Esai

Tiga Anak Muda dan Musim yang Belum Selesai

✍ Imam Khanafi - 📅 22 Feb 2026

Tiga Anak Muda dan Musim yang Belum Selesai
Imam Khanafi

Oleh Imam Khanafi , tinggal di Kudus dan menulis esai tentang pertunjukan serta budaya. Sejak 2024, ia berkarya bersama Phos dengan menerbitkan zine sastra.

ADA musim yang datang dengan gaduh, ada pula yang tiba diam-diam, seperti embun yang menempel di daun tembakau saat pagi belum benar-benar jadi siang. Dalam lanskap sastra Kudus hari ini yang oleh sebagian orang disebut mandek, berputar pada lingkar yang sama, kehilangan daya ledak tiga anak muda berjalan dengan cara berbeda. Mereka tidak selalu berdiri di panggung yang sama, tetapi denyutnya serupa: kesungguhan untuk bergerak.

Mereka adalah Afif Khoirudin Sanjaya, Elang Ade Iswara, dan Tiyo Ardiyato. Tiga nama yang tumbuh dari tanah yang sama, tetapi kini menjejak pada jalur yang berlainan: teater, film, dan gerakan mahasiswa yang ketiganya tetap bersentuhan dengan sastra.

Esai ini bukan hendak memitoskan mereka sebagai pahlawan baru. Justru sebaliknya: menempatkan mereka dalam sejarah panjang sastra Kudus, dengan kelembutan dan sekaligus kritik, agar kita tak terjebak pada romantisme generasi, melainkan melihat kerja-kerja sunyi yang sedang berlangsung.

Afif: Teater sebagai Arena Moral

Beberapa waktu terakhir, nama Afif yang akrab disapa Apop kian disebut orang setelah pementasan Tengul karya Arifin C. Noer yang diadaptasi oleh Tigakoma. Lakon itu, sebagaimana kita tahu, adalah cermin retak tentang kekuasaan, moralitas, dan manusia yang terperangkap dalam sistem yang korup. Namun, di tangan Afif, Tengul tidak hanya menjadi teks yang dibaca ulang; ia menjadi peristiwa.

Dengan pendekatan arena (tapal kuda), penonton tidak lagi duduk aman dalam gelap. Mereka didekatkan, hampir diseret ke pusat konflik. Jarak antara aktor dan penonton menguap. Yang tersisa adalah tatapan. Di era digital, ketika fragmentasi sosial membuat kita merasa terhubung tetapi sebetulnya tercerai-berai, pilihan bentuk ini terasa relevan. Afif seperti hendak berkata: teater bukan tontonan, melainkan perjumpaan.

Sebagai guru di sekolah, ia tak berhenti di panggung festival. Ia bekerja di ruang kelas—ruang yang sering dianggap biasa, bahkan remeh. Namun, di situlah mungkin teater menemukan akar terkuatnya: pada generasi yang belum sepenuhnya terpapar sinisme. Afif masih berproses, dan mungkin justru karena itu ia penting. Ia tidak tergesa menjadi “nama besar”, tetapi setia pada kerja kreatif yang konsisten.

Di tengah tudingan bahwa sastra dan teater Kudus kekurangan eksplorasi bentuk, Afif memberi contoh bahwa keberanian formal bisa lahir dari kesetiaan membaca ulang tradisi. Ia tidak menolak teks lama, tetapi membenturkannya dengan konteks mutakhir.

Elang: Layar sebagai Lembaran Baru

Jika Afif bergerak di panggung, Elang melangkah ke layar. Ia dikenal sebagai sosok yang tumbuh dari ekosistem seni dan sastra Kudus yang juga beririsan dengan komunitas seperti AODH dan zine alternatif Phos. Kini ia fokus di dunia film, tanpa sepenuhnya meninggalkan sastra.

Film, dalam konteks ini, bukan sekadar medium baru. Ia adalah perluasan medan. Sastra tidak lagi berhenti pada kata-kata tercetak, melainkan menjelma visual, suara, dan ritme. Elang membaca warisan lokal mitos, lanskap, cerita rakyat bukan sebagai ornamen nostalgia, tetapi sebagai bahan baku narasi kontemporer.

Di sinilah pentingnya Elang: ia menjembatani tradisi lisan dan teks dengan bahasa sinema. Di banyak kota kecil, sastra sering terjebak pada forum diskusi yang berulang, peluncuran buku yang sepi, atau perdebatan internal yang tak produktif. Elang memilih bergerak keluar dari ruang-ruang itu. Ia membawa sensibilitas sastra ke ranah film, yang menjangkau publik lebih luas.

Kita mungkin bisa bertanya: apakah ini berarti sastra Kudus kehilangan satu orang? Atau justru menemukan jalur baru? Jika sastra dimaknai sebagai cara memaknai hidup melalui cerita, maka film Elang adalah kepanjangan tangan dari kerja literer itu. Ia membuktikan bahwa generasi baru tidak alergi pada medium, melainkan alergi pada stagnasi.

Tiyo: Puisi, Politik, dan Jalan Panjang

Nama Tiyo Ardiyato kini dikenal luas sebagai Ketua BEM KM UGM periode 2025. Namun jauh sebelum jabatan itu, ia adalah anak sastra. Lulusan PKBM Omah Dongeng Marwah di Kudus, penyair yang aktif di berbagai antologi termasuk proyek lintas Asia Tenggara dan penggagas Kemah Sastra Kudus 2020.

Ia terlibat dalam penyuntingan antologi Boeng sebuah upaya mengartikulasikan kebangkitan kaum muda. Ia pernah menjuarai lomba baca puisi nasional dan tampil di berbagai forum, termasuk ulang tahun komunitas penulis di Kudus. Tiyo adalah contoh bahwa sastra tidak selalu berakhir di buku; ia bisa menjelma kepemimpinan.

Banyak yang sinis ketika penyair masuk politik kampus. Seolah-olah puisi akan larut dalam strategi. Namun, sejarah menunjukkan bahwa banyak perubahan justru lahir dari sensibilitas puitik. Tiyo masih merawat literasi, masih membaca dan menulis. Politik baginya bukan pengkhianatan terhadap sastra, melainkan perluasan tanggung jawab.

Di tengah anggapan bahwa generasi muda sibuk dengan pencitraan digital, Tiyo menghadirkan kombinasi langka: prestasi akademik, aktivisme, dan akar sastra. Ia mengingatkan bahwa puisi bukan pelarian, tetapi sumber keberanian.

Membaca Mereka dalam Bayang-Bayang Sejarah

Untuk memahami posisi tiga anak muda ini, kita perlu menoleh pada generasi sebelumnya. Sejak 1980-an hingga 2010-an, denyut sastra Kudus banyak berpusat pada KPK (Keluarga Penulis Kudus). Di sana kita mengenal nama-nama seperti Zuli Dahlan, Sulistiyanto Sw., Alex Achlish, A Munif Hamid, Toto Yuliadi, L Yona Aruna Ch., Amir Yahya Pati, Yudi MS, Aryono KD, MM Bhoernomo, Mukti Sutarman Espe, Darmanto Nugroho, Thomas Budi Santoso, Jumari HS, Adithia Armitrianto, Jimat Kalimasada, dan Mukhlas Afroni.

Mereka membangun fondasi: menerbitkan buku, menggelar diskusi, merawat komunitas. Pada masa itu, pertemuan fisik adalah segalanya. Surat kabar lokal menjadi medan tempur ide. Antologi bersama adalah simbol solidaritas. Namun, setiap generasi memiliki tantangannya sendiri. Jika generasi 1980–2010 berjuang membangun infrastruktur, generasi kini berhadapan dengan kejenuhan. Acara sastra kerap menjadi seremoni, bukan eksperimen. Diskusi menjadi pengulangan nama dan nostalgia. Kritik jarang benar-benar tajam, karena relasi personal lebih dominan daripada gagasan.

Di sinilah kita perlu jujur: ada kecenderungan stagnasi. Sastra Kudus seperti berjalan di tempat, memutar tema yang sama, mengandalkan pola lama. Energi muda kadang terhambat oleh struktur yang terlalu nyaman.

Namun, Afif, Elang, dan Tiyo menunjukkan pola berbeda. Mereka tidak sepenuhnya bergantung pada pusat lama. Mereka membangun orbitnya sendiri teater arena, film, politik kampus tanpa memutus akar.

Mandeg atau Sedang Berubah?

Pertanyaan besarnya: benarkah sastra Kudus mandeg? Atau kita yang belum siap membaca perubahannya? Mandeg bukan berarti tidak ada kegiatan. Justru sering kali kegiatan melimpah, tetapi kurang daya dobrak. Yang hilang mungkin bukan produktivitas, melainkan keberanian. Keberanian untuk berbeda dari senior, untuk gagal dalam eksperimen, untuk menolak pola aman.

Tiga anak muda ini memberi sinyal bahwa perubahan tidak selalu datang dalam bentuk manifesto keras. Kadang ia hadir sebagai konsistensi. Afif yang setia di ruang kelas dan panggung kecil. Elang yang sabar meramu visual dari teks. Tiyo yang menjaga puisi di tengah hiruk-pikuk politik.

Mereka belum tentu sempurna. Mereka mungkin akan jatuh pada kompromi, kelelahan, atau godaan popularitas. Namun, untuk saat ini, mereka adalah tanda bahwa musim belum selesai. Generasi emas bukanlah generasi yang tanpa cela, melainkan generasi yang berani menanggung risiko zamannya. Afif, Elang, dan Tiyo tidak berdiri sebagai ikon tunggal, tetapi sebagai gejala: bahwa sastra Kudus masih punya denyut.

Tugas kita yang lebih tua, yang sebaya, atau yang datang sesudah adalah memastikan denyut itu tidak tercekik oleh romantisme masa lalu atau kenyamanan komunitas. Sastra harus kembali menjadi ruang pertaruhan gagasan, bukan sekadar ruang temu kangen.

Di kota kecil seperti Kudus, setiap gerak kecil berarti besar. Setiap panggung, setiap layar, setiap puisi yang dibacakan di sudut kampus adalah pernyataan bahwa kata-kata belum selesai. Mungkin benar ada rasa mandeg. Tetapi di sela-sela itu, tiga anak muda berjalan. Tidak tergesa, tidak pula menunggu restu sejarah. Mereka bekerja. Dan dari kerja itulah, sastra selalu lahir kembali. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar