Folks

Kisah yang Tidak Punya Tempat Pulang

✍ Agam Abimanyu - 📅 24 May 2026

Kisah yang  Tidak  Punya  Tempat  Pulang
Agam Abimanyu

Kudus, 23 Mei 2026. Ria Ellysa Mifelsa membawakan monolog Julungwangi, adaptasi Antigone karya Sophocles, sebagai bagian dari Pentas Dua Kota, Doea Tjerita dari Tanah Djawa, bersama monolog Amangkurat karya Goenawan Mohammad dilakonkan Indrasitas yang keduanya disutradarai IGN Arya Sanjaya. Hal paling ingin saya percakapkan bukan soal berhasil atau gagalnya pementasan itu. Melainkan: berhasil melakukan apa, tepatnya?

Karena pilihan-pilihan yang dibuat dalam garapan Arya Sanjaya bukan pilihan yang kecil. Judulnya sendiri sudah sebuah pernyataan sekaligus pertanyaan.

Julungwangi

Dalam tradisi merujuk pada kondisi kelahiran yang liminal, seseorang yang lahir di titik peralihan, di celah antara satu waktu dan waktu lainnya. Kata "wangi" berarti harum, tapi dalam konteks weton, keharuman itu tidak selalu bermakna keberuntungan. Bisa berarti seseorang yang membawa sesuatu yang sulit ditanggung, yang hidupnya tidak pernah sepenuhnya bisa masuk ke dalam satu kategori.

Dalam kerangka itu, Antigone, perempuan Yunani dari abad ke-5 SM, terbaca sebagai figur julungwangi. Seseorang yang lahir, atau lebih tepatnya terlahirkan, ke dalam kondisi yang tidak memberinya tempat. Anak dari kutukan Oedipus. Perempuan yang harus memilih antara dua hukum yang sama-sama tidak mau mengalah. Arwah yang bahkan dalam kematiannya tidak menemukan ketenangan. Dan saya ingin membicarakannya dengan jujur sampai habis.

Antigone's Claim

Ada tiga lapis oposisi yang saya tangkap dalam Julungwangi: pertama, dua hukum yang berbenturan, hukum negara dan hukum ilahi yang tokoh klaim lebih tua. Kedua, tegangan gender yang secara visual dihadirkan melalui suara dan tubuh. Ketiga, konflik generasi: narasi muda yang menolak sistem yang diwariskan generasi sebelumnya.

Yang paling kokoh landasannya di dalam naskah Sophocles adalah yang pertama. Antigone memang secara harfiah hidup di antara dua sistem hukum yang tak bisa didamaikan. Dan yang paling menarik dari naskah aslinya: Sophocles tidak memenangkan salah satu pihak. Creon dihukum, Antigone pun mati. Haemon mati. Eurydice mati. Kehancuran merata, sebagai akibat dari dua fanatisme yang sama-sama menolak mundur satu langkah. Seperti berkata fanatisme terhadap satu sumber kebenaran, apapun sumbernya adalah jalan menuju tragedi. Creon bersalah, ya. Tapi Antigone pun tidak sepenuhnya bersih.

Soal tegangan gender, tradisi pembacaan itu panjang, termasuk Hegel yang membaca Antigone sebagai pertentangan antara hukum keluarga yang feminin dan hukum negara yang maskulin. Tapi Judith Butler dalam Antigone's Claim sudah lama mengkritik skema itu: terlalu rapi, terlalu biner, dan pada akhirnya mengurung Antigone dalam peran yang sempit dalam bingkai perempuan yang bergerak karena naluri keluarga, bukan karena pilihan moral yang sadar dan mandiri.

Apakah Julungwangi jatuh ke perangkap yang sama? Di beberapa titik, iya. Ada momen ketika tegangan itu terasa seperti simbol yang ditempelkan dari luar, bukan sesuatu yang tumbuh dari dalam logika pertunjukan. Tapi ada juga momen ketika Ria berhasil menunjukkan bahwa keperempuanan bukan kelemahan yang ia kompensasi melainkan justru sumber dari kekuatan argumentasinya yang paling keras.

Yang paling lemah adalah lapis ketiga: konflik generasi. Dalam naskah Sophocles, tema itu tidak dibangun secara struktural. Haemon memang menghadapi ayahnya tapi ia tidak menang. Ia mati juga.

Sophocles tidak sedang berargumen bahwa generasi muda selalu lebih benar. Kalau Julungwangi ingin menjadikan konflik generasi sebagai salah satu pilar, itu pilihan yang sah sebagai adaptasi, tapi perlu diakui sebagai tambahan dari penggarap, bukan sesuatu yang sudah hadir di dalam naskah Sophocles itu sendiri.

Kutukan

Momen yang paling menjadi sorotan adalah puncak Julungwangi: tokoh terdengar seperti mengucapkan kutukan sebelum mati. Dalam naskah Sophocles, Antigone tidak mengutuk siapapun. Ia meratap. Menyesali bahwa ia harus mati muda, tanpa pernikahan, tanpa anak. Ratapan yang sangat manusiawi dan sangat tidak heroik dan justru karena itulah ia menyentuh. Perempuan yang yakin dengan pilihannya, tapi tetap berduka atas apa yang harus ia korbankan.

Menggantinya dengan kutukan adalah keputusan yang menggeser argumen secara fundamental. Antigone yang meratap adalah figur tragis. Antigone yang mengutuk adalah figur yang mengambil kekuasaan bahkan dalam kematiannya.

Dalam beberapa kepercayaan nusantara, kutukan dari seseorang yang mati dalam kondisi tidak wajar bukan metafora ia dianggap aktif, bergerak, bisa terpenuhi. Sabda orang yang mati teraniaya memiliki bobot kosmologis yang nyata, Dalam konteks itu, kutukan bisa terbaca sebagai perpanjangan dari hukum leluhur yang tak bisa dibungkam oleh dekret negara manapun. Seperti Tiresias (dalam Antigone) yang tidak datang dari luar tapi tumbuh dari dalam tubuh perempuan yang sudah memutuskan untuk tidak diam.

Masalahnya Sophocles tidak memberi Antigone kemenangan yang bersih. Para dewa tidak turun tangan. Ia mati dalam kegelapan, sendirian. Hukuman kepada Creon datang tapi menyapu orang-orang tak bersalah: Haemon, Eurydice. Horor kolateral yang dibungkus bahasa providensi.

Ketika garapan mengakhiri dengan kutukan, ia seperti mengaktivasi sesuatu yang Sophocles sengaja cabut: kepastian bahwa yang benar akan dibalas. Tragedi bergeser menjadi narasi pembalasan. Dan narasi pembalasan, betapapun memuaskan secara emosional di dalam gedung, jauh lebih sederhana dari apa yang sedang dikerjakan Sophocles dua ribu tahun lalu.

Oleh sebab itu pertanyaan yang perlu diajukan:

Kutukan itu ditujukan kepada siapa? Kepada Creon (dalam Antigone) saja atau kepada sistem yang memungkinkan hukuman ada? Kalau jawabannya yang kedua, apakah penonton yang duduk malam itu siap menerima bahwa kutukan tersebut juga bisa jatuh kepada kita?

Keluar dari

Yang paling berkesan adalah ketika momen ketika Ria keluar dari perannya dan menjadi sesuatu yang lain: seorang pendongeng. Suara tanpa nama yang berdiri di luar cerita dan bercerita tentang manusia yang hidup dalam dua dunia.

Secara teoritis, potensinya sangat besar. Antigone dalam naskah Sophocles mati sebelum waktunya, tanpa pernikahan, tanpa anak, dalam kegelapan. Secara kosmologis, ia memang figur yang hidup antara dua hukum, antara dunia yang hidup dan dunia yang mati, antara karakter dalam cerita dan arwah yang belum menemukan tempat istirahatnya.

Dalam kerangka yang dibangun dari judul, transisi itu punya logika yang koheren: seseorang yang lahir di celah waktu, yang hidup tanpa tempat yang benar-benar miliknya, wajar kalau bahkan dalam kematiannya ia tidak bisa sepenuhnya masuk ke dalam satu kategori. Ia tidak lagi Antigone. Ia suara dari celah, dari ruang yang tidak diberi nama oleh hukum manapun.

Tapi kecerdikan penggarap hanya bisa benar-benar diklaim kalau transisi itu dikerjakan. Ada perbedaan besar antara tokoh yang keluar dari perannya karena logika dramaturgis memaksanya, dengan tokoh yang keluar karena sutradara menginginkan momen berkesan di ujung pertunjukan.

Malam itu, saya melihat keduanya hadir sekaligus dan itu yang membuat saya tidak bisa memberi penilaian yang sepenuhnya tunggal. Ada momen ketika transisi itu tumbuh dari dalam tubuh Ria, dari dalam perjalanan karakternya. Ada juga momen ketika ia terasa seperti keputusan yang datang dari luar, efek yang ditempel, bukan sesuatu yang tak terhindarkan.

Antigone, Indonesia

Penonton di Indonesia mungkin sudah terbiasa, baik sadar maupun tidak untuk hidup dengan pertanyaan yang sama yang pernah diajukan Sophocles: ketika dua sistem nilai yang sama-sama punya legitimasinya berbenturan, sistem mana yang dipilih? Dan apa yang dikorbankan untuk pilihan itu?

Tradisi kita mengenal selamatan, ritual kematian yang berjenjang dari tiga hari hingga seribu hari. Atau keyakinan bahwa arwah yang mati dalam kondisi tidak wajar masih gentayangan, belum bisa pergi, karena ritualnya belum selesai. Penonton yang membawa keyakinan itu ke dalam gedung tidak perlu membaca catatan dramaturgi untuk memahami mengapa penguburan adalah perkara besar. Mereka sudah hidup dengan premisnya.

Dan kalau kita mau jujur, konflik yang diangkat Sophocles memang bukan barang impor. Dalam Mahabharata yang menjadi tulang punggung wayang Jawa, Karna berperang di pihak yang salah karena loyalitas yang ia anggap lebih tinggi dari kepatutan. Bharata menolak tahta demi dharma yang lebih tua dari keputusan politik manapun. Layonsari di Bali memilih mati daripada tunduk kepada raja yang membunuh suaminya. Konflik-konflik itu sudah ada di sini, dalam bahasa dan tubuh yang berbeda, jauh sebelum Sophocles diterjemahkan.

Yang artinya, kelompok teater dalam otoritas modern manapun yang sedang melakukan "adaptasi" atau "akulturasi" Barat, pertanyaan perlu diajukan: apakah kita sedang mengimpor sesuatu yang baru atau menemukan bahwa yang kita anggap asing ternyata sudah lama ada di dalam rumah sendiri, hanya belum diberi nama yang sama dan setara ?

Sebab menurut saya yang berbeda dari Antigone yang mungkin belum saya temukan ada padanannya dalam cerita yang saya sebutkan tadi atau cerita rakyat atau mitologi Nusantara yang saya tahu bukan pada konfliknya. Yang berbeda adalah bentuknya: satu perempuan, sendirian, tanpa dalang, tanpa paduan suara yang membela, memilih mati untuk sebuah argumen. Kesendirian dan ketelanjangan pilihan itu. Mungkin itulah yang dibawa Sophocles ke panggung Indonesia, bukan ceritanya, tapi strukturnya yang menempatkan satu tubuh menanggung segalanya sendirian.

Julungwangi seperti pertunjukan yang lebih ambisius dari yang coba ia penuhi sepenuhnya malam itu, dan itu sungguh bukan kecaman apalagi hinaan. Ambisius dalam arti yang paling baik: mengajukan pertanyaan yang lebih besar dari 68 tahun kiprah, konsistensinya dan dirinya sendiri, melakoni teater. Dalam keputusan dramaturgi dikerjakan sampai tuntas, atau ada yang dibiarkan berhenti di tengah jalan sebagai efek.

Antigone dalam naskah Sophocles meratap sebelum mati, menyesali pernikahan yang tidak ada, anak yang tidak akan lahir. Momen yang paling manusiawi dan paling tidak heroik dalam seluruh naskah. Kelemahan yang otentik di balik keyakinan yang keras. Atau Antigone selalu tampak terlalu yakin, terlalu kuat, terlalu suci untuk benar-benar bisa kita rasakan kehilangannya?

Seseorang yang lahir di celah waktu, yang tidak pernah sepenuhnya bisa masuk ke dalam satu kategori. Apakah itu kesalahan atau kutukan, atau justru satu-satunya posisi dari mana seseorang bisa melihat keduanya sekaligus dan karena itu, satu-satunya posisi dari mana kebenaran yang lebih utuh bisa diucapkan?

Akhirnya, pertanyaan dari "adaptasi atau serupa" mungkin bukan pertanyaan yang paling produktif. Yang lebih menarik adalah: apa yang hanya bisa dikatakan oleh Julungwangi yang tidak bisa dikatakan oleh Antigone dalam bahasa aslinya? Apakah ada momen dalam pertunjukan itu di mana kerangka pertunjukan membuka sesuatu yang dalam Sophocles tertutup ? Mungkin pelaku sekaligus penonton kawakan kritis bisa menjawabnya. Dan kalau ada, maka Julungwangi mungkin sudah menemukan alasan keberadaannya sendiri, terlepas dari apakah ia adaptasi atau tidak.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar