Panggung III

Sesudah Serena Berkata "Tidak", Pementasan Riuh Dalam Hening Teater Tigakoma

✍ Agam Abimanyu - 📅 07 Jul 2026

Sesudah  Serena Berkata "Tidak", Pementasan Riuh Dalam Hening Teater Tigakoma
Agam Abimanyu

Sepanjang pertunjukan Riuh dalam Hening pada 05 Juli 2026, garapan Teater Tigakoma di bawah arahan Dita Taqiya, dari naskah Mazidatul Chilmi. Membangun konflik seperti panci presto yang menutup rapat tekanan sejak menit pertama. Uap dari pekerjaan Ibu di Babak I menjadi penanda tekanan yang mendidih pelan, sampai akhirnya harus keluar lewat satu katup kecil bernama "TIDAK" di penghujung cerita yang diperankan oleh Umaa Alfath, Hanik Rahma, Farancisca, Novica Acha, Aris Sally, dan Mila Dede Shencyen.

Analogi ini berguna untuk memeriksa tangga dramatiknya, karena persoalan utama justru terletak pada cara uap itu dilepaskan: terlalu cepat, dan hanya lewat satu katup, padahal tekanan yang dibangun datang dari empat sisi berbeda.

Titik paling rawan dalam strukturnya ada di persambungan Babak, sebagai contoh saat realisme domestik-korporat berpindah ke ruang psikologis tempat tujuh emosi berwujud tokoh. Perpindahan register bahasa di sini drastis, dari dialog koloqial menuju bahasa metaforis padat. 

Tanpa jangkar dramaturgis yang jelas, lompatan ini berisiko terasa seperti dua lapis teks yang ditempel. Jembatan yang paling masuk akal untuk menjaga penonton tetap terhubung secara emosional adalah keheningan fisik sebelum monolog "Cukup..." dimulai, disertai detak jam yang perlahan mengeras, elemen yang sudah tersedia di dalam teks itu sendiri. 

Kemunculan ketujuh emosi yang bertahap, dimulai dari Harapan dengan suara paling lembut sebelum Prefeksionis dan Ambisi menyusul dengan tempo makin cepat, memberi penonton waktu menyesuaikan perhatian sebelum dibanjiri suara sekaligus di puncak adegan pengikatan kain. Koreografi pengikatan itu, kalau digarap sebagai gerakan melingkar yang makin rapat seiring tempo dialog, memberi visualisasi fisik pada tekanan yang selama ini hanya diucapkan lewat kata. Lalu kenapa mesti dupayakan nampak rapi ? Bukankah itu pergulatan kacau riuh yang ada dalam kepala ?

Elemen visual yang hadirkan pencahayaan ungu dominan dan topeng-topeng yang digantung di area proscenium, membawa potensi simbolik kuat namun berisiko besar berhenti sebagai dekorasi. Warna ungu punya asosiasi psikologis dan transisi yang relevan dengan situasi Serena, terjebak antara realitas domestik-korporat dan alam batinnya sendiri. Topeng yang tergantung diam punya potensi representasi kepura-puraan yang barangkali menjadi inti tema naskah.

Persoalannya muncul ketika kedua elemen ini hadir sebagai lapisan atmosfer statis, tanpa perubahan intensitas atau posisi seiring perkembangan konflik.

Panggung proscenium punya batas fisik tegas antara penonton dan area permainan, dan elemen dekoratif yang dipasang tetap tanpa pergerakan cenderung dibaca penonton sebagai latar visual belaka setelah beberapa menit pertama.

Kalau topeng dimaksudkan menyiapkan penonton menuju adegan topeng untuk menjadi peristiwa, elemen itu membutuhkan momen aktif, sorotan cahaya yang berpindah tepat sebelum babak psikologis dimulai, bukan sekadar tergantung sejak penonton duduk.

Klimaks cerita membawa satu pilihan garap yang paling layak dipertanyakan: Serena menembus dinding keempat, dijemput oleh dirinya sendiri menuju jalan katarsis, berjalan keluar panggung sebelum berteriak "Tidak".

Pilihan ini menjawab satu masalah struktural yang muncul sejak level naskah, yaitu kata "TIDAK" yang selama ini terkurung di ruang batin tanpa pernah menyentuh ruang sosial tempat tekanan berasal. Menembus batas panggung secara literal memperluas taruhan dramatik dari konflik personal menjadi konfrontasi terhadap penonton yang duduk sebagai saksi selama satu jam sebelumnya.

Namun jalan keluar ini membawa risiko yang sama besarnya. Literalisasi metafora perjalanan menuju kebebasan, yang sebelumnya hidup lewat bahasa puitis, kini diterjemahkan harfiah ke dalam blocking, dan berisiko jatuh ke melodrama yang menuntun emosi penonton secara berlebihan. Begitu Serena hilang dari bingkai visual saat berteriak dari luar panggung, klimaks paling penting dalam keseluruhan cerita kehilangan tubuh yang bisa disaksikan penonton tepat pada detik paling menentukan.

Kenapa keseluruhan rangkaian pilihan garap, dari topeng yang berhenti menjadi hiasan, warna ungu dominan yang konstan sepanjang durasi, sampai Serena yang berjalan menuju luar panggung sebelum berteriak "Tidak", semuanya mengarah pada satu kesan yang sama, mungkin penutup ini digarap sebagai kemenangan yang utuh. 

Ada dua kemungkinan penjelasan, dan keduanya membawa konsekuensi berbeda.

Kemungkinan pertama, pilihan ini murni keputusan estetik untuk memberi penonton pengalaman katarsis yang memuaskan setelah tekanan yang terus menumpuk. Kemungkinan kedua, dan ini yang lebih perlu dipertanyakan secara kritis, pilihan happy ending ini mengulang keterbatasan yang sama dengan naskahnya sendiri: kecenderungan membingkai persoalan struktural sebagai persoalan personal yang selesai lewat satu keputusan individu.

Muatan sosial yang tersembunyi di balik kisah kelelahan Serena perlu ditegaskan secara eksplisit. Serena adalah figur people pleaser dalam pengertian paling harfiah, seseorang yang nilai dirinya terus dinegosiasikan lewat kesediaan berkata iya. Pola ini dibentuk oleh sistem penghargaan sosial yang mengaitkan harga diri seseorang dengan kesanggupannya memenuhi permintaan orang lain. Pujian dan tekanan yang diterima Serena, dari ibu maupun atasan, berfungsi ganda sebagai jerat, karena menolak setelah dipuji terasa seperti mengkhianati citra diri yang baru saja diberikan kepadanya. 

Beban yang dipikulnya berasal dari tiga sistem yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri: ekonomi keluarga yang menempatkan anak sulung sebagai penopang moral dan finansial, budaya kerja korporat yang mengeksploitasi karyawan paling kompeten justru karena kompetensinya, dan norma gender yang mewajibkan perempuan menjadi pengasuh di rumah sekaligus pekerja optimal di kantor.

Persoalan Serena tidak berhenti sebagai konflik antara tokoh dan sistem eksternal. Ada lapisan yang lebih dalam dan lebih sulit diselesaikan lewat satu kata penolakan: erosi identitas yang terjadi ketika seseorang terus-menerus mendefinisikan dirinya lewat kesediaan memenuhi permintaan orang lain. Pola people pleasing adalah gejala eksistensial, tanda bahwa seseorang kehilangan akses terhadap keinginannya sendiri karena bertahun-tahun keinginan itu tidak pernah relevan dibandingkan keinginan orang di sekitarnya.

Konsekuensi paling nyata dari pola ini terlihat pada kualitas kerja dan kualitas diri Serena sepanjang cerita. Ketika Iren melempar tanggung jawab proposal yang gagal kepadanya, Serena tidak punya cukup ruang psikologis untuk membela diri secara tegas, karena bertahun-tahun dia dilatih untuk menyerap kesalahan orang lain demi menjaga citra "selalu bisa diandalkan". Kualitas kerjanya secara objektif mungkin tinggi, tapi kapasitasnya mempertahankan batas profesional runtuh justru pada titik paling dibutuhkan. Pola ini konsisten dengan hubungan umum antara kebiasaan menyenangkan orang lain dan penurunan kualitas pengambilan keputusan di bawah tekanan sosial. 

Konsekuensi kedua ada pada relasi diri dengan waktu dan tubuh sendiri. Serena bekerja lembur, membantu adik, membantu rekan kerja, memenuhi permintaan ibu, tanpa pernah menghitung berapa banyak dari waktu itu yang benar-benar dia pilih sendiri. Ketika akhirnya dia berkata "aku capek", responsnya diinterpretasikan sebagai kelemahan karakter oleh orang-orang di sekitarnya, tanda bahwa people pleasing kronis mengikis kemampuan seseorang membaca sinyal kelelahannya sendiri sebagai sesuatu yang sah, sampai sinyal itu berubah jadi krisis yang meledak sekaligus.

Kalau erosi identitas ini terjadi bertahap selama bertahun-tahun, kata "TIDAK" yang diucapkan sekali di puncak krisis tidak otomatis memulihkan kapasitas Serena mengenali keinginannya sendiri di masa depan. Pemulihan dari pola eksistensial semacam ini biasanya membutuhkan proses berulang, karena kebiasaan menomorduakan diri sendiri terbentuk lewat repetisi bertahun-tahun dan tidak hilang lewat repetisi tunggal yang berlawanan arah.

Posisi saya perlu ditegaskan sebelum menutup esai ini. Kritik terhadap penutup yang terlalu bersih, dan terhadap kata "TIDAK" yang menanggung beban penyelesaian sendirian, tidak dimaksudkan sebagai tuntutan tambahan kepada Serena sebagai karakter, seolah dia masih kurang berjuang atau seolah pembebasannya belum layak dirayakan. 

Kritik ini diarahkan pada pilihan dramaturgis dan pilihan garap, bukan pada tokoh yang diciptakan untuk menanggung tekanan itu. Serena, di dalam logika ceritanya sendiri, sudah melakukan langkah paling berat yang bisa dilakukan seseorang dalam posisinya: menolak setelah bertahun-tahun tidak pernah diberi ruang menolak.

Mempertanyakan penutup itu berbeda dari meminta Serena berbuat lebih banyak lagi, karena itu justru akan mengulang pola yang sama persis dengan yang dikritik sepanjang esai, yaitu menaruh beban perubahan struktural di pundak satu individu yang sudah kelelahan. Tanggung jawab menunjukkan kompleksitas itu ada pada tangan pencipta karya, lewat pilihan blocking, pencahayaan, dan struktur adegan penutup, bukan pada tokoh fiksi yang sudah menjalani empat babak penderitaan di dalam cerita.

Tepuk tangan itu mungkin dari kejelasan emosional pertunjukan ini. Namun tepuk tangan itu perlu diperiksa ulang, apakah kelegaan yang saya rasakan di barisan penonton adalah kelegaan yang jujur terhadap kompleksitas hidup Serena, atau kelegaan yang dibeli murah lewat sorotan cahaya dan musik yang menuntun perasaan terharu tepat pada detik yang sudah ditentukan sutradara?

Sebab kalau pertunjukan ini benar-benar ingin menjadi kritik terhadap beban sosial yang dipikul perempuan yang selalu dianggap "bisa", penutup yang lebih jujur barangkali membutuhkan keberanian untuk tidak memberi penonton kelegaan penuh.

Dimana penyelesaian yang ditawarkan pertunjukan berhenti di level psikologis. Kata "TIDAK" adalah kemenangan Serena atas dialog batinnya sendiri, tanpa perubahan terhadap kondisi yang memproduksi tekanan itu. Begitu tirai turun, ibu tetap akan beraktifitas sambil menuntut bakti esok pagi, Rian tetap akan meminta bantuan tanpa mempertimbangkan kondisi kakaknya, dan Pak Irwandi tetap akan mencari karyawan paling "bisa diandalkan" berikutnya untuk dieksploitasi. 

Sistem yang menekan Serena tidak tersentuh oleh penolakan personalnya. Pola ini sejalan dengan kecenderungan wacana self-care kontemporer yang layak dikritik: burnout dan eksploitasi tenaga kerja sering dibingkai sebagai persoalan batas personal yang selesai lewat kemampuan individu berkata tidak, padahal akar persoalannya adalah struktur ekonomi dan budaya yang memproduksi kondisi itu secara sistemik.

Serena yang berjalan keluar panggung dan berteriak "Tidak" di ruang penonton untuk membuat panggungnya sendiri adalah gestur yang indah, puitis secara visual, tapi gestur ini terlalu cepat menyimpulkan bahwa perjuangannya sudah tuntas.

Apakah Sistem yang membentuknya, keluarga yang menuntut bakti tanpa batas, tempat kerja yang mengeksploitasi karyawan paling kompeten, dan norma yang mewajibkan perempuan menjadi segalanya sekaligus, tidak ikut menembus dinding keempat bersamanya ?

Mereka tetap tinggal di dalam panggung, menunggu Serena berikutnya untuk ditekan dengan pola yang persis sama.


Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar