Ketika Trotoar Menjadi Mimbar bagi Sastra dan Kanvas untuk Mereklamasi Jalanan
Sore kemarin, 28 Juni 2026. Matahari di atas langit Kudus menolak diskon temperatur, memancarkan hawa jahanam ke aspal jalanan. Di atas trotoar depan Rumah Kreatif Lesbumi Kudus, ruang publik yang aslinya buat pejalan kaki tapi kerap dimutasi jadi sirkuit motor penyerobot macet dan parkir liar, ada sekelompok manusia yang entah kurang kerjaan atau terlalu saleh secara kultural berkumpul. Sebuah agenda bertajuk "Bisik Bumi di Atas Trotoar" digelar. Sebagai orang yang akrab dengan diksi dan visual, saya duduk menyimak bagaimana kata, nada, dan warna bersekongkol meruntuhkan kebebalan kota yang makin amnesia pada jiwanya sendiri.
Duduk ngemper di atas semen rebutan jalanan Kudus ini sebenarnya bukan sekadar aksi teatrikal dadakan biar kelihatan kalcer. Di dalam DNA kebudayaan: Lesbumi, tindakan ini punya silsilah genetik yang panjang. Menolak diam di dalam menara gading akademis yang steril atau tunduk pada estetika borjuis adalah cetak biru sejak Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) didirikan oleh Djamaluddin Malik, Asrul Sani, dan Usmar Ismail pada tahun 1962.
Sejarah mencatat, Lesbumi lahir dari rahim konfrontasi ideologis abad lalu, bertempur merebut tafsir kebudayaan di jalanan dan panggung rakyat. Ketika sisa-sisa trauma polarisasi masa lalu itu masih membekas, para pendahulu menawarkan strategi kebudayaan yang seksi tapi santun: menjadikan seni sebagai jembatan spiritual, bukan palu godam politik kekuasaan.
Trotoar sore itu seolah meminjam energi dari manifesto kultural tersebut. Ketika ruang kelas ketiga bernama trotoar di jantung kota Kudus ini mengalami desakralisasi massal oleh barisan ruko modern berestetika kardus, mereka mereklamasi ruang tersebut. Ini adalah ruang konfrontasi alternatif: melawan kapitalisme spasial yang membuat kota mengalami pendangkalan batiniah, di mana ruang temu warga selalu diakhiri dengan transaksi ekonomi di kafe franchise mahal, sementara sungai-sungai hulu Muria dikuliti demi komoditas yang serakah.

Trilogi Rasa: Kanvas Tiga Seniman Rupa

Sambil telinga disiksa oleh kombinasi puisi dan suara knalpot, mata kami disuguhi oleh proses visualisasi kegelisahan dari tiga seniman rupa nom-noman Kudus yang merespons teks dan keadaan melalui live painting sebagai manifestasi modern dari seni yang terlibat aktif dalam realitas sosial.
1. Randy Gita: Rasa Syukur kepada Muria
Randy merespons puisi dengan melukis Tugu Lingga Yoni, simbol kesuburan purba yang dulu diyakini masyarakat Rahtawu sebagai pusat energi manunggaling kawula gusti (menyatunya hamba dengan Tuhan). Di sekeliling lukisannya, menyeruak objek kembang makam, dupa, dan asap menyan yang lekat dengan ritus lereng Muria.
Randy berujar, "Yang ingin kusuarakan melalui karya ini, yaitu sebagai bentuk pusat rasa syukur, apa yang sudah kita perbuat di pegunungan Muria jangan sampai kita lupa dengan alam Muria... wujud merawat ingatan leluhur dan rasa syukur hari ini."

Lewat kanvasnya, Randy seperti sedang menyabet dahi kita pakai sapu lidi. Dia mengingatkan kalau Muria itu sekarang sedang megap-megap diiris batas vegetasinya karena keserakahan komoditas yang terus merangsek ke atas menabrak batas hutan lindung. Lingga Yoni di sini bukan klenik takhayul, melainkan alarm spiritual purba agar manusia eling pada tanah yang menghidupinya.
2. Mondy: Luka yang 'Nrimo'
Mondy memilih jalur abstrak. Merespons puisi dari Niswa Alifa tentang langkah yang mendengar, Mondy menuangkan gaya visualnya yang personal untuk menggambarkan bumi yang tak pernah berteriak saat dadanya dikeruk dan punggungnya dibeton.
Mondy menegaskan, "Aku pengen nunjukin kalau di balik hiruk-pikuk kehidupan kota, alam terus mengirimkan pesan. Bisikan yang penuh makna, mengajak untuk berhenti sejenak, mendengar, dan mulai peduli lingkungan... sebelum bisikan itu hilang."

Lukisan Mondy ini semacam tamparan yang lembut tetapi perih. Dia mau bilang kalau alam itu tipe entitas yang nrimo tetapi pasif-agresif. Bumi tidak akan bikin konferensi pers; sambil joget-joge gemoy, ia cuma mengirim bisikan penuh makna lewat cuaca yang makin kacau dan udara urban yang bikin batuk berdahak. Mondy mengajak kita buat ngerem bentar dari kegilaan rutinitas ekonomi sebelum bisikan itu hilang total dan diganti sirine ambulans.
3. Khoirul Anam: Kosmologi Pegon Kaum Sarungan
Anam tampil dengan visual yang sangat lekat dengan khasanah pesantren: siluet orang yang duduk bersila (yang agak mirip visual Bahlil itu), membentuk segitiga geometri yang melambangkan relasi triadik antara: Manusia, Tuhan, dan Alam. Yang paling kuat adalah coretan teks Arab Pegon di kanvasnya: “Kang den rawat ora bakal kiamat” (Sesuatu yang dijaga tidak akan mengkhianati penjaganya). Ini adalah tradisi khas kaum sarungan Lesbumi yang membumikan teologi Islam ke dalam kosmologi lokal.

Anam menjelaskan gagasannya, "Hubungan manusia dengan alam. Tema ini tentang lingkungan. Bukan hanya pohon gunung hijau, tapi kota juga alam. Sesuatu yang tidak dilihat juga oleh kasat mata juga alam..."
Anam membawa teologi ekologi ke level kosmologi yang cadas. Bagi Anam, kota yang bising ini juga alam yang ekosistemnya harus diseimbangkan, bahkan entitas yang tidak kasat mata pun wajib dihormati ruang hidupnya. Kalimat Pegonnya itu adalah maklumat hukum timbal balik yang adil: jangan mengkhianati alam jika tidak ingin dikhianati olehnya. Jadi ingat lirik lagunya Majelis Lidah Berduri yang berjudul 7 Hari Menuju Semesta, liriknya: Katakanlah jika aku Israel kau Palestina; jika aku Amerika, kau seluruh dunia; jika aku miskin kau negara; jika aku mati kau kematian lainnya.



Sastra Jalanan Menghadapi Rezim Algoritma
Pertunjukan di atas trotoar sore itu memicu sebuah pertanyaan eksistensial yang lebih besar: Mengapa sastra dan aktivisme hari ini masih penting?
Jika pada masa lalu para tokoh Lesbumi menggerakkan massa lewat panggung ketoprak, ludruk, dan selebaran kertas untuk melawan dominasi kebudayaan materialistis, hari ini lanskap kebudayaan bergerak secara transmedia yang banal. Sastra hidup di ruang siber melalui TikTok, Instagram, podcast, zine, hingga arsip digital. Aktivisme telah bermutasi; ia tak lagi diukur dari kepulan asap ban terbakar atau dentum molotov di jalanan, melainkan dari ketangkasan kita merebut sejumput kesadaran publik di tengah menyusutnya ruang atensi akibat dikte algoritma pasar. Pertanyaannya bukan lagi "apakah sastra masih relevan?" melainkan: Bagaimana sastra bekerja di tengah algoritma, media sosial, dan banjir informasi yang menggilas rentang perhatian kita?
Sebagaimana yang kita amini, bahwa hari ini, kita hidup dalam era banjir informasi; berita datang setiap detik, opini diproduksi sangat cepat, dan perhatian publik semakin pendek. Di tengah kondisi tersebut, sastra memiliki peran yang berbeda secara epistemologis yang tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan atau infografis data.
Data memberi tahu kita apa yang terjadi, tapi sastralah yang membantu kita memahami bagaimana rasanya mengalami hal itu. Data statistik sanggup menyigi angka kemiskinan dan tingkat krisis iklim secara kuantitatif. Namun, hanya sastranyalah yang mampu memotret dengan jernih bagaimana kecemasan batiniah, hancurnya martabat warga, dan hilangnya ruang hidup spiritual akibat eksploitasi lingkungan itu bersemayam di dada manusia. Sastra menjadi jangkar empati di tengah gersangnya visualisasi angka digital.
Aktivisme generasi muda hari ini mewarisi kelenturan taktik Lesbumi masa lalu: cair, adaptif, dan bergerak di akar rumput melalui komunitas kreatif dan platform digital menggunakan video puisi atau spoken word. Ini adalah bentuk redefinisi literasi abad ke-21 yang mendesak [5]. Sastra bertindak sebagai kurikulum tandingan untuk melatih ketajaman berpikir kritis manusia agar mampu membaca makna mencurigakan di balik teks penguasa algoritma.
Sastra sebagai Arsip Zaman dan Gerakan Kultural Lokal
Gerakan sosial hari ini sangat bergantung pada kuasa narasi. Tagar, slogan, puisi, poster, dan cerita pendek telah menjadi amunisi vital dari gerakan sosial modern. Fenomena kultural beberapa tahun terakhir membuktikan bahwa puisi yang beredar melalui Instagram, kutipan sastra sebagai materi kampanye, serta pembacaan puisi daring mampu menggalang solidaritas massa secara tak terduga. Penelitian mengenai aktivisme digital menegaskan bahwa budaya partisipatif dan produksi narasi yang intim adalah faktor determinan dalam keberhasilan gerakan sosial di era media digital.
Aktivisme generasi muda hari ini jelas berbeda dengan generasi pendahulunya. Jika dahulu ruang gerakan terisolasi di dalam kampus, organisasi formal, atau ruang redaksi surat kabar, kini ruang itu meluas secara cair ke komunitas kreatif, festival independen, ruang seni, dan platform digital. Sastra tidak lagi hanya mewujud buku tebal di perpustakaan, melainkan bermutasi menjadi video puisi, spoken word, arsip digital, dan zine alternatif.

Di sinilah sastra menjalankan tugas luhurnya sebagai arsip zaman. Ketika peristiwa sosial bergerak terlalu cepat, demonstrasi yang pecah lalu dilupakan, krisis lingkungan lereng gunung yang ditutupi, hilangnya tradisi lisan, hingga penggusuran ruang publik–pengalaman-pengalaman traumatis itu akan lenyap dari sejarah jika tidak ditulis. Sastra bertindak sebagai dokumentasi batiniah dan kesaksian autentik masyarakat yang terpinggirkan.
Aktivisme budaya ini pada akhirnya tidak melulu soal politik praktis. Menjaga bahasa daerah, merawat cerita rakyat, mendokumentasikan pengetahuan lokal desa, menulis sejarah kampung, hingga mendokumentasikan tradisi lisan adalah bentuk-bentuk dari aktivisme kultural lokal. Ketika globalisasi berupaya menyeragamkan segalanya melalui teknologi digital, mengangkat kembali yang lokal, seperti yang dilakukan Lesbumi melalui pembacaan puisi dan ekspresi seni rupa sore itu, adalah sebuah tindakan perlawanan kebudayaan yang sah.
Menggerakkan Jiwa di Atas Semen
Sore pelan-pelan terbenam. Acara di trotoar itu selesai, mikrofonnya benar-benar mati, dan kanvas-kanvas tiga seniman itu telah basah oleh warna-warni keresahan. Kami pulang melewati aspal yang sama, berebut jalan lagi dengan deru mesin yang sama.
Pertemuan sore itu membuktikan bahwa tradisi kepedulian sosial yang diwariskan dalam sejarah Lesbumi sama sekali tidak kehilangan tajinya di abad digital ini. Kehadiran sastra yang terlibat (art engagé) menjadi semakin mendesak di tengah krisis empati ekologis. Jika aktivisme praktis bertugas menggerakkan tubuh fisik manusia di ruang publik, maka sastra bertugas menggerakkan kesadarannya. Jika aktivisme melempar pertanyaan, "Apa yang harus diubah?", maka sastra melengkapinya dengan bertanya, "Apa yang dirasakan manusia ketika perubahan itu terjadi?"
Trotoar Rumah Kreatif Lesbumi Kudus telah selesai menggelar mimbar sunyinya. Tugas kita sekarang: lewat esai, puisi, dan gawai di tangan masing-masing adalah memperpanjang gaung bisikan itu agar terus berisik di dalam kepala mereka yang berpura-pura tuli.
Rumah Nenek, 29 Juni 2026
CATATAN KAKI:
Bagian utama judul ini meminjam judul lagu "Luka di Pelupuk Mata" karya unit post-punk Dongker.
Asrul Sani. (1997). Surat-Surat Kepercayaan. Jakarta: Pustaka Jaya.
Kuntowijoyo. (2013). Maklumat Sastra Profetik. Yogyakarta: Diva Press.
Henri Lefebvre. (1991). The Production of Space. Oxford: Blackwell.
Antonio Gramsci. (1971). Selections from the Prison Notebooks. London: Lawrence & Wishart.
UNESCO. (2025). International Literacy Day Concept Note: Promoting Literacy in the Digital Era. unesco.org.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar