Folks

Lemuria : Sketsa Drama Keterasingan Yang Tak Punya Jalan Keluar

✍ Djauharudin - 📅 14 Oct 2026

Lemuria : Sketsa Drama Keterasingan Yang Tak Punya Jalan Keluar
Djauharudin

KUDUS — Pada 13 Oktober 2026, lantai tiga Sanggar SMK Lemuria menjadi saksi helatan babak penyisihan Festival Teater Pelajar (FTP) ke-16. Kelompok Teater Rancak Lemuria hadir menandai langkah perdananya dalam ajang festival ini. Mereka memilih membawakan sketsa drama berjudul Penunggu Waktu berdasarkan karya Septiana Wibowo. Sebuah lakon yang menyoroti persoalan keberadaan lansia.

Keputusan Teater Rancak Lemuria untuk mengambil dengan sketsa drama dapat dibaca sebagai strategi estetis sekaligus teknis yang rasional. Secara etimologis, kata "sketsa" berakar dari schizzo (bahasa Italia) yang merujuk pada gambaran cepat tanpa detail rumit, serta terhubung dengan skhedios (bahasa Yunani kuno) yang berarti sementara atau dibuat seketika. Dipadukan dengan drama dari kata dran yang berarti berbuat atau bertindak, sketsa drama secara harfiah adalah pertunjukan ringkas yang langsung membidik inti persoalan.

Umumnya berdurasi 10 hingga 30 menit dengan satu konflik utama atau satu potongan kehidupan (slice of life), format ini memberikan batasan yang pragmatis. Jika drama panjang menuntut kerumitan alur dengan berbagai sub-plot dan penokohan yang berlapis, sketsa drama justru memaksa penulis, adaptor, sutradara, hingga aktor untuk melakukan penataan simbol yang ketat. Bagi kelompok remaja yang baru pertama kali terjun ke gelanggang festival, kerangka ini terbukti lebih realistis dibanding ambisi menggarap alur panjang yang berisiko lepas kendali.

Tipifikasi Tokoh

Secara teoretis, pementasan drama konvensional kerap mengacu pada formulasi penokohan tiga dimensi sebagaimana dirumuskan oleh Lajos Egri: fisiologis (fisik), sosiologis (sosial), dan psikologis (psikis). Dinamika psikologis yang mencakup motivasi, konflik batin, dan pergeseran perasaan tokoh menjadi elemen penting agar karakter tidak terjebak menjadi sekadar sosok yang bergerak dan berbicara tanpa alasan terbaca.

Namun, dalam penggarapan Penunggu Waktu, materi cerita tampak digali langsung dari pengamatan fenomena sosial. Alhasil, tubuh wanita tua yang dihadirkan di atas panggung cenderung bersifat tipikal mewakili gambaran umum yang lama terasing daripada penokohan biografis dengan latar belakang spesifik. Digambarkan melalui sudut pandang Bu Wiryo yang keberadaanya menolak segala macam bujukan dan pikiran anak - anaknya bahkan dunia. Menandakan keterasingan absurd, keterasingan yang tidak punya sebab yang masuk akal dan tidak punya jalan keluar. Tokoh terputus dari orang lain atau dari dunianya, dan percobaan untuk menjelaskan atau memperbaikinya selalu gagal. Pada keterasingan yang umum, penyebabnya jelas: anak sibuk bekerja, keluarga pindah kota, dan penonton bisa menunjuk siapa atau apa yang salah. Pada keterasingan absurd, penyebab itu kabur atau tidak dipersoalkan. Yang ditampilkan adalah kondisinya, bukan alasannya.

Menanti adalah sebuah tindakan yang pasif dan jarang mendapat panggung. Tidak ada gerak dramatik besar di dalamnya; yang ada hanyalah bayangan waktu yang merayap dan pintu yang tak kunjung diketuk—atau barangkali hanya diketuk oleh tukang servis jam lewat tiruan bunyi dari mulutnya. Format sketsa drama, dengan kesederhanaan struktur durasinya, memberi ruang atas jenis kesunyian dan keterasingan tanpa perlu terdistraksi oleh sub-plot yang mengalihkan perhatian dari muara utamanya: seseorang yang sedang terasing.

Jarak Generasi dan Pertanyaan Bentuk

Tantangan mendasar dari pementasan semacam ini terletak pada jarak usia antara aktor dan karakter. Para pemeran yang masih berusia remaja dihadapkan pada kenyataan untuk memerankan sosok di usia senja. Pertanyaan kritis pun mengemuka: apa yang sebenarnya diketahui oleh seorang remaja tentang rasa menunggu selama puluhan tahun, atau pengalaman ditinggalkan pasangan hidup belasan tahun?

Untuk menjembatani jurang pengalaman tersebut, sutradara dan aktor memilih pendekatan visual dan ekspresi berupa dialog dingin serta gesture karikatural. Pilihan stilasi ini menghadirkan perdebatan tersendiri: apakah bentuk karikatur mampu menghadirkan keheningan dan emosi sunyi secara autentik ke hadapan penonton, atau justru menciptakan jarak yang menjauhkan penonton dari rasa empati? Efektivitas dari pilihan artistik tersebut pada akhirnya diuji langsung di atas panggung, berhadapan dengan persepsi publik dan juri.

Teater sebagai Wadah Belajar Kolektif

Di balik gagasan artistiknya di panggung penyisihan, pementasan ini menggarisbawahi fungsi teater sekolah sebagai proses pembelajaran sosial. Pembina Teater SMK Lemuria, Henny Purwanti, S.Pd., menyebut proses latihan ini sebagai ruang belajar bersama yang melatih kedisiplinan, pola komunikasi, kerjasama dan kolaborasi serta kepercayaan diri para siswa.

"Melalui pengamatan terhadap kenyataan di sekitar seperti keberadaan orang tua yang sendirian dan pergeseran nilai dalam keluarga—para siswa diharapkan dapat belajar memadatkan realitas tersebut menjadi simbol-simbol pertunjukan," ungkap Henny.

Dalam proses kreatif ini, memilih simbol berarti juga keberanian untuk membuang elemen yang tak perlu, hingga ditemukan apa yang paling esensial dari sebuah tema keterasingan dan kesepian.

Pada akhirnya, pemilihan bentuk sketsa drama dan tema hubungan keluarga merupakan titik mula bagi kelompok pemula seperti Teater Rancak Lemuria. Keikutsertaan mereka di FTP ke-16 tidak sekadar menjadi ajang unjuk kebolehan, melainkan sebuah eksperimen sosial dan artistik. Adapun efektivitas gaya akting, daya jangkau pesan, hingga dampak reflektif bagi para siswa sendiri tetap memerlukan pembuktian lanjutan melalui respons penonton, catatan evaluasi juri, serta proses pembelajaran mereka di masa depan.





Pembina : Henny Purwanti, S.Pd.

Pimpro : Putri Aprilia

Sketsa drama Teater Rancak Lemuria.

Babak Penyisihan Festival Teater Pelajar 16.


Sutradara : Agam Abimanyu


Act : 

Adila Aprilianda

Khusna Zahrotus Shita

Safa Naily Azzahra

Muhammad Amir Hanafi

Ahmad Naufal Pratama

Amira Rimbi Nugroho

Inayah Saputri

Tasya Kumaisaroh

Ithvin Mumtaza


Penata musik :

Erlangga Rizky Pratama

Ridho Ardeansyah


Penata Set Panggung dan Lampu :

Danang Ardiansyah, Slamet Dwi Kurniawan, Ahmad Irfan Maulana, Muhammad Candra Permana, 

Eva Tri Zuliani, Three Wulan Ramadhani, Jenicca Nayla Khafita Marwa, Keyza Sevilla Bilqiz, Nia Rhamandani


Penata rias dan Kostum :

Nikita Shafara, Marsa Norlita, Az Zahra Aulia Safa, Mayida Sapira, Tsaniatul Ashfiyah, Aulia Ramadhani, Aulia Khayatun Fitri

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar