Folks

Barongan, Anak Muda, dan Masa Depan yang Diperjuangkan Refleksi atas Malam Pertunjukan Barongan Kudus

✍ Edi buseng - 📅 02 Jun 2026

Barongan, Anak Muda, dan Masa Depan yang Diperjuangkan Refleksi atas Malam Pertunjukan Barongan Kudus
Edi buseng

Oleh Edi buseng , Produser Liguzty Poeziya, Manajer Lesbumi Writers Festival

Barongan, Anak Muda, dan Masa Depan yang Diperjuangkan

Refleksi atas Malam Pertunjukan Barongan Kudus

"Di balik gemuruh tabuhan dan riuh tepuk tangan, masa depan kebudayaan sering kali tumbuh dalam kerja-kerja yang nyaris tak terlihat."

Malam yang Menghidupkan Harapan

Malam belum terlalu larut ketika saya tiba di lokasi pementasan.

Ini adalah malam yang istimewa. Komunitas Seniman Barongan Kudus (KSBK) mempersembahkan Gembong Kamijoyo Mbabar—sebuah pertunjukan Barongan dalam kemasan panggung kontemporer. Sabtu, 30 Mei 2026, pukul 19.00 WIB, di Taman Budaya Sosrokartono, Kudus. Terbuka untuk siapa saja yang ingin datang. Tanpa tiket. Tanpa pungutan biaya.

Dari kejauhan, suasana keramaian sudah terasa hidup. Arus lalu lintas sedikit tersendat oleh kendaraan yang terus berdatangan menuju area pementasan. Orang-orang berjalan berkelompok menuju arena. Anak-anak berlarian kecil sambil sesekali menoleh ke arah panggung yang belum sepenuhnya terlihat. Sebagian lainnya asyik berfoto di photo booth berlatar belakang banner pertunjukan.

Di dekat pintu masuk, seorang warga menggelar dagangan ikan hias, ikut mengais rezeki di tengah ramainya acara malam itu. Di sudut halaman pentas, seorang penjual sosis bakar memanggul nampan kayu berukuran besar yang berisi sosis siap saji dalam kemasan cup kecil. Aroma makanan bercampur dengan bau tanah malam yang dibawa angin. Semuanya menghadirkan suasana khas pertunjukan rakyat: hangat, akrab, tanpa jarak, dan tanpa sekat.

Percakapan-percakapan ringan bersahutan di antara langkah kaki yang terus mengalir menuju pusat keramaian. Beberapa bapak menikmati rokok sambil duduk di tepi taman, menunggu anak dan istri mereka yang telah berbaur dalam lautan penonton yang semakin padat.

Semakin mendekat ke arena, kendaraan terlihat semakin rapat. Area parkir nyaris penuh. Saya harus berputar beberapa kali sebelum menemukan ruang yang cukup untuk memarkir kendaraan, itu pun di sudut paling belakang. Jika dihitung sekilas, jumlah sepeda motor yang terparkir mungkin mencapai ratusan.

Saat akhirnya memasuki arena, saya berhenti sejenak. Penonton telah berjubel memenuhi hampir seluruh sisi lapangan. Sebagian duduk di atas tikar, sebagian berdiri di belakang barisan depan, dan sebagian lain memanfaatkan setiap ruang yang memungkinkan untuk menyaksikan pertunjukan.

Malam itu saya melihat sesuatu yang sederhana, tetapi sering luput kita syukuri: masyarakat masih datang. Masyarakat masih peduli. Masyarakat masih meluangkan waktu untuk berkumpul di bawah langit malam demi menyaksikan kesenian yang tumbuh dari tanah tempat mereka berpijak.

Ketika kita terlalu sering mendengar kabar tentang kemunduran kesenian tradisi atau keluhan bahwa generasi muda mulai menjauh dari akar budayanya, malam itu justru memperlihatkan kenyataan yang berbeda. Barongan masih diminati. Barongan masih dihargai. Kesenian tradisi masih menyimpan harapan untuk terus hidup dan bertahan di masa depan.

Harapan itu tampak nyata dalam wajah-wajah penonton yang rela berdesakan di pinggir arena, juga dalam langkah warga yang datang dari kampung-kampung sekitar hanya untuk menyaksikan sebuah pertunjukan rakyat.

Api yang Menyala di Tangan Anak Muda

Di atas arena, berbagai properti barongan telah berjejer rapi. Dadak-dadak besar berdiri gagah di bawah sorot lampu. Bulu-bulu merak yang menghiasinya berkilau ketika tertimpa cahaya malam.

Namun, perhatian saya justru tertuju pada para pemain yang berdiri di belakangnya. Mereka masih muda. Sebagian bahkan tampak sangat belia. Pada wajah-wajah itu saya melihat semangat yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, tetapi begitu terasa maknanya.

Saya melihat anak-anak muda yang antusias menyongsong pentas. Semangat itu tampak dari kesibukan mereka sebelum pertunjukan dimulai: datang berlatih sepulang sekolah, menyempatkan berkumpul setelah bekerja, dan tetap bersedia berkeringat demi sesuatu yang mungkin tidak membuat mereka kaya, tetapi membuat mereka merasa memiliki.

Gembong Kamijoyo Mbabar pun dimulai. Tabuhan musik menggema. Sorak penonton sesekali pecah memenuhi udara. Pada satu momen suasana terasa atraktif, penuh energi dan kegembiraan. Pada momen lain, suasana berubah khidmat, seolah mengingatkan bahwa kesenian rakyat tidak hanya menyimpan hiburan, melainkan juga ingatan, keyakinan, serta jejak panjang hubungan masyarakat dengan tradisinya.

Yang menarik, penonton bertahan hingga akhir. Mereka tidak beranjak. Mereka mengikuti jalannya pertunjukan dengan sabar, menikmati setiap pergantian adegan dan penampilan. Seusai pentas, banyak di antara mereka mengabadikan momen melalui foto-foto sebagai cara sederhana menyimpan kenangan.

Di zaman ketika perhatian manusia sering habis hanya dalam hitungan detik di layar telepon genggam, malam itu saya melihat ratusan orang rela duduk berjam-jam untuk menyaksikan pertunjukan rakyat. Bukankah itu sebuah kekuatan?

Di banyak tempat, kesenian tradisi sedang mencari generasi penerus. Malam itu, saya melihat generasi penerus itu berdiri tepat di depan mata.

Saya merasa, inilah kekayaan terbesar yang dimiliki KSBK. Bukan jumlah kelompok yang bergabung. Bukan pula banyaknya properti yang dimiliki. Melainkan anak-anak mudanya.

Kebudayaan tidak diwariskan oleh megahnya baliho. Tidak pula diwariskan oleh lembaga negara semata atau oleh para pemegang kekuasaan. Kebudayaan diwariskan dari pelaku seni kepada pelaku seni lainnya; dari hati ke hati, dari tangan ke tangan, dari generasi ke generasi.

Malam itu, saya melihat proses pewarisan itu sedang berlangsung. Diam-diam. Sederhana. Namun sangat berharga.

Setelah Gemuruh Tepuk Tangan Mereda

Pertunjukan akhirnya usai. Penonton perlahan pulang. Pedagang mulai merapikan dagangan. Kendaraan bergerak meninggalkan area parkir. Musik yang sejak tadi memenuhi udara perlahan menjauh bersama larutnya malam.

Namun, ternyata malam itu belum benar-benar berakhir.

Beberapa pimpinan kelompok masih bertahan dalam sebuah diskusi sederhana. Jumlahnya tidak banyak, jauh lebih sedikit dibandingkan orang-orang yang memenuhi arena beberapa jam sebelumnya.

Justru di situlah saya menemukan sebuah renungan.

Ketika pentas berlangsung, ratusan orang hadir. Ketika saatnya berbicara tentang masa depan, yang tersisa hanya segelintir orang. Padahal, masa depan sering kali tidak ditentukan oleh apa yang terjadi di atas panggung, melainkan oleh apa yang dilakukan setelah panggung dibongkar.

Di tengah diskusi itu, sebuah pertanyaan terus berputar dalam kepala saya.

Setelah malam yang meriah ini, lalu apa?

Setelah Gembong Kamijoyo Mbabar usai, lalu apa?

Setelah foto-foto diunggah dan ucapan selamat diberikan, lalu apa?

Apa yang dibawa pulang oleh kelompok-kelompok itu selain rasa bangga? Apakah organisasi mereka menjadi lebih kuat? Apakah persaudaraan mereka semakin erat? Apakah pengetahuan mereka bertambah? Apakah jejaring mereka semakin luas? Ataukah semuanya selesai bersamaan dengan dibongkarnya panggung?

Tepuk tangan, betapapun meriahnya, hanya bertahan sesaat. Sementara masa depan membutuhkan sesuatu yang lebih panjang daripada sekadar euforia.

Sebuah acara yang sukses belum tentu melahirkan organisasi yang kuat. Namun, organisasi yang kuat hampir selalu mampu melahirkan acara yang sukses.

Karena itu, ukuran keberhasilan tidak boleh berhenti pada ramainya penonton. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika sebuah momentum mampu diubah menjadi kemajuan; ketika pertemuan melahirkan gagasan, ketika kebersamaan melahirkan kerja sama, dan ketika perayaan melahirkan kesadaran untuk tumbuh bersama


Berdaulat dengan Memperkuat Diri


Saya memahami kegelisahan sebagian pelaku kesenian: tentang minimnya pelibatan, tentang panggung-panggung besar yang terasa jauh, serta tentang kelompok-kelompok yang lebih mapan—baik secara historis maupun organisatoris—yang kerap berada di barisan depan. Perasaan itu sangat manusiawi.

Namun, sepanjang perjalanan pulang, saya justru memikirkan pertanyaan lain yang mungkin lebih penting: apakah kita benar-benar sudah siap menjadi pemain utama?

Menjadi pelaku kesenian hari ini tidak cukup hanya pandai tampil di atas panggung. Ia juga perlu memahami apa yang terjadi di luar panggung: bagaimana organisasi dikelola, bagaimana kerja sama dibangun, bagaimana kegiatan dirancang, bagaimana pendanaan dipertanggungjawabkan, bagaimana kebijakan kebudayaan bekerja, serta bagaimana relasi dengan pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak dijalin secara sehat dan saling menguntungkan.

Sering kali kelompok kesenian hanya hadir sebagai penampil: datang ketika dipanggil, tampil ketika diminta, lalu pulang setelah acara selesai. Mereka tidak pernah benar-benar mengetahui bagaimana sebuah program disusun, bagaimana anggaran direncanakan, bagaimana laporan dibuat, atau bagaimana keputusan-keputusan penting diambil. Padahal, di situlah ruang belajar yang sangat berharga.

Tanpa memahami proses tersebut, kelompok kesenian akan terus berada pada posisi objek, bukan subjek. Mereka menjadi pihak yang ditampilkan, tetapi jarang dilibatkan dalam percakapan yang menentukan arah. Mereka mengisi acara, tetapi tidak ikut menentukan bagaimana kebudayaan dirawat dan dikembangkan.

Lebih jauh lagi, tanpa kesadaran organisasi yang kuat, kelompok kesenian berisiko hanya menjadi komoditas yang berpindah dari satu panggung ke panggung lain: ramai ketika dibutuhkan, sepi ketika acara selesai.

Padahal, nilai mereka jauh lebih besar daripada sekadar pengisi acara. Mereka adalah penjaga pengetahuan budaya, perawat tradisi, sekaligus jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.

Karena itu, kedaulatan tidak lahir dari banyaknya panggung yang didatangi. Kedaulatan lahir dari kekuatan-kekuatan yang tak selalu terlihat: administrasi yang tertata, data anggota yang rapi, dokumentasi yang baik, kemampuan menyusun program, kemampuan membuat laporan, kemampuan membangun jejaring, kesadaran hukum berorganisasi, serta kemampuan memanfaatkan ruang digital sebagai panggung baru kebudayaan.

Hari ini, data adalah kekuatan. Dokumentasi adalah identitas. Kepercayaan adalah modal. Pengetahuan adalah nilai tawar.

Kelompok yang memahami tata kelola akan lebih dihormati. Kelompok yang memahami mekanisme pendanaan akan lebih sulit dipinggirkan. Kelompok yang memahami organisasi akan lebih mandiri. Kelompok yang mampu membaca perubahan zaman akan lebih siap menghadapi masa depan.

Karena itu, mungkin sudah waktunya energi yang selama ini habis untuk mengeluhkan keadaan dialihkan untuk memperkuat diri. Sebab, kelompok yang kuat tidak lahir dari belas kasihan. Ia lahir dari kesadaran akan kekuatannya sendiri.

Malam itu saya melihat penonton yang berjubel. Saya melihat anak-anak muda yang penuh semangat. Saya melihat sebuah komunitas yang sesungguhnya memiliki modal besar untuk tumbuh.

Yang dibutuhkan sekarang bukan rasa kasihan, bukan pula keluhan yang terus diulang, melainkan keberanian: keberanian untuk belajar, keberanian untuk berbenah, dan keberanian untuk tumbuh.

Keberuntungan sering kali menghampiri mereka yang sedang bergerak. Masa depan tidak pernah terlalu ramah kepada mereka yang hanya sibuk meratapi keadaan. Masa depan lebih dekat kepada mereka yang memilih memperkuat dirinya sedikit demi sedikit hingga suatu hari mampu berdiri tegak di rumahnya sendiri, menari di halamannya sendiri, dan berdaulat atas masa depannya sendiri.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar