Folks

Tari Gobong - Dari Tanah, Api, dan Ingatan

✍ Melly Fardiani Tasmara - 📅 18 Sep 2026

Tari Gobong - Dari Tanah, Api, dan Ingatan
Melly Fardiani Tasmara

Kita terbiasa membayangkan tradisi sebagai sesuatu yang tampak: upacara, sesaji, tabuh gamelan, gerak tari yang diwariskan dari satu tubuh ke tubuh berikutnya. Padahal tradisi juga hidup di tempat yang jauh lebih sunyi — di pekerjaan sehari-hari. Di cara orang mengolah bahan, memperlakukan ruang, dan menurunkan pengetahuan bukan lewat ajaran, melainkan lewat praktik yang diulang ribuan kali sampai menjadi tabiat.

Di Kampung Budaya Cabean, Desa Papringan, Kecamatan Kaliwungu, tradisi semacam itu punya bentuk yang sangat konkret: genteng.

Sebelum sebuah genteng naik ke atap dan menaungi orang tidur, tanah menempuh perjalanan yang panjang. Tanah diambil. Diairi. Diolah sampai menjadi liat dan penurut. Dicetak. Dijemur sampai kering betul. Lalu masuk ke tahap terakhir: digobong — dibakar di tempat pembakaran.

Setiap tahap itu menyimpan pengetahuan yang tidak tertulis di mana pun. Seberapa banyak air yang cukup. Kapan tanah sudah siap dicetak. Kapan jemuran dianggap kering. Kapan api sudah pas. Tidak ada takarannya di buku; takarannya ada di tangan orang yang sudah mengerjakannya bertahun-tahun.

Bagi Achmad Apshohus Sobirin, Ketua Kampung Budaya Cabean, proses itu bukan sekadar produksi. Itu pengetahuan dan pengalaman masyarakat yang perlu terus dikenalkan, terutama kepada generasi yang datang kemudian.

Ketika pekerjaan pergi, pengetahuannya ikut

Persoalannya sederhana dan sulit sekaligus: ketika sebuah pekerjaan menjauh dari keseharian generasi berikutnya, yang hilang bukan cuma pekerjaannya. Pengetahuan di baliknya ikut pergi, diam-diam, tanpa upacara perpisahan.

Anak-anak hari ini masih mengenal genteng sebagai benda. Mereka tahu genteng itu apa, di mana letaknya, untuk apa gunanya. Tapi belum tentu mereka mengenal perjalanan yang membuatnya ada — bahwa benda yang paling dekat dengan hidup mereka itu pernah berupa tanah, pernah dipegang tangan tetangga sendiri, pernah melewati api.

Di titik inilah seni bisa mengambil peran. Bukan sebagai pengawet.

Merawat tradisi tidak cukup dengan mempertahankan bentuk yang sudah ada. Bentuk yang hanya dipertahankan lama-lama menjadi benda pameran: utuh, tapi tidak lagi dipakai siapa-siapa. Tradisi perlu diberi ruang untuk dibaca ulang, ditafsirkan, dan dihadirkan kembali lewat penciptaan baru supaya pengetahuan di dalamnya tetap punya urusan dengan hidup orang hari ini.

Tari Gobong

Dari situlah Tari Gobong lahir.

Karya ini mengangkat tahapan pembuatan genteng menjadi bahasa gerak: mengambil tanah, mengairi dan mengolahnya menjadi liat, mencetak, menjemur, hingga menggobong. Prosesnya tidak sekadar dipindahkan ke atas panggung, ia diterjemahkan lewat tubuh. Pekerjaan menjadi sumber kreasi, sementara tradisi tetap menjadi pijakan.

Nama Gobong sendiri berangkat dari proses pembakaran. Tapi dalam pembuatan genteng, gobong juga menunjuk pada tempatnya: tungku pembakaran sekaligus area tempat seluruh proses berlangsung. Kata itu, dengan kata lain, menampung dua hal sekaligus yakni tindakan dan ruang.

Karena itu Tari Gobong tidak hanya bercerita bagaimana sebuah genteng dibuat. Ia membawa kembali gambaran tentang ruang kerja, tentang proses, dan tentang pengetahuan orang-orang yang berdiri di balik sebuah benda yang terlalu biasa untuk diperhatikan.

Sembilan edisi Serah lahir dari sesuatu yang lebih lambat dan kurang terlihat daripada pertunjukan: kerja menumbuhkan ekosistem di kampung, hal itu digarap oleh Kampung Budaya Cabean melalui program - programnya sejak 2017 yang kali ini berkolaborasi dengan tim Serah.

"Pembangunan seni di daerah terlalu sering dimulai dari yang paling mudah dilihat seperti gedung, panggung, festival, dokumentasi. Padahal itu semua hilir. Kalau di kampungnya tidak ada orang yang berlatih, tidak ada yang mencipta, tidak ada regenerasi, gedung sebagus apa pun hanya jadi bangunan kosong yang disewakan. Ekosistem itu tumbuh dari bawah: dari warga yang mau berproses, dari ruang latihan sederhana, dari kesediaan menganggap pekerjaan sehari-hari sebagai sumber penciptaan. Itu pelan, tidak fotogenik, dan jarang masuk laporan. Tapi di situlah seni daerah sebenarnya hidup atau mati."

— ujar Dian Puspitasari, Produser Serah.

Kritik itu tidak sedang menolak fasilitas. Ia sedang mempersoalkan urutan. Membangun panggung lebih cepat daripada membangun orang, dan karena lebih cepat, ia lebih sering dipilih.

Serah#9 mengambil urutan sebaliknya. Karyanya tidak didatangkan dari luar; ia digali dari pekerjaan yang sudah ada di kampung itu sendiri.

Serah#9 "Merawat Tradisi Merayakan Kreasi" akan digelar Sabtu, 19 September 2026, pukul 19.00 WIB di Kampung Budaya Cabean, Desa Papringan, Kecamatan Kaliwungu, dengan menampilkan Tari Gobong.

Yang dirawat malam itu bukan hanya bentuk tarinya, bukan pula sekadar cara membuat genteng. Ada ingatan tentang manusia, pekerjaan, dan pengetahuan yang ikut dijaga. Dari tanah menjadi genteng. Dari pekerjaan menjadi pengetahuan. Dari pengetahuan menjadi ingatan yang dihadirkan kembali lewat tubuh yang bergerak.

Dan setelah lampu panggung padam, pertanyaannya tinggal di tangan kita: berapa banyak pengetahuan di sekitar kita yang sedang pelan-pelan pergi tanpa sempat kita sadari — dan apa yang sudah kita siapkan untuk menahannya?

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar