Kau sama sekali tidak memiliki bayangan tentang tempat yang akan kau tuju siang itu, selain air. Sudah jadi semacam imajinasi kolektif bahwa dusun yang dikunyah rob pastilah akrab dengan air, dan puing.
Sebelum berangkat, kau menunggu seorang kawan di sebuah kedai kopi yang teduh dan dekat makam dengan bunga-buga bougenvil. Pagi itu baru saja kau habiskan untuk mengantar anakmu mengikuti lomba dalam rangka merayakan Hari Kemerdekaan di Museum Kretek, kegembiraan kanak-kanak yang riuh dan tak lekas kering. Begitu kawanmu tiba, kalian bergegas menjemput jalan menuju ke arah matahari melindap. Melewati debu beterbangan, membelah kepadatan jalur Pantura Demak, tetapi tak sampai tergelincir masuk ke Semarang.
Timbulsloko, Sayung. Titik itu yang kalian tuju.
Pukul dua siang lewat entah berapa menit, kau, Kim, Sindat dan Petrus tiba setelah sempat tersesat. Pada layar ponsel, titik merah peta digital itu sesungguhnya hanya berjarak seujung kuku. Namun, tepat di depan moncong kendaraan, aspal itu sudah lenyap terbenam air hingga jauh ke batas pandang. Kalian bertanya kepada warga sekitar dan seorang pemotor yang rupanya juga terkecoh peta digital ngehek itu. "Putar balik, Mas. Nanti belok kanan pas ada sekolahan," kata warga.
Jalanan yang kemudian kalian lalui membuat Sindat tak putus-putus menggerutu dan memaki di balik kemudi. Di kiri dan kanan tersaji air, puing-puing reruntuhan, pemancing, beberapa pohon rapuh, dan air. Saat kau menghadap atas, langit teramat biru, sesekali nampak cerobong pabrik menjulang memuntahkan jelaga hitam pekat ke cakrawala pesisir yang terik. Pemandangan ini mengingatkanmu pada lanskap distopia dalam The Great Derangement karya Amitav Ghosh: sebuah kegagalan imajinasi modern ketika peradaban manusia menganggap alam adalah latar pasif yang jinak, hingga tiba saatnya air laut naik dan menagih kembali seluruh ruang yang pernah dirampas oleh mesin dan ekstraksi.
Kalian akhirnya tiba di sebuah tepi. Beberapa sepeda motor terparkir di sisi kanan, lagi-lagi di dekat sebuah makam, kali ini tidak ada bougenvil. Di sisi kiri berdiri dua rumah daratan yang tersisa, sedangkan selebihnya adalah genangan dan perahu kayu kecil yang bersandar lunglai.
Salah satu rumah itu difungsikan sebagai pos registrasi oleh LBH Semarang. Kau bersalaman, bertukar kabar dengan kawan dari Jepara, lalu menyadari satu hal: kalian sebenarnya sudah terlambat. Penyelenggara sempat menahan rombongan karena daya dukung dusun di seberang sangat ringkih: kapasitasnya terbatas dan kelebihan muatan bisa berujung petaka. Namun, kau meyakinkan panitia perihal registrasi yang sudah kau komunikasikan sebelumnya.

Ada satu kawan lagi yang masih memacu sepeda motornya sendirian: Azka. Kalian menunggu hingga deru motor Azka terdengar, menjadikan kalian rombongan perahu kloter terakhir yang diizinkan menyeberang. Tak ada satupun dari kalian yang membayangkan bahwa untuk menuju venue di mana Majelis Lidah Berduri dan The Brandals dan Tridhatu main mesti menyeberangi debur ombak itu. Dan kalian merasa hanya perlu mengikuti arah angin.
Perahu kayu kecil itu berguncang. Debur ombak menghantam lambungnya yang ramping dengan suara tumpul dan ritmis. Bisik-bisik sepasang lelaki dan perempuan. Kursi dari papan kayu yang keras dan hangat. Perahu yang bergoyang pelan, kau tidak merasa cemas apabila perahu karam lalu tenggelam, sebab kau cukup percaya diri dengan kemampuan renangmu yang hanya bisa gaya katak itu. Di kejauhan, tampak jalur penghubung antardusun yang sedang coba dibangun. Namun baru berupa jejak-jejak fondasi kasar yang kepayahan melawan pasang surut.
Lalu perahu merapat. Begitu melangkah, telapak kakimu hanya disambut oleh kayu, kayu, dan kayu dan tentara dan bapak-bapak berseragam berdiri di hadapan kalian dengan perut lebih menonjol. Di bawah celah-celah papan itu, sepenuhnya adalah air dan air dan air dan reruntuhan benda-benda warga Dusun Timbulsloko.
Kau membisikan nama itu dengan pelan dalam hati. Menanam benih tentangnya pada bagian tanah gersang di tubuh dan ingatan. Nama yang sudah bertahun-tahun kau dengar di obrolan meja kopi atau lini masa advokasi serta deras arus sosial media tetapi tak pernah kau rasakan bagaimana ketika udara kering dan panas dan lengket di sana mendekap kulitmu. Sebetulnya kau sudah lama ingin menjejakkan kaki tahun lalu, tetapi saat itu kau masih tertahan residensi di perbukitan karst Petir, Gunungkidul. Baru hari ini garis nasib membawamu ke depan sebuah musala yang terapung ganjil, sekolah yang tenggelam dan rumah-rumah beratap rendah di sisi-sisi lainnya.

Rumah-rumah panggung warga berdiri dengan atap kelewat sopan, sehingga siapa pun yang melintas di pelataran kayu atau hendak bertamu harus menundukkan kepala dalam-dalam, seolah tempat ini meminta setiap orang untuk terus-menerus membungkuk takzim kepada kemalangan yang tenang. Entah mengapa tatapanmu yang menyisir jalan berpapan kayu itu, mengantarmu kepada lengan-lengan puisi Afrizal Malna:
Kota kami dijaga mitos-mitos kecemasan… impian yang sedang membagi diri dengan daerah-daerah tak dikenal, siapakah pengusaha besar yang memborong tanah ini.
Kami ingin tahu di mana anak-anak kami dilebur jadi bensin.
Jalan-jalan bergetar, membuat kota-kota baru sepanjang hari.
Radio menyampaikan suara-suara ganjil di situ, dari kecemasan menggenang, seperti tak ada, yang bisa disapa lagi esok pagi.
Kecemasan yang menggenang, di sini bukan lagi puisi, melainkan air asin yang sewaktu-waktu mengetuk dinding tripleks rumah warga. Segala perabotan, pintu, dan kenangan keluarga teronggok beku di antara pasang surut, seolah-olah waktu telah berhenti menghitung manusia:
Kota telah pergi jauh sampai ke senja. Aku bersalaman. Matahari yang bukan lagi pusat, waktu yang bukan lagi hitungan. Angin telah pergi, tidak lagi ucapkan kotamu, tak lagi ucapkan namamu.
Di atas titian kayu yang ringkih ini, Timbulsloko menjelma ruang perbatasan tempat tanah kehilangan ibunya. Kampung ini meranggas dalam taruhan kekuatan industri dan abrasi, menjadi saksi bagaimana manusia dipaksa beradaptasi dengan dekor-dekor kehancuran yang baru:
Tanah berkaca-kaca di situ, mencium bau manusia, menyimpan kami dari segala jaman. Kami pahami lagi debur laut, tempat para leluhur mengirim burung-burung, mencipta kata. seperti malam-malam mencari segumpal tanah yang hilang: Tempat bahasa dilahirkan.
Dan di hadapan laut yang terus meluap menelan tapak rumah warga, membungkuk di bawah atap rendah bukan lagi sekadar perkara menjaga kepala agar tak terbentur kayu, melainkan cara tubuh bertahan sembari mencari segumpal tanah leluhur yang perlahan lindap.
Di depan musala itu, kau berpapasan dengan Mas Jati yang sedang duduk melingkar bersama kawan-kawannya, ia merupakan kawan lama dari masa inkubasi di Loka Carita di Nitiprayan. Kalian berbincang sejenak tentang hari-hari lampau yang kering, menanyakan kabar dan sudah berapa lama ia di sana.

Di panggung yang ditopang bilah-bilah kayu di atas air laut, sekelompok ibu-ibu membuka pertunjukan dengan kacamata hitam, topi caping putih bertulis merah “Timbulsloko menolak tenggelam” dan kaus hitam-hitam dengan lengan pink bertuliskan “TIDAK ADA MUSIK DI PLANET YANG MATI”. Mereka menyanyi, menggerakkan tubuh dalam koreografi sederhana, lalu serempak mengacungkan kepalan tangan kiri ke udara. Panggung itu adalah artistik paling muskil yang pernah kau saksikan. Tidak ada pembatas yang memisahkan penonton dari laut di bawahnya. Akses jalan hanya berupa titian kayu selebar dua langkah, lengah sedikit saat berpapasan dengan penonton lain, kau dipastikan langsung tercebur, seperti tumbler milik Sirril Wafa seniman dari Demak.
Ketika Majelis Lidah Berduri mulai menyulam repertoar mereka, suara distorsi gitar dan vokal berpadu dengan deru angin pesisir, debur ombak yang membentur tiang pancang, dan raungan mesin genset yang menyala di kejauhan. Penonton duduk bersila di atas papan, sebagian berdiri di sudut-sudut, meghayati pekikan vokal yang menggema di dada:
Ada batas dari rampas
Dari biar
Dari pasrah
Dari kalah
Dari mimpi yang kau rebut
Dari hidup yang kau renggut
Pagar: salah satu lagu yang dinyanyikan tepat di atas air yang telah merampas segalanya. Ironi itu terasa begitu telanjang, di tempat di mana tanah fisik telah lenyap ditelan laut, lagu tentang tanah justru digelorakan dengan intensitas yang menggetarkan papan-papan kayu tempat puluhan pasang kaki berpijak:
Dari tanah
Kembali ke tanah
Lewat jalan tanah
Jauh sampai ke pagar yang melingkar medan perang
tempat tanah diperebutkan
Ibu dari tanah
Makan tanah
Nyanyi
Ingin kembali ke tanah
Tempat ibunya dari tanah
Kembali ke tanah
Seusai perang bagi-bagi tanah
Bagi-bagi tanah
Tubuh-tubuh yang berdiri gentar di hadapan kepungan rob itu seolah dipanggil kembali oleh memori agraria yang luka, sebuah garis riwayat panjang tentang tanah leluhur yang tak pernah selesai diiris, diikubur, dipecah, dibeton dan dikavling:
Tubuhmu tubuh debu tubuh tanah tubuh ibumu
Tubuhmu tubuh debu tubuh tanah tubuh ibumu
Tubuhmu tubuh debu tubuh tanah tubuh ibumu
Tubuh tanah tubuh ibu

Mantra yang merapal berulang kali itu berdenyut serupa talqin di bibir liang lahat. Di kampung yang perlahan terhapus dari peta ini, dentum suara itu melampaui sebuah repertoar, ia adalah requiem bagi tanah yang karam dan tubuh-tubuh yang menolak lebur menjadi debu tak bernama.
Seusai pertunjukan, kau berfoto dan menyapa Ugoran Prasad, lalu Mbak Alia Swastika membicarakan potensi ruang di Kudus, serta mendengarkan Mas Pop dari Lasem Heritage mengabarkan pengarsipan batik Jawa dan nasib kantor mereka yang digusur pemilik modal. Semua percakapan itu berlangsung di atas lantai yang berderit dan memantulkan air di bawahnya.
Sore pelan-pelan ditelan udara malam yang kian lengket. Kalian menepi melewati jalan setapak kayu menuju teras rumah seorang warga untuk memesan es teh dan bakso hangat. Selepas azan magrib berkumandang, warga dan para pengunjung kembali merapat di sepanjang jalan kayu utama. Malam tirakatan tujuh belas Agustus dimulai. Pendar visual mapping dari Anton Setiawan menembak kain-kain display artistik dan rumah apung menerangi seruan-seruan protes dan wajah-wajah letih yang tersapu warna-warni cahaya digital.
Tak pernah ada malam tujuh belasan yang semenggetarkan sekaligus sesenyap ini. Ketika kumandang Indonesia Raya merambat lambat di atas permukaan laut yang hitam, waktu seakan berhenti menghitung pasang surut. Lagu kebangsaan itu mengalun diapit deru mesin dan gemercik air, menyatukan kepala-kepala yang lelah. Orang-orang berdiri mematung: di atas jembatan bilah yang berderit, di ambang pintu rumah panggung yang memaksa mereka merunduk seharian. Tepat ketika bait terakhir luruh ke udara asin, seorang warga di dekat panggung melepas lengkingan sumbang yang merobek desau angin malam: "Merdeka!" Sebuah pekik yang terdengar seperti doa sekaligus gugatan. Lengkingan yang tidak terdengar gagah, mengambang di antara udara basah, di antara keharusan untuk tetap mencintai tanah air dan kenyataan pahit bahwa tanah itu sendiri sudah lama karam.
Suasana hening sesaat setelahnya, disusul acara makan bersama yang riuh. Di tengah keramaian itu, sesekali terdengar bunyi benda terjatuh: plung. Entah benda apa yang ergelincir dan langsung amblas ditelan laut malam.
Sesuatu yang dingin berkecamuk dan mengguncang rongga dadamu dari dalam, sementara angin malam di Timbulsloko justru bertiup amat tenang dan kering. "Dulu di sini tanah daratan, Mas," ujar Bu Marsanah (60 tahun), pemilik rumah beratap rendah tempat kalian singgah, membeli es teh dan beberapa mangkuk bakso. "Dari saya kecil sampai sekarang punya enam anak, dulunya sawah, ada kerbau, tanahnya subur.” Dan entah kenapa dalam 10 tahun terakhir, air laut kian merengsek ke dalam. Membenamkan apa-apa yang dapat dijangkaunya. “Dengan cepat. Berkali-kali. Berkali-kali.”
Apa yang diucapkan Bu Marsanah jelas bukan sekadar ratapan seorang perempuan tua, ia adalah saksi hidup tanahnya sendiri yang ambles perlahan. Sejumlah laporan lingkungan mengonfirmasi bahwa daratan Sayung dan Timbulsloko amblas 10 sampai 20 sentimeter saban tahun, rekor penurunan muka tanah yang menempatkannya di jajaran paling ekstrem di dunia. Menuding alam sebagai biang keladi tunggal adalah kekeliruan besar sama halnya seperti membebanka petaka ini kepada takdir semata. Ini buntut panjang dari rakusnya ekstraksi air tanah besar-besaran oleh kawasan industri di sepanjang koridor pesisir, pembabatan sabuk mangrove demi tambak intensif di masa lalu, serta pembangunan infrastruktur abu-abu yang mengubah pola hidrologi laut. Dalam laporan Koalisi Maleh Dadi Segoro, Timbulsloko adalah saksi bisu bagaimana lebih dari 200 kepala keluarga di satu pedukuhan perlahan terisolasi di atas pulau-pulau panggung, sementara ratusan hektare sawah produktif dan makam leluhur telah resmi dihapus dari peta administrasi daratan menjadi batas perairan baru.
Sebagian tetangga Bu Marsanah sudah menyerah dan pindah, sebagian memilih bertahan di atas tiang-tiang kayu yang ditinggikan saban tahun. Ketika kau bertanya perihal harapan untuk hari esok, Bu Marsanah hanya menatap lantai kayu yang basah, lalu tersenyum tipis: "Entahlah."
Kata "entahlah" itu menghantam kepalamu lebih keras daripada deru mesin kapal. Di kepalamu, ingatan melesat jauh ke pesisir selatan Kulon Progo beberapa tahun silam. Kau teringat pada ayah dari Savira, bocah perempuan kecil yang kau temani belajar membaca hampir sebulan penuh di tengah ancaman penggusuran lahan. Dulu, sambil memandangi kebun sayur yang terancam diratakan buldoser, ayah Savira berkata dengan suara tenang: "Ini bukan soal menang atau kalah, Mas. Ini soal tanggungjawab dan bertahan menjaga tanah leluhur."
Angin membawa kabar bahwa keluarga Savira kini terbuang ke Temanggung. Rumah tinggal, petak-petak kebun tempat hidup dipetik sehari-hari, nisan leluhur, dan tanah bermain masa kecil telah menguap tanpa sisa menjadi bentang beton landasan pacu Yogyakarta International Airport.
Dari daratan Kulon Progo yang dirampas hingga rumah-rumah warga Timbulsloko yang pelan-pelan karam, kau melihat benang merah yang sama. Telaah suram Giorgio Agamben dalam Homo Sacer (1998) menjawab persis teka-teki: siapa yang hidupnya dianggap berharga dan siapa yang sah dibiarkan karam? Di mata Agamben, ketika manusia disingkirkan dari segala kepastian hidup sampai tersisa sekadar tubuh biologis belaka (bare life) yang tak lagi diakui negara maupun daratan, kehilangan harapan bukan lagi bentuk kepasrahan, melainkan siasat terakhir untuk tetap bertahan hidup. Hilangnya harapan berhenti menjadi aib kepasrahan, melainkan sebuah siasat psikologis agar jiwa tak remuk berkali-kali.
Hal ini berkelindan dengan apa yang dicatat Rob Nixon sebagai slow violence: kejahatan ekologis berjangka panjang yang bekerja tanpa suara, perlahan menghapus tapak tanah kaum papa. Ia merumuskann petaka ini sebagai kekerasan lambat, tubrukan ekologis yang tak meletup dramatis seperti perang, melainkan merayap senyap, mengikis daratan, dan sengaja dipinggirkan dari radar negara karena korbannya miskin kuasa.
Situasi ini menggenapi diagnosis Mark Fisher tentang kebuntuan imajinasi masa depan; sebuah labirin tanpa jalan keluar ketika kehancuran tampak berjalan otomatis. Maka bagi Bu Marsanah, kehilangan harapan bukanlah tanda takluk, melainkan siasat paling waras. Jawaban "entahlah" yang pasrah itu bukan wujud kekalahan, melainkan satu-satunya cara bertahan agar tidak kehilangan akal sehat dan menjadi menjadi gila di hadapan air yang saban hari menelan dapurnya. Air yang terus mengunyah ruang tidurnya.
Lamunanmu terputus saat deru perahu memecah malam. Azka pamit menyeberang lebih awal bersama rombongan Majelis Lidah Berduri, lalu sebuah foto daratan seberang masuk ke layar ponsel Kim sebagai kabar bahwa ia telah menjejakkan kaki di daratan seberang.
Beberapa jam kemudian, kalian menyusul pulang dengan perasaan yang babak belur dan kacau. Di atas perahu kayu yang membawa kalian membelah kegelapan laut, kau duduk tepat di depan seorang ibu paruh baya yang jenaka namun cerewet. Ia sempat menyemprot pengemudi perahu sebelah karena mendengar salah satu dari dua armada yang ada bocor lambungnya.
"Lah, sesok pie leh cah-cah sekolah?!" gerutunya sengit.
Sejurus kemudian, dengan nada yang melembut, ia menunjuk ke hamparan air hitam pekat sepanjang mata memandang. "Di sana sampai sini itu dulunya lahan, Mas. Subur. Ada sawah, ada pohon-pohon, ada hewan ternak. Terus nggak tahu kenapa, air kok ya masuk terus,”
Ibu itu menghela napas, lalu tersenyum kecil. "Tapi ya berkat banyak teman-teman berkunjung, ada dari Jogja, Jakarta, Semarang, Papua, dari mana-mana pokoknya... akhirnya bantuan mulai datang. Dulu boro-boro, tahu saja orang-orang luar itu tidak. Bu Susi Pudjiastuti yang ngasih dua perahu ini. Buat nyeberangin anak-anak mau sekolah, ibu-ibu belanja ke pasar. Pemerintah ya pelan-pelan mulai ngasih bantuan fondasi jalan."
Perahu akhirnya membentur bibir daratan tempat kalian berangkat tadi siang. Kau masih berdiri mematung di tepian, menghirup aroma asin payau yang pekat dan bau lumpur yang busuk-manis. Langit sudah hitam, tapi tak sepenuhnya padam. Dari kejauhan, saat panggung The Brandals mulai menggelegar di seberang, pendar lampu-lampu pemukiman Timbulsloko tampak berkedip-kedip redup di atas permukaan air, seperti kerumunan kunang-kunang terakhir yang teramat rapuh dan kian jarang ditemukan lagi.
Ingatan perjalanan dan pekatnya malam itu mendadak menyumbat tenggorokanmu esok harinya.
Ketika kau terbangun pada pagi tujuh belas Agustus dan menyalakan layar kaca, sebuah tontonan megah langsung menyergap matamu: parade kenegaraan yang berkilau di ibu kota. Barisan pejabat melenggang anggun dalam balutan busana adat termewah, deru pesawat tempur meliuk pongah di angkasa, melesat angkuh mencabik langit memamerkan akrobatik kuasa dan baliho raksasa bergambar potret presiden berkibar congkak di atas aspal mulus Jakarta seolah menantang cakrawala.

Sesuatu yang getir mendadak menyumbat tenggorokanmu, membuat matamu panas dan basah di depan televisi. Rasa mual menghantam ulu hatimu hingga kau terisak. Rasanya meludah berulang kali pun tak akan cukup membasuh amarah dan rasa jijik yang mengendap di dada. Negara tampak begitu tekun merawat ilusi kemegahan dan kejayaan, memperlakukan kemerdekaan tak ubahnya komoditas tontonan artifisial yang sepenuhnya buta pada kepedihan warganya, mitos kemegahan yang diproduksi secara massal itu merupakan sebuah pesta kemerdekaan yang telah lama terasing dari derita tanah airnya sendiri.
Di saat yang bersamaan, di bawah langit Nusantara yang sama, ingatanmu terseret kembali ke Timbulsloko. Di sana, anak-anak, para ibu, tetua kampung, dan para lelaki sedang menjejak bilah-bilah papan kayu, merapatkan barisan di atas jemabatan dan jalan yang rapuh. Mereka tetap menghormat pada sang saka yang dikerek pelan, dengan air yang menenggelamkan sebagian tubuh mereka, melarung doa di atas kampung halaman yang sedang sekarat. Mengheningkan cipta dengan sepasang mata yang terpejam sekaligus nyalang.
Di sanalah kau tahu, waktu di pesisir ini tidak pernah berjalan maju. Waktu telah berhenti berjanji tentang esok hari. Waktu hanya bekerja seperti air pasang yang surut sambil terus menggerus: merenggut tanah kelahiran sejengkal demi sejengkal, menelan tubuh demi tubuh, dan membenamkan mimpi demi mimpi. Mimpi demi mimpi.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar