Panggung III

KELIR: Sebelum Lampu Menyala, Kita Sudah Menjadi Penontonnya

✍ Melly Fardiani Tasmara - 📅 29 Jun 2026

KELIR: Sebelum Lampu Menyala, Kita Sudah Menjadi Penontonnya
Melly Fardiani Tasmara

Barangkali pertunjukan paling jujur adalah pertunjukan yang bahkan tidak memberi tahu kapan ia dimulai.

Pada Kelir, panggung bukanlah awal.

Awalnya justru berada di luar ruang pertunjukan.

Sebuah manekin berdiri menjaga pintu masuk. Kepalanya dibungkus jaring. Di sepanjang koridor, tali-tali menjuntai memenuhi jalan yang harus dilewati setiap penonton. Tidak ada penjelasan mengenai instalasi itu. Tidak ada papan yang mengatakan, "Ini adalah bagian dari pertunjukan."

Namun setelah lampu padam di akhir pementasan, barulah terasa bahwa lorong itu bukan jalan menuju panggung. Lorong itu adalah panggung pertama.

Kelir tampaknya ingin mengatakan sesuatu yang sederhana sekaligus mengganggu "Sebelum duduk sebagai penonton, kita telah lebih dulu memasuki sebuah sistem dan sistem itu tidak berada di gedung pertunjukan. Ia berada dalam kehidupan."

Di atas panggung, berdiri sebuah stager yang menjadi pusat ruang. Selang-selang bening terikat padanya seperti akar yang tak terlihat. Para aktor bergerak mengelilinginya sambil mengulang nyanyian yang sama.

"Ditarik bukan untuk bermakna. Diuntai bukan untuk sempurna."

Kalimat itu terdengar seperti penolakan terhadap kecenderungan manusia yang selalu tergesa mencari makna. Kita terbiasa percaya bahwa setiap gerakan pasti memiliki pesan. Padahal mungkin sebagian besar hidup hanya berlangsung karena ia terus diulang.

Dan pengulangan menjadi bahasa utama Kelir.

Lagu diulang.

Gerak diulang.

Formasi diulang.

Kesalahan diulang.

Bahkan ketika seorang aktor mulai melepaskan selangnya karena bosan, ia segera dipaksa kembali ke posisi semula.

Sistem tidak menyukai penyimpangan.

Lalu terdengar kalimat yang mungkin paling banyak diperdebatkan malam itu.

"Tuhan kita adalah ruang hampa. Nabi kita adalah layar buta."

Kalimat ini mudah disalahpahami jika dilepaskan dari keseluruhan pertunjukan.

Sebab setelah 30 menit menyaksikan Kelir, terasa bahwa yang sedang dipersoalkan bukan agama.

Yang dipersoalkan adalah apa yang diam-diam menggantikan posisi makna dalam kehidupan manusia.

Ruang hampa bukan berarti Tuhan tidak ada. Melainkan manusia hidup di tengah kekosongan yang gagal ia isi.

Sedangkan layar buta bukan sekadar layar panggung. Ia dapat dibaca sebagai layar yang setiap hari kita sentuh dengan jari. Layar yang tidak memiliki mata, tetapi menentukan apa yang kita lihat. Layar yang tidak memiliki hati, tetapi membentuk apa yang kita rasakan. Layar yang tidak mengenal kita, tetapi perlahan mengajari kita menjadi diri sendiri.

Karena itu bait berikutnya terasa seperti kunci.

"Kita memintal jari yang sama menghidupi ilusi di atas kelir semesta."

Di panggung, para aktor benar-benar memintal selang dengan tangan mereka.

Di luar panggung, kita memintal dunia melalui ujung-ujung jari yang terus mengusap layar.

Simbol yang sederhana berubah menjadi kritik yang sangat dekat.

Pertunjukan kemudian memperlihatkan bagaimana penderitaan diperlakukan. Bukan sebagai luka. Melainkan sebagai estetika.

"Sedih itu estetika."

"Nangisnya kurang estetik."

Lalu lagu berikutnya berbunyi,

"Luka ditakar dalam presisi. Air mata dirakit jadi sensasi. Tangis diunggah, duka dikonsumsi."

Kalimat-kalimat itu tidak terasa asing. Hari ini kita hidup pada zaman ketika kesedihan pun memiliki tata cara penyajiannya. Semakin dramatis, semakin diperhatikan. Semakin menyentuh, semakin mudah menjadi konsumsi.

Kelir tidak sedang menyalahkan media sosial. Ia sedang mempertanyakan manusia yang perlahan belajar mengemas emosinya agar layak ditonton.

Di tengah pertunjukan terdengar suara mekanis.

"Sinkronisasi gagal. Dimuat ulang."

Semua kembali ke formasi awal.

Tidak ada yang benar-benar berubah.

Hanya mengulang.

Barangkali inilah ironi terbesar yang ditawarkan Kelir.

Manusia modern begitu percaya pada perubahan. Padahal yang sering kita lakukan hanyalah memperbarui tampilan, sementara pola hidupnya tetap sama.

Puncak pertunjukan terjadi bukan ketika aktor berbicara. Melainkan ketika jaring yang sejak awal dimainkan akhirnya dilempar hingga menutupi seluruh penonton. Saat itu batas panggung runtuh. Yang terjerat ternyata bukan para aktor. Melainkan kita.

Seketika manekin di pintu masuk menjadi masuk akal. Kepalanya telah dijaring bahkan sebelum pertunjukan dimulai.

Penonton melewati lorong bertali sebelum duduk.

Aktor memainkan selang yang berubah menjadi jaring.

Lalu jaring itu kembali kepada penonton.

Simbol itu membentuk lingkaran yang utuh.

Tidak ada seorang pun yang benar-benar berada di luar sistem.

Setelah semuanya hancur, seorang aktor bertanya, "Semenjak tidak ada yang mengatur, kita itu siapa?"

Pertanyaan itu tidak pernah dijawab dan memang tidak perlu dijawab. Sebab mungkin seluruh pertunjukan ini dibangun hanya untuk sampai pada satu kesadaran. Bahwa selama ini kita terlalu sibuk mencari siapa sutradaranya, siapa tokoh utamanya, siapa penjahatnya. Padahal barangkali yang keliru bukan panggung. Yang keliru adalah ketika manusia lupa bahwa ia sedang memainkan peran yang perlahan dipercaya sebagai dirinya sendiri. Mungkin itulah mengapa lampu padam tanpa tepuk tangan yang dipancing, tanpa penjelasan, tanpa kesimpulan.

Karena Kelir tidak menawarkan jawaban.

Ia hanya mengangkat tabir sejenak.

Lalu membiarkan setiap orang pulang sambil membawa pertanyaan yang sama:

"Jika semua peran, sistem, layar, dan jaring itu dilepaskan, masihkah kita mengenali siapa diri kita sebenarnya?"

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar