SAAT melihat pentas Kelir Senin, 28 Juni 2026 malam di Auditorium UMK, saya seperti melihat Teater Samar hidup kembali. Ingatan saya melayang pada beberapa pesta pertunjukan Teater Samar beberapa tahun silam: ruang-ruang yang tak segera mengakui dirinya sebagai panggung, tubuh-tubuh yang bergerak pelan seperti sedang menghafal ingatan, benda-benda yang tampak biasa namun diam-diam memikul makna yang lebih berat daripada dialog panjang. Ada sesuatu yang serupa: cara pertunjukan tidak buru-buru dimulai, cara penonton dipaksa masuk ke dalam suasana sebelum sadar bahwa ia sedang menonton sesuatu. Pada saat itu, saya menyadari bahwa kadang pertunjukan terbaik bukanlah pertunjukan yang dimulai ketika lampu menyala, tetapi ketika kesadaran penonton mulai digeser secara perlahan.
Tulisan Melly Fardiani Tasmara di Mentas.id berjudul “KELIR: Sebelum Lampu Menyala, Kita Sudah Menjadi Penontonnya” menangkap sesuatu yang penting dari pertunjukan Teatri melalui karya Kelir. Pertunjukan ini tampaknya sengaja meruntuhkan anggapan paling mendasar dalam teater konvensional: bahwa pertunjukan dimulai di atas panggung dan penonton adalah pihak yang duduk diam di luar peristiwa. Sebelum memasuki ruang utama, penonton telah lebih dahulu berjalan melewati lorong instalasi. Tubuh penonton diposisikan sebagai bagian dari pengalaman artistik sejak langkah pertama. Panggung tidak lagi menjadi titik awal, melainkan hanya satu bagian dari keseluruhan pengalaman.
Pilihan semacam itu segera mengingatkan pada kecenderungan teater postdramatic sebagaimana dibahas oleh Hans-Thies Lehmann. Dalam catatanya bisa dipahami sebagai upaya memperluas kondisi-kondisi pengembangan teater. Dalil teater pascadramatik tidaklah menyatakan bahwa semua teater dramatik secara otomatis ketinggalan zaman atau inferior. Justru sebaliknya, tidak bertujuan untuk menggantikan apa pun, tetapi sekadar memperluas cakupan teater.
Dalam teater narasinya tidak lagi menjadi pusat tunggal pertunjukan. Tubuh, ruang, bunyi, objek, dan pengalaman sensorik memperoleh kedudukan yang sama pentingnya dengan cerita. Jika dalam teater dramatik klasik penonton diajak mengikuti konflik dan alur, maka dalam teater postdramatic penonton sering kali dilempar ke dalam situasi yang harus ditafsirkan sendiri. Penonton tidak lagi sekadar menyaksikan cerita; ia harus bekerja sebagai pembaca tanda.
Kelir tampaknya bekerja di wilayah ini. Jaring, selang, layar, pengulangan gerak, dan tubuh yang terus-menerus bergerak dalam pola tertentu muncul bukan sebagai dekorasi, melainkan sebagai sistem tanda. Jaring dapat dibaca sebagai jaringan sosial, ekonomi, atau relasi kekuasaan yang mengurung manusia modern. Selang dapat dimaknai sebagai saluran aliran: informasi, energi, modal, bahkan hasrat. Sementara layar menjadi simbol yang paling dekat dengan kehidupan hari ini: ruang mediasi tempat manusia mengalami kenyataan melalui citra.
Dalam kehidupan kontemporer, manusia semakin hidup melalui layar. Kita melihat dunia melalui telepon genggam, membangun hubungan melalui media sosial, menyampaikan kesedihan melalui unggahan, bahkan mengukur keberhasilan melalui jumlah tanggapan yang diterima. Kehadiran fisik perlahan digeser oleh representasi. Yang hadir bukan manusia, melainkan citra manusia.
Kelir tampaknya mencoba mempersoalkan hal itu. Namun di titik inilah kritik terhadap pertunjukan perlu diajukan. Sebagai pengalaman artistik, Kelir memang berhasil membangun atmosfer yang kuat. Penonton dibawa ke situasi yang terasa ganjil dan tidak nyaman. Ada kesadaran bahwa sesuatu sedang bekerja di balik seluruh peristiwa itu. Tetapi sebagai karya yang membawa kritik sosial dan filosofis, pertunjukan ini tampaknya menghadapi risiko yang cukup besar: hiper-ambiguitas makna.
Simbol memang memungkinkan banyak pembacaan. Namun ketika simbol terlalu dominan dan relasi antar simbol tidak cukup dibangun secara dramaturgis, penonton dapat kehilangan pegangan. Mereka mungkin pulang dengan perasaan terkesan, tetapi kesulitan menjelaskan apa yang sebenarnya baru saja mereka alami.
Dalam sastra, hal seperti ini sering dipersoalkan melalui pendekatan hermeneutik. Sebuah karya dapat sangat kaya secara simbolik tetapi gagal menyediakan horizon penafsiran yang memadai. Akibatnya makna terpecah menjadi pengalaman individual yang sulit dipertemukan. Setiap orang boleh memahami apa saja, tetapi justru karena semuanya mungkin, karya kehilangan ketajaman kritiknya.
Di sini muncul persoalan yang lebih jauh: apakah kebebasan penafsiran selalu merupakan kelebihan? Tidak selalu. Terlalu banyak kebebasan kadang justru membuat makna menguap.
Ketika Kelir menampilkan pengulangan tubuh, layar, dan sistem yang terus bergerak, penonton dapat memahami bahwa pertunjukan sedang berbicara mengenai kehidupan modern yang repetitif. Tetapi repetisi semata belum otomatis melahirkan kritik. Pengulangan harus menemukan titik ledak dramatiknya sendiri.
Dalam beberapa momen, repetisi dalam Kelir tampak lebih berfungsi sebagai pola estetis daripada perkembangan dramaturgi. Tubuh bergerak berulang, simbol muncul berulang, suasana dibangun berulang, tetapi intensitas makna tidak selalu ikut bertambah. Di sinilah perbedaan antara pengalaman artistik dan pengalaman dramatik mulai terasa. Pengalaman artistik dapat membuat penonton terpesona. Tetapi pengalaman dramatik membuat penonton berubah. Hal lain yang menarik untuk dipersoalkan ialah soal estetikisasi penderitaan.
Tulisan Melly menyinggung bagaimana emosi dikemas menjadi tontonan melalui layar. Ini merupakan kritik yang relevan dengan kehidupan sekarang. Media sosial membuat perasaan manusia menjadi komoditas visual. Kesedihan diposting. Kemarahan dipertontonkan. Kebahagiaan dikurasi. Tetapi persoalannya: apakah Kelir sendiri berhasil menghindari jebakan yang sama?
Ataukah ia justru ikut mengubah krisis manusia menjadi pengalaman visual yang indah? Pertanyaan ini penting diajukan karena banyak pertunjukan kontemporer terjebak pada paradoks yang sama. Mereka mengkritik sistem citra sambil sekaligus bergantung pada kekuatan citra. Mereka mengkritik tontonan sambil menjadi tontonan.
Kritik semacam ini pernah muncul dalam pembacaan terhadap berbagai karya teater visual kontemporer: bahwa estetika yang terlalu kuat dapat menjinakkan daya politis karya. Penonton akhirnya menikmati keindahan visual tanpa sungguh-sungguh terganggu secara etis. Padahal gangguan etis adalah unsur penting dalam pertunjukan yang ingin mengkritik realitas sosial.
Augusto Boal pernah mengembangkan gagasan tentang penonton yang aktif melalui konsep spect-actor. Penonton bukan hanya penikmat, melainkan pihak yang terlibat dalam proses perubahan sosial. Teater baginya harus menjadi latihan bagi tindakan nyata. Di dalam Kelir, batas antara panggung dan penonton memang dihapus. Penonton secara fisik dilibatkan. Tetapi pelibatan fisik belum tentu berarti pelibatan politis.
Penonton masuk ke dalam sistem pertunjukan, tetapi apakah mereka memperoleh ruang untuk menggugat sistem itu? Ataukah mereka hanya dipindahkan dari kursi penonton menuju posisi lain yang tetap pasif?
Pertanyaan ini penting karena keterlibatan sering kali menjadi ilusi baru dalam seni kontemporer. Penonton merasa ikut terlibat padahal seluruh pengalaman tetap telah dirancang sebelumnya. Kritik lain juga dapat diarahkan pada posisi politik pertunjukan. Kelir tampak berbicara mengenai sistem, kehidupan modern, dan dunia citra. Tetapi sistem yang mana? Kuasa yang seperti apa? Struktur sosial yang bagaimana?
Ketika kritik terlalu umum, ia berisiko kehilangan sasaran. Sistem dapat berarti kapitalisme. Sistem dapat berarti media. Sistem dapat berarti negara. Sistem dapat berarti kehidupan sehari-hari. Ketika semuanya mungkin, kritik kehilangan ketegasan arah.
Memang seni tidak wajib menjadi manifesto politik. Tetapi karya yang mengangkat kritik sosial biasanya memperoleh kekuatan lebih ketika simbol-simbolnya memiliki hubungan yang lebih jelas dengan konteks sejarah tertentu. Meski demikian, Kelir memiliki kekuatan yang tidak dapat diabaikan.
Pertunjukan ini mengingatkan bahwa panggung selalu merupakan konstruksi. Apa yang kita anggap nyata sesungguhnya sering kali hanyalah susunan citra yang diterima berulang-ulang. Kita hidup dalam kelir-kelir kecil setiap hari. Telepon genggam adalah kelir. Media sosial adalah kelir.
Iklan adalah kelir. Bahkan identitas diri yang kita bangun mungkin juga sebuah kelir. Kita memainkan peran yang berbeda di setiap tempat. Kita menjadi pekerja, orang tua, teman, pasangan, warga, pengguna media sosial, dan seterusnya. Sedikit demi sedikit kita belajar memainkan tokoh-tokoh itu sampai lupa wajah mana yang sebenarnya milik kita.
Mungkin di situlah kekuatan terbesar Kelir. Ia tidak sedang memberikan jawaban. Ia sedang memperlihatkan cermin. Dan seperti cermin, ia tidak pernah memberi tahu apa yang harus kita lakukan setelah melihat bayangan kita sendiri.
Ketika pertunjukan selesai, barangkali yang tersisa bukan cerita. Yang tersisa adalah pertanyaan. Dan kadang-kadang pertanyaan jauh lebih mengganggu daripada jawaban. Saat keluar dari ruang pertunjukan, saya kembali teringat pada Teater Samar. Saya teringat ruang-ruang yang pernah membuat penonton ragu apakah mereka sedang menonton atau sedang ditonton. Saya teringat tubuh-tubuh yang bergerak seperti sedang mengingat sesuatu yang hilang.
Barangkali itulah yang membuat saya merasa Teater Samar hidup kembali. Bukan karena bentuk pertunjukannya sama. Tetapi karena ada keberanian yang sama untuk meragukan kenyataan. Dan di zaman ketika hampir semua orang terlalu sibuk meyakini citra-citra yang ditawarkan layar, keberanian untuk meragukan mungkin telah menjadi tindakan yang paling penting. Semoga. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar