Pertunjukan teater dan penayangan dokumenter Gadis Pingitan oleh teman-teman MGMP Bahasa Indonesia dan Saka Karsa Pictures sudah selesai. Namun keriuhan soal pemuda B, teknis dan diskursus pasca-produksi itu masih saja bergema.
Tentu ini jadi semacam keberhasilan, setidaknya membuat orang-orang yang berada di Gedung Auditorium UMK malam itu, juga orang-orang yang kepo soal apa, siapa dan mengapa pemuda B itu 'penting' untuk dibicarakan.
Lagi-lagi, obrolan teater ketiga itu setidaknya memantik mereka yang sebelumnya tak acuh dengan teater makin penasaran.
Bisa dibilang pentas pada Sabtu malam, 9 Mei 2026 itu sukses, atau setidaknya berhasil membuat partisan yang hadir rela antre hingga depan rektorat kampus.
Jujur, ini pertama kalinya saya melihat pertunjukan teater di Kudus sebanyak itu. Entah karena kehadiran pejabat yang mengaku penggagas ide, sedikit pemaksaan supaya siswa dan guru menonton karena pentas ini diproduksi guru, atau memang karena kesadaran kolektif komunitas, seniman, pegiat teater yang berharap geliat kesenian di Kudus tumbuh lagi.
Setidaknya, pentas itu juga berhasil mengundang kehadiran segelintir orang, pemuda B yang saking penasarannya rela mengacak-acak dan mengganggu kerja teknis pertunjukan.
Sampai-sampai, aksi Srimulat yang dilakukan pemuda B dari teater A itu membuat direktor produksi film Gadis Pingitan gemes dan melayangkan surat cinta untuk pemuda B.
Tulisan dari El yang kemudian direspons mas Apop dan mas Imam membuat orang bertanya-tanya, sepenting apa pemuda B dan gadis pingitan hingga membuat jagat teater Kudus kembali bergemuruh.
Membaca tulisan mereka membuat saya tersenyum kecut membayangkan sosok mas-mas sop kopoken yang sedang perform di sudut lantai dua, tepatnya bersekatan dengan batas ruang teknis dan logika miring Pemuda B itu.
Sebagai penonton yang ingin tenang menikmati suguhan dua karya itu, ada perasaan senang sekaligus prihatin. Perfom di luar panggung, tepatnya di lantai dua dekat tim lighting itu sedikit menghangatkan perbincangan kerja-kerja teater paska produksi. Prihatin karena kelucuan yang dipertontonkan tak hanya mempermalukan citra pegiat teater di Kudus, tetapi juga mencerminkan budaya nir etika yang masih saja bercokol di antara kita.
Namun, sepertinya Kudus memang perlu disentil lewat kehadiran orang-orang semacam itu. Lagi pula, ini Indonesia. Terlalu muluk berharap bahwa semua orang yang lahir dan berproses di suatu kelompok, secara otomatis mampu membudayakan nuraninya untuk menghargai sesama.
Bukankah kita acapkali dipertontonkan kelucuan negeri pada beranda layar yang berseliweran, atau ironi pesantren yang justru melahirkan ketimpangan dan keliaran pengasuhnya, impunitas jadi citra gemoy, pendidikan yang sibuk mengatur menu daripada mutu.
Bukan berarti sebuah pembenaran untuk pemuda B yang masih menggunakan cara lama untuk menggosok mukanya sendiri, arogansi atas relasi atau catut nama tanpa menghargai ruang privasi.
Seperti kuda yang lepas dari pingitan, ulah pemuda B itu justru lepas dari logika sembari berjalan memungut kedunguannya yang tertinggal di rumahnya.
Satu yang pasti, insiden itu sedikit merusak suasana di tengah kerja keras panitia, sekaligus membangkitkan kesadaran kolektif bagaimana ruang-ruang kolektif di Kudus masih minim apresiasi.
Lampu kilat dan korban romantisasi
Di antara ribuan penonton yang sibuk memandang layar ponsel tanpa khawatir adegan terlewat, ada yang cukup mengganggu kenyamanan saya ketika menonton pementasan Gadis Pingitan.
Saat sorot lampu panggung perlahan redup dan dimatikan, lampu kilat justru sporadis menyala membuat mata saya, barangkali penonton lain juga, sedikit berkunang-kunang.
Bagaimana tidak, fungsi utama Blitz yang digunakan untuk memberi penerangan alat potret itu sempurna menghasilkan foto terang sekaligus membuat orang-orang tidak nyaman. Padahal kita tahu, sebelum pementasan panitia MC telah menyampaikan batas-batas kewajaran dalam menyaksikan panggung pementasan, di antaranya tak menyalakan lampu kilat secara terang-terangan.
Barangkali, ada kompromi (untuk tidak menyebutnya pekewuh) dan memberi ruang kebebasan pada juru potret yang bertugas mengabadikan momen orang nomor satu di Kudus itu duduk dan menyaksikan pementasan.
Lalu, saya kemudian bertanya-tanya, apakah ini hanya produksi yang digarap sesuai pesanan? Atau ketika orang-orang yang berada di dalamnya sudah mengetahui dari awal, lantas apa esensinya penanan Gadis Pingitan ini ditampilkan?
Mungkin kita dengan mudah menjawab, Kudus pernah punya kearifan lokal Gadis Pingitan, lengkap dengan romantisme masa lalu tentang tradisi luhur Kudus Kulon yang ingin dijembatani lewat pementasan dan film dokumenter.
Apakah pingitan itu mudah diterima oleh orang-orang di generasi hari ini? Atau seperti yang diinginkan dalam penayangan itu, tentang kekayaan tradisi, tentang membaca ulang, tentang kecintaan keluarga, tentang apa-apa yang relevan dan tidak relevan hari ini? Apakah kita masih butuh pingitan? Apakah penggagas ide masih butuh pingitan untuk mengobati kenangan masa kecilnya?
Pertunjukan malam itu bukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terlontar, ia justru hadir secara jujur, membawa keresahan yang barangkali masih ditakutkan/dikawatirkan seorang perempuan.
Para penonton mungkin penasaran, kenapa tradisi yang sudah pudar ditelan zaman itu kembali diangkat, sedang tradisi pingitan tak hanya dijumpai di Kudus, bahwa di tempat-tempat lain juga serupa, tentu dengan latar dan kondisi yang berbeda.
Pertunjukan Gadis Pingitan bukan untuk menjawab itu semua, tidak untuk menghakimi tradisi lama, ia hadir justru lewat kejujuran, lewat cara-cara yang sopan dan mudah ditangkap generasi hari ini.
Dalam pementasan itu, dua generasi terwakilkan. Kegetiran yang dirasakan perempuan tua yang melanggengkan tradisi, juga perempuan muda yang melihat luasnya dunia, tentang pendidikan, kesetaraan dan kebebasan untuk bermimpi dan berangan-angan.
Lagi-lagi, perempuan yang menjadi objek atas langgengnya tradisi itu di masa lalu. Gadis pingitan tak memperlihatkan siapa yang salah dan benar atas tradisi. Ia justru seperti lingkaran, yang mengikat perspektif dan membiarkan penonton memaknainya sendiri.
Menonton pentas dan film dokumenter Gadis Pingitan membuat saya belajar, bahwa hidup terlalu sempit ketika kita hanya memandang satu perspektif saja. Dan terkadang, apa yang terjadi di luar panggung justru menjadi hal yang menggunggah kita.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar