Folks

TOPENG SUMINTEN: JANJI YANG PATAH

✍ Melly Fardiani Tasmara - 📅 07 May 2026

TOPENG SUMINTEN: JANJI YANG PATAH
Melly Fardiani Tasmara

Dalam panggung Serah#4 Narasi Tubuh dalam Parade Tari yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Kudus, Sanggar Panji Wilis menghadirkan karya bertajuk Topeng Suminten, sebuah sajian tari kreasi yang mengangkat kisah cinta yang tulus namun berujung luka mendalam, potret tentang harapan yang runtuh dan jiwa yang perlahan kehilangan arah.

Karya ini mengisahkan Suminten, seorang perempuan yang mencintai dengan sepenuh hati. Ia menaruh harapan besar pada Raden Mas Subroto, sosok yang diyakininya akan menjadi pendamping hidupnya. Dengan kesetiaan, Suminten mempercayai janji yang diucapkan. Namun, janji itu tak pernah terwujud. Raden Mas Subroto mengingkari, meninggalkan Suminten dalam kekecewaan yang perlahan menggerus batinnya.

Perjalanan emosi Suminten menjadi inti dari pertunjukan ini. Dari cinta yang lembut, harapan yang menggebu, hingga berubah menjadi kesedihan, amarah, dan kehilangan kendali. Melalui gerak tari topeng yang ekspresif, perubahan batin itu dihadirkan secara bertahap, hingga mencapai titik dimana luka tak lagi bisa dibendung.

Tokoh Suminten dibawakan oleh Riska, mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES), yang tampil dengan penghayatan kuat. Ia tidak sekedar menari, tetapi menghidupkan rasa. Setiap gerakannya menjadi bahasa tubuh yang jujur, mengalirkan emosi dari kelembutan hingga kehancuran. Fika, juga mahasiswa UNNES, hadir sebagai sosok pendukung dengan karakter liar, tak terduga, dan penuh energi. Kehadirannya memperkuat suasana batin Suminten yang semakin tak terkendali, menjaga intensitas pertunjukan tetap hidup dari awal hingga akhir.

Peran Raden Mas Subroto dihadirkan oleh Mandala, yang menjadi pusat konflik dalam kisah ini. Sosoknya merepresentasikan harapan sekaligus sumber luka, menghadirkan relasi yang kompleks di atas panggung.

Tidak hanya kuat dalam cerita, Topeng Suminten juga dibangun melalui elemen visual yang sarat makna. Riska dan Fika tampil dengan rambut tergerai, mengenakan kemben hitam, dan jarik batik selutut. Rambut yang terurai menjadi simbol lepasnya kendali dan kegelisahan batin. Kemben hitam menghadirkan nuansa duka sekaligus kekuatan perempuan dalam menghadapi luka, sementara jarik batik menegaskan bahwa di tengah gejolak emosi, identitas budaya tetap melekat.

Mandala hadir dengan lakban hitam yang menyilang di dada, menyiratkan hati yang tertutup dan perasaan yang dibungkam. Lakban menjadi metafora dari kejujuran yang terikat, sebuah simbol dari keputusan yang tidak jujur, yang pada akhirnya melukai orang lain.

Setting panggung dipertegas dengan kehadiran kursi goyang, yang digunakan Mandala pada akhir adegan. Ia duduk sambil merokok, memandangi dua perempuan yang telah hancur oleh perasaannya. Kursi goyang menjadi simbol waktu dan perenungan, bergerak maju mundur seperti pikiran yang terjebak dalam kenangan dan konsekuensi. Adegan merokok memperlihatkan sikap dingin dan berjarak, kontras dengan gejolak emosi yang dialami Suminten, sekaligus membuka ruang tafsir: apakah itu penyesalan, kekosongan, atau justru ketidakpedulian.

Melalui perpaduan tubuh, kostum, dan ruang, Topeng Suminten menjadi lebih dari sekadar pertunjukan tari. Ia adalah pengalaman emosional yang puiti, tentang cinta yang begitu kuat, namun juga tentang rapuhnya hati manusia ketika dikhianati. Di atas panggung, tubuh-tubuh itu tidak hanya bergerak, tetapi berbicara, merasakan, dan mengajak penonton menyelami luka yang tak terucapkan, namun begitu nyata.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar