Ada momen yang sulit saya lupakan dari beberapa hari mengamati FLS3N. Peserta pantomim berdiri di tengah panggung, membuka pintu imajiner dengan akurasi yang bagus, mengibarkan bendera yang tidak ada, lalu masuk ke adegan selanjutnya. Semuanya bersih. Semuanya benar. Dan ketika ia selesai, yang tersisa bukan residu emosi yang ia coba sampaikan, melainkan pertanyaan yang agak merisaukan: apakah tadi pertunjukan, atau demonstrasi? Saya tidak tahu apakah peserta itu merasakan sesuatu ketika tampil. Tapi saya tahu bahwa tubuhnya sedang mengerjakan sesuatu yang berbeda dari mengalami, tubuhnya sedang membuktikan.
Sebelum saya melanjutkan, saya perlu meletakkan satu pengakuan di sini: ini adalah perlombaan tingkat pelajar yang diselenggarakan negara. Dan itu bukan detail kecil.
Ada argumen yang sangat masuk akal untuk membela standardisasi di tingkat ini. Siswa sedang dalam fase membangun fondasi. Sebelum seseorang bisa memilih untuk menyimpang dari konvensi, ia harus tahu dulu konvensi itu ada. Rubrik yang ketat bisa dibaca sebagai scaffolding pedagogis, struktur yang membantu peserta memahami grammar dasar seni pertunjukan sebelum mereka bebas bereksperimen. Saya tidak menolak argumen itu sepenuhnya. Yang saya persoalkan adalah sesuatu yang lebih spesifik: apa yang terjadi ketika scaffolding tidak pernah dibongkar?
Ketika struktur yang seharusnya sementara itu diperlakukan seolah tujuan akhir, bukan oleh peserta, tapi oleh sistem yang menilai mereka?
Inilah yang paling mengganggu saya selama proses berlangsung: bukan soal kualitas teknis yang rendah, melainkan sebaliknya. Kualitas teknis banyak peserta justru meningkat signifikan.
Gesture lebih tertata, blocking lebih aktif, transisi lebih lancar. Tapi di balik semua itu, ada kesan aneh, seolah panggung telah berubah menjadi formulir yang harus diisi dengan benar, bukan ruang di mana sesuatu sungguh-sungguh terjadi.
Teknik bukan hambatan. Teknik adalah bahasa.
Etienne Decroux menghabiskan puluhan tahun mendisiplinkan tubuh justru agar ekspresi bisa lahir dari sesuatu yang sungguh-sungguh dikuasai. Jacques Lecoq membangun seluruh pedagoginya di atas gagasan bahwa kebebasan artistik hanya mungkin setelah tubuh benar-benar mengenal batas-batasnya sendiri. Tapi ada perbedaan antara belajar bahasa dan belajar berbicara hanya untuk memperlihatkan bahwa kamu fasih. Di sinilah perlombaan mulai menggeser orientasi peserta dan bahkan peserta yang masih dalam tahap belajar: dari apa yang ingin saya hadirkan menjadi apa yang harus saya tampilkan agar nilai saya aman.
Dan orientasi itu, kalau dibentuk sejak dini, tidak mudah dilepas kemudian.
Tanda yang paling kasatmata dari dinamika ini adalah gaya berjalan. Hampir semua peserta pantomim berjalan dengan cara yang sama: lutut sedikit ditekuk, langkah menapak dari ujung kaki, kepala tegak, tangan mengikuti ritme tubuh secara simetris. Gaya berjalan ini bukan salah, ia adalah konvensi dasar mime yang memang lazim diajarkan sebagai titik masuk.
Tapi ketika seluruh peserta dengan latar belakang pelatihan yang berbeda, menampilkan gaya berjalan yang seragam, sesuatu yang lebih besar sedang terjadi: tubuh tidak lagi berjalan sebagai karakter, melainkan berjalan sebagai peserta lomba yang tahu apa yang benar untuk dinilai. Ketegangan ini semakin jelas ketika kita bayangkan peserta yang memasukkan elemen popping ke dalam pertunjukan pantomimnya. Popping adalah teknik isolasi tubuh berbasis kontraksi muskular yang presisi, secara teknis ia berbagi logika yang sangat dekat dengan mime: tubuh sebagai medium ilusi, kontrol sebagai kosakata. Pada tingkat pelajar, penggunaan popping dalam pantomim bisa berarti dua hal yang sangat berbeda: peserta yang sungguh-sungguh memahami kedua tradisi dan memilih menggabungkannya secara sadar, atau peserta yang terbiasa dengan satu idiom dan tidak menyadari bahwa ia sedang bermain api dari konvensi lomba.
Bedanya penting, dan tidak selalu mudah dibaca dari panggung.
Tapi yang menarik bukan pertanyaan apakah pilihan itu benar atau salah secara teknis. Yang menarik adalah bagaimana sistem meresponsnya. Hampir pasti pertanyaan yang muncul bukan mengapa peserta ini memilih teknik ini? melainkan apakah ini masuk kategori pantomim? Pertanyaan yang terdengar teknis, tapi sesungguhnya adalah pertanyaan politis: apakah kamu bermain di dalam batas yang sudah kami tetapkan? Dan pelajar muda sangat pandai membaca pesan semacam itu.
Persoalan yang sama, dengan wajah yang berbeda, juga hadir dalam lomba dongeng. Di sana, salah satu kriteria yang kerap muncul dalam rubrik adalah blocking, bagaimana pendongeng memanfaatkan ruang panggung, membangun perpindahan posisi, dan mengelola tubuhnya secara teatrikal. Pada permukaan, ini terdengar wajar. Tapi saya ingin mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: apa sebenarnya dongeng, dan apakah blocking adalah bahasa yang tepat untuknya? Blocking adalah instrumen teater. Lahir dari kebutuhan untuk mengatur posisi dan pergerakan aktor dalam hubungannya dengan ruang, cahaya, dan aktor lain. Fungsinya struktural, melayani pertunjukan yang bersifat teatrikal, di mana tubuh adalah medium utama penceritaan. Tapi pendongeng bukan aktor. Ia adalah narrator, seseorang yang memanggil dunia melalui suara dan imajinasi pendengar, bukan yang mewujudkannya secara fisik di atas panggung. Tradisi mendongeng di berbagai budaya, dari Griot Afrika Barat hingga dalang, justru bertumpu pada otoritas naratif yang lahir dari kehadiran yang tenang: pendengar datang ke suara, bukan ke tubuh.
Yang memiliki blocking sebagai bahasa utamanya adalah monologue, satu performer yang mewujudkan karakter secara teatrikal, di mana staging dan pergerakan adalah bagian dari konstruksi makna.
Lalu apa bedanya dongeng dengan monolog, kalau keduanya kemudian dinilai dengan kriteria yang sama?
Pertanyaan ini bukan soal mana yang lebih tinggi nilainya. Ini soal apakah juknis secara diam-diam sedang mendefinisikan ulang dongeng sebagai monolog tanpa menyebutnya demikian, tanpa perdebatan, dan tanpa disadari oleh siapapun yang menulis rubriknya. Sebab kalau pendongeng dinilai dari seberapa aktif ia berpindah posisi dan seberapa teatrikal tubuhnya bergerak, maka yang diajarkan bukan mendongeng, yang diajarkan adalah akting dengan nama yang berbeda. Akibatnya, peserta yang mendongeng dengan cara yang lebih dekat pada tradisi lisan, duduk, tenang, bertumpu pada suara dan jeda akan tampak "kurang menguasai panggung." Bukan karena ia gagal mendongeng, melainkan karena ia tidak cukup berakting. Juknis lomba dirancang agar penilaian bisa dipertanggungjawabkan, kebutuhan administratif yang sah untuk skala nasional. Tapi ada konsekuensi yang sering luput dibicarakan: indikator yang dibuat agar mudah diukur cenderung menjadi satu-satunya hal yang dilatih.
Kemungkinan dikoreksi
Di sinilah saya merasa perlu meminjam satu gagasan dari Karl Popper, bukan sebagai ornamen filosofis, melainkan karena memang relevan secara analitis. Popper berargumen bahwa sistem pengetahuan yang sehat adalah sistem yang selalu terbuka untuk difalsifikasi: ia harus menyertakan mekanisme di mana ia bisa terbukti salah. Sistem yang tidak bisa difalsifikasi bukan berarti benar, ia hanya berarti tertutup dari kemungkinan dikoreksi.
Rubrik perlombaan seni khusunya negara bekerja persis seperti sistem yang tidak bisa difalsifikasi. Ia mendefinisikan apa itu "pantomim yang baik" dan "dongeng yang hidup", lalu menilai semua penampilan berdasarkan definisi itu. Tapi tidak pernah ada mekanisme sebaliknya: tidak ada cara bagi sebuah penampilan yang menyimpang dari rubrik untuk membuktikan bahwa rubriknya yang perlu dipertanyakan. Penyimpangan selalu dibaca sebagai kesalahan teknis. Akibatnya, rubrik tidak pernah belajar. Ia hanya terus mengonfirmasi dirinya sendiri.
Ini bukan kritik terhadap individu yang menulis juknis. Ini adalah kritik terhadap struktur yang tidak pernah membangun mekanisme untuk mempertanyakan dirinya sendiri dan dalam seni, struktur seperti itu adalah yang paling berbahaya.
Masalah lain yang saya perhatikan ada di luar panggung: tidak ada percakapan.
Setelah setiap penampilan, peserta pergi membawa angka. Tidak ada ruang menceritakan apa yang sebetulnya ingin mereka sampaikan. Proses berlangsung dalam keheningan sepihak atau kasak kusuk semata. Ini bukan hanya soal transparansi. Ini soal apakah kompetisi ini benar-benar berfungsi sebagai pengalaman pendidikan, atau sekadar seleksi. Kalau tujuannya hanya seleksi, model yang ada mungkin sudah cukup. Tapi kalau tujuannya adalah menumbuhkan seniman muda, maka angka tanpa dialog adalah cara yang sangat miskin untuk mencapainya. Dan pertanyaan "setelah menang, lalu apa?" menurut saya adalah yang paling belum dijawab oleh ekosistem perlombaan yang diselenggarakan oleh negara. Tidak ada program lanjutan, tidak ada laboratorium kreatif, tidak ada komunitas yang benar-benar di dukung untuk merawat perkembangan pemenang setelah trofi dibawa pulang.
Kemenangan menjadi titik akhir, bukan titik awal. Saya tidak membawa solusi yang rapi dari refleksi ini. Mengubah juknis adalah urusan institusi yang prosesnya panjang dan berlapis. saya keluar dari pengalaman ini dengan harapan bahwa percakapan semacam itu perlu dimulai , bukan untuk menolak kompetisi, bukan untuk menganggap teknik sebagai musuh, melainkan untuk mempertanyakan apakah kompetisi seni pelajar kita dirancang untuk melahirkan generasi yang mahir membaca selera sistem, atau generasi yang punya keberanian artistik untuk mempertanyakannya. Karena dalam seni pertunjukan, pertanyaan yang lebih menakutkan dari "apakah tekniknya benar?" adalah : Apakah ada sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi di atas panggung itu? Dan sampai kita mulai menilai dari sana, saya khawatir jawabannya akan semakin sering: tidak.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar