Panggung III

Di Mana Berakhirnya Surti, Di Mana Mulainya Sawunggaling?

✍ Agam Abimanyu - 📅 05 Oct 2026

Di Mana Berakhirnya Surti, Di Mana Mulainya Sawunggaling?
Agam Abimanyu

Sepulang menonton Surti + 3 Sawunggaling, yang tertinggal bagi saya bukan terutama cerita tentang perang atau misteri tiga burung, melainkan persoalan tentang bagaimana dunia Surti dibangun di atas panggung. Jika seluruh peristiwa yang kita lihat merupakan konstruksi realitas Surti, maka pertanyaan yang muncul bukan lagi semata-mata apa yang terjadi, melainkan bagaimana Surti mengalami apa yang terjadi.

Novel Goenawan Mohamad memang menggunakan latar sejarah. Surti + 3 Sawunggaling menempatkan kisahnya pada akhir Juli 1947, ketika Republik Indonesia sedang menghadapi Agresi Militer Belanda I. Peristiwa tersebut diadaptasi dan diproduksi Tilik Sarira Creative Process yang menjadi latar sekaligus tekanan eksternal yang masuk ke dalam kehidupan personal Surti: suaminya pergi, kabar datang tidak utuh, dan ruang rumah yang semestinya aman ikut dipengaruhi oleh situasi perang.

Tetapi saya kira, keintiman, ketegangan dan intensitas bukan soal rekonstruksi sejarah. Peristiwa sejarah menjadi ruang yang menekan kehidupan personal Surti. Perang hadir melalui kehilangan, kabar yang tidak pasti, seseorang yang pergi dan tidak kunjung kembali, serta rasa takut terhadap sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dipahami. Sejarah yang besar kemudian masuk ke dalam pengalaman yang sangat personal.

Surti tidak perlu mengetahui seluruh jaringan politik dan konflik pada 1947 untuk mengalami kecemasan. Ia cukup berada dalam situasi ketika dunia yang sebelumnya dianggap aman mulai kehilangan kepastian. Dari pengalaman semacam itulah tiga Sawunggaling dapat dibaca sebagai tiga tubuh atau form dari kesadaran Surti: ingatan yang memperoleh tubuh, kecemasan yang mendapatkan suara, atau imajinasi yang muncul ketika kenyataan terlalu berat untuk diterima secara langsung.

Pembacaan semacam itu membuat saya mempertanyakan pilihan pertunjukan dalam menghadirkan dunianya, salah satunya adegan mistisnya. Oleh karena itu, perlu penciptaan pada ruang dan atmosfer yang lebih intens. Seperti tekanan, ketegangan dan keseriusan yang mungkin juga dirasakan oleh penonton lainya pada 04 Oktober 2026 di Studio Teater Djarum.

Beberapa bagian dibangun dengan atmosfer yang tidak biasa, mencekam dan kejutan yang menyerupai jump scare melalui medium bunyi. Secara langsung, strategi tersebut memang mampu membuat tubuh penonton bereaksi. Kita terkejut, waspada, lalu menunggu kemungkinan kejutan berikutnya.

Tetapi apakah ketakutan semacam itu sama dengan kecemasan yang dialami Surti?

Keduanya tidak selalu bekerja dengan cara yang sama. Ketakutan dapat muncul karena sesuatu tiba-tiba hadir di hadapan mata. Kecemasan justru dapat tumbuh dari sesuatu yang tidak terlihat: menunggu kabar, mendengar suara yang tidak jelas sumbernya, merasakan seseorang mungkin berada di luar rumah, atau tidak mengetahui apakah sesuatu yang kita pikirkan benar-benar terjadi.

Karena itu, yang saya pertanyakan bukan apakah dunia mistis boleh dibuat menyeramkan. Yang lebih penting adalah dari mana rasa takut itu berasal. Apakah ia lahir dari pengalaman batin Surti, atau dari konvensi horor yang sudah akrab bagi penonton?

Dunia gaib sendiri tidak selalu identik dengan sesuatu yang mengancam. Dalam pengalaman kebudayaan, yang tidak terlihat dapat hadir sebagai leluhur, penjaga, kenangan, teman, sesuatu yang dihormati, bahkan bagian dari keseharian. Ketika dunia semacam itu langsung diberi kode horor, ada kemungkinan pengalaman mistis Surti berubah menjadi tontonan tentang makhluk yang menakutkan, sementara persoalan yang lebih dalam justru berada pada ketidakpastian: apakah Sawunggaling benar-benar datang dari luar dirinya atau tumbuh dari dalam pikirannya?

Pertanyaan yang sama muncul ketika melihat cara Sawunggaling diwujudkan. Jika mereka merupakan manifestasi dari pengalaman batin Surti, mengapa mereka harus selalu hadir secara literal sebagai burung?

Saya tidak sedang mengatakan bahwa burung adalah pilihan yang keliru. Yang menarik justru kemungkinan bahasa teater lain. Sawunggaling dapat hadir sebagai suara, bayangan, gerak, perubahan cahaya, atau bahkan tiga tubuh yang tidak pernah menyebut dirinya burung. Dengan begitu, penonton tidak langsung diberi jawaban mengenai apa yang mereka lihat.

Sebab ketika Sawunggaling menjadi burung yang terlihat dan berbicara secara verbal, perhatian kita mudah berpindah kepada burung itu sendiri: bagaimana bentuknya, bagaimana ia bergerak, apa yang dikatakannya. Padahal pertanyaan yang lebih mendasar mungkin bukan “apa yang dilakukan Sawunggaling?”, melainkan “mengapa Surti membutuhkan mereka?”

Persoalan yang sama sebenarnya dapat dilihat dalam adegan Surti mencuci baju yang diperkuat dengan ilustrasi suara gemercik air.

Adegan tersebut secara langsung memberi kita informasi yang lengkap: kita melihat Surti mencuci, kemudian mendengar suara air yang menguatkan tindakan itu. Penonton segera memahami peristiwa yang sedang berlangsung. Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan pilihan tersebut. Tetapi jika seluruh bangunan pertunjukan merupakan konstruksi realitas Surti, saya justru ingin mempertanyakan kemungkinan lain: apa arti mencuci bagi Surti?

Apakah mencuci hanya sebuah aktivitas domestik? Ataukah ia merupakan rutinitas yang membuat Surti merasa dunia masih normal? Mungkinkah air berkaitan dengan ingatan tertentu? Atau suara gemercik itu sendiri sebenarnya bagian dari pengalaman batin Surti? Seperti yang dilakukan di beberapa babak sebagai seorang pembatik dengan gesture dan tindakan melipat jarik yang berulang?

Pertanyaan tersebut tidak harus segera dijawab. Justru ketidakpastian itu yang dapat membuat sebuah tindakan sederhana memiliki lapisan dramatik.

Ketika suara air hanya berfungsi untuk memastikan bahwa Surti sedang mencuci, penonton memperoleh tanda yang jelas. Kita mengetahui apa yang terjadi. Tetapi apabila suara air dapat muncul, menghilang, berulang, atau hadir dalam situasi yang tidak sepenuhnya masuk akal, suara itu mulai menjadi bagian dari kesadaran Surti. Kita tidak lagi hanya melihat seseorang mencuci, tetapi mulai mengalami bagaimana seseorang mengalami kegiatan mencuci.

Perbedaannya memang kecil, tetapi penting bagi pertunjukan yang berbicara tentang realitas yang tidak stabil.

Dalam dunia Surti, benda sehari-hari seharusnya memiliki kemungkinan untuk berubah makna. Baskom, pakaian, air, suara, rumah, bahkan ruang kosong dapat menjadi pemicu ingatan atau kecemasan. Sebuah tindakan biasa tidak harus kehilangan sifat realnya, tetapi dapat mengalami pergeseran ketika dilihat dari dalam kesadaran seseorang yang hidup dalam ketidakpastian. Pada wilayah semacam inilah saya merasa pertunjukan ini memiliki kemungkinan tawar sebagai nilai.

Sejarah tidak harus dijelaskan agar dapat dirasakan. Penonton mungkin tidak mengetahui seluruh konfigurasi politik 1947, tetapi mereka memahami bagaimana rasanya menunggu seseorang yang tidak kunjung pulang. Mereka mungkin tidak memahami jaringan konflik, tetapi mengenali rasa kehilangan dan kecemasan. Pengalaman manusia dapat menjadi pintu masuk sebelum pengetahuan sejarah.

Karena itu, ketika pertunjukan terlalu menekankan informasi sejarah, jaringan konflik, atau kemungkinan konspirasi, pengalaman penonton berisiko bergantung pada bekal pengetahuan tertentu. Padahal Surti dapat menjadi pintu masuk yang lebih setara. Kita tidak perlu mengetahui seluruh sejarah untuk mengalami ketakutannya.

Barangkali yang dibutuhkan bukan lebih banyak penjelasan, melainkan lebih banyak ruang bagi penonton untuk mengalami ketidakpastian yang dialami Surti. Dalam kerangka itu, tiga Sawunggaling tidak harus menjadi monster, roh, ataupun burung yang harus kita pastikan keberadaannya. Mereka dapat menjadi bentuk dari sesuatu yang tidak mampu Surti ungkapkan dengan bahasa biasa. Begitu pula suara air tidak harus sekadar memberi tahu bahwa Surti sedang mencuci. Ia dapat menjadi suara dari sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tidak segera dapat kita identifikasi.

Teater memiliki kemampuan untuk membuat sesuatu hadir tanpa harus memperlihatkannya secara lengkap. Bahkan sering kali sesuatu terasa lebih dekat ketika tidak diberi bentuk yang selesai.

Mungkin karena itu, pertanyaan yang paling mengusik setelah pertunjukan ini bukanlah apakah Sawunggaling benar-benar ada. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang terjadi pada Surti sehingga mereka harus ada?

Dan mungkin hal yang sama berlaku untuk air, animasi, pakaian, suara, serta berbagai benda yang mengelilinginya. Bukan apa benda itu, melainkan apa yang telah terjadi pada Surti sehingga benda-benda biasa tersebut memperoleh arti yang berbeda.

Jika panggung memang merupakan konstruksi realitas Surti, barangkali yang perlu kita lihat bukan hanya dunia yang dibangun untuknya, tetapi cara dunia itu dibangun dari dalam dirinya.

Sebab ketakutan terbesar mungkin bukan ketika Sawunggaling tiba-tiba muncul atau atau segala keanehan yang muncul dari ruang yang gelap. Ketakutan yang lebih panjang justru muncul ketika kita mulai tidak mampu membedakan apakah sesuatu datang dari luar Surti atau tumbuh dari dalam dirinya.

Di wilayah itulah Surti + 3 Sawunggaling bagi saya semestinya menjadi lebih dari cerita tentang perang, mistisisme, konspirasi, atau tiga wujud burung atau bahkan pertanyaan atas apa yang dialami Jen. Melainkan di pertanyaan tentang bagaimana manusia membangun kenyataan ketika kenyataan yang dihadapinya sudah tidak lagi utuh.

Sebab Jika ingatan, ketakutan, dan imajinasi perlahan ikut membentuk apa yang kita sebut kenyataan, lalu ketika batas di antara semuanya mulai menghilang, kenyataan siapa yang sebenarnya sedang kita percaya?


Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar