Esai

TEATER PACE ESEMKU - Tahun Tahun Setelah Itu: Warisan Sebuah Peristiwa

✍ Melly Fardiani Tasmara - 📅 12 Oct 2026

TEATER PACE ESEMKU - Tahun Tahun Setelah Itu: Warisan Sebuah Peristiwa
Melly Fardiani Tasmara

Rizky Aditya Pratama sebagai Pak Wardi

Naila Ilham Safitri sebagai Bu Lastri

Thalula Syakira Zuhdi sebagai Kenes

Arya Yudhistira sebagai Wawan

Dhiva Noor Octaviany sebagai Widya

Sebuah peristiwa tidak selalu selesai ketika kejadiannya berakhir. Dalam Tahun-Tahun Setelah Itu, naskah karya Idham Ardhi Nurcahyo yang dipentaskan Teater PACE ESEMKU, SMP 4 Kudus, dengan arahan Isa Ayu Lestyasih, masa lalu hadir melalui ketakutan yang bertahan dan keputusan yang diambil bertahun-tahun kemudian. Melalui Pak Wardi, Bu Lastri, dan Kenes, pengalaman masa lalu diperlihatkan bukan hanya sebagai ingatan seseorang, melainkan sebagai sesuatu yang turut membentuk kehidupan orang-orang terdekatnya.

Pak Wardi, dahulu bekerja sebagai penjual es sebelum dituduh tentara menyebabkan seorang anak keracunan makanan. Setelah terbukti tidak bersalah, para tentara datang membawa sepeda motor sebagai tanda penyesalan. Namun, penyelesaian tuduhan tidak serta-merta memulihkan keadaan Pak Wardi. Kata tentara masih dapat membuatnya gemetar dan membawa kembali ingatan menyakitkan. Bu Lastri, istrinya, berusaha tetap tenang ketika trauma itu muncul. Setelah bertahun-tahun hidup bersama, ia mencoba menenangkan Pak Wardi agar tidak kembali tenggelam dalam luka tersebut.

Sikap Bu Lastri menghadirkan pengalaman lain di sekitar trauma: usaha mendampingi seseorang yang tidak dapat begitu saja melupakan apa yang pernah dialaminya. Ia tidak mampu mengubah masa lalu, tetapi berusaha menjaga kehidupan keluarga di tengah akibatnya. Pengalaman itu kemudian menemukan bentuk berbeda pada Kenes, putri mereka. Ketika Kenes menjalin hubungan dengan Wawan, seorang calon tentara, ketakutan yang berkaitan dengan pengalaman keluarganya membayangi hubungan mereka hingga keduanya sepakat berpisah. Masa lalu Pak Wardi dengan demikian tidak berhenti pada dirinya. Pengalaman tersebut turut hadir dalam cara Kenes memandang hubungan dan kemungkinan masa depannya.

Perjalanan antargenerasi itu memperoleh penanda visual melalui sepeda motor tua yang ditutupi kain. Ketika kain dibuka, motor yang semula tersembunyi muncul di hadapan penonton, menghubungkan kembali kehidupan keluarga dengan peristiwa terdahulu. Motor tersebut bukan hanya bagian dari latar, melainkan benda yang membawa hubungan antara ketidakadilan, penyesalan, dan akibat yang bertahan setelahnya. Kostum dan radio turut membangun suasana 1980-an, sementara lincak menjadi bagian dari keseharian tokoh, digunakan dalam percakapan keluarga maupun ketika Kenes menceritakan persoalannya kepada Widya, sahabatnya. Melalui benda-benda tersebut, latar waktu dan kehidupan personal para tokoh memperoleh bentuk konkret di panggung.

Hubungan Kenes dan Wawan memperlihatkan bagaimana ketakutan dapat memengaruhi sesuatu yang sedang tumbuh. Kecanggungan, respons yang terasa wajar, iringan musik, dan permainan yang lebih ringan membangun kedekatan keduanya. Kehangatan itu membuat keputusan berpisah memiliki bobot emosional: hubungan mereka bukan sekadar rangkaian adegan percintaan, melainkan kemungkinan masa depan yang akhirnya berhadapan dengan pengalaman masa lalu. Kenes tidak hanya berhadapan dengan perasaannya kepada Wawan, tetapi juga dengan ketakutan yang membatasi apa yang berani ia jalani.

Permainan para aktor membawa perjalanan tersebut melalui dialog, gerak, dan perubahan emosi. Emosi Kenes dapat dikenali, sementara tempo pertunjukan yang cenderung lambat memberi ruang bagi penonton untuk menyerap situasi. Jeda menjadi bagian dari pengalaman menonton, meskipun ritme yang relatif seragam membuat tekanan antarmomen belum selalu terasa berbeda. Setelah sekitar dua puluh kali latihan, intonasi, pemenggalan dialog, dan gerak para pemain tampak berkembang. Proses ini menjadi bagian dari upaya kelompok menemukan bentuk permainan yang mendukung cerita, terutama ketika pengalaman batin tokoh perlu disampaikan melalui tindakan di atas panggung.

Pada akhir pertunjukan, para pemain membeku. Cahaya meredup hingga panggung sepenuhnya gelap tanpa suara. Keheningan tersebut tidak memberikan penyelesaian emosional secara langsung, melainkan membiarkan perjalanan para tokoh menetap dalam ingatan penonton. Setelah menyaksikan Pak Wardi menghadapi trauma, Bu Lastri berusaha mendampinginya, dan Kenes mengambil keputusan di bawah bayang-bayang pengalaman keluarganya, penonton ditinggalkan tanpa jawaban tunggal mengenai bagaimana seseorang seharusnya menghadapi masa lalu.

Tahun-Tahun Setelah Itu mempertemukan tiga cara menghadapi akibat sebuah peristiwa: Pak Wardi menanggung luka yang kembali muncul, Bu Lastri berusaha menjaga kehidupan bersama di tengah luka tersebut, dan Kenes mengambil keputusan yang dipengaruhi pengalaman keluarganya. Sepeda motor menghubungkan peristiwa terdahulu dengan kehidupan setelahnya, sedangkan keheningan di akhir memberi ruang bagi pertanyaan yang melampaui panggung. Jika sebuah peristiwa telah berakhir, kapan seseorang benar-benar terbebas dari akibatnya?

Teater PACE ESEMKU, SMP 4 Kudus — Sabtu, 10 Oktober 2026, pukul 11.00 WIB, Ruang Orange SMP 4 Kudus.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar