidupnya. Dan pertanyaan itu, kayaknya, belum selesai-selesai juga sampai sekarang.
Akhirnya, yang sebenarnya dijaga dari tradisi pingitan dalam berbagai tafsirya yang terus bergeser dan bernegoisasi itu perempuannya? Atau kekhawatiran kita sendiri terhadap sesuatu yang terlalu bebas untuk kita pahami?
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar