Tikar digelar. Lampu petromaks menyala di sudut panggung darurat. Tidak ada batas tegas antara pemain dan penonton. Seseorang dari bangku penonton bisa menyahut dialog, melempar komentar, bahkan naik ke panggung untuk menimpali lawakan.
Begitulah, dalam banyak ingatan tentang seni pertunjukan rakyat, panggung tidak pernah benar-benar terpisah dari kehidupan sehari-hari. Ludruk, ketoprak, lenong, dagelan, hingga ubrug tumbuh dalam ruang sosial yang memungkinkan pertunjukan menjadi bagian dari kehidupan warga. Pertunjukan tidak semata-mata ditonton; ia dihidupi, ditanggapi, bahkan diperdebatkan bersama.
Pertanyaan mengenai perubahan ruang dan fungsi itulah yang menjadi salah satu titik berangkat SERAH #8, program Dewan Kesenian Kudus (DKK) yang kembali mempertemukan praktik seni, gagasan, dan publik.
Dalam persiapan acara, Dian Puspita Sari berbincang bersama Melly Fardiani Tasmara, Pimpro SERAH, dan Bazar Al Walid, penulis sekaligus sutradara. Percakapan mereka tidak berhenti pada bagaimana tradisi dibawa ke panggung kontemporer, tetapi bergerak lebih jauh: apa yang sebenarnya hilang ketika sebuah pertunjukan rakyat dipindahkan dari halaman rumah warga ke gedung pertunjukan?
Dian: "Kalau kita bicara pertunjukan rakyat, sebenarnya apa yang membuatnya menjadi rakyat? Apakah bentuknya, kostumnya, bahasanya, atau justru hubungan antara pemain dengan penontonnya?"
Pertanyaan itu membuka persoalan yang lebih mendasar.
Dalam banyak bentuk pertunjukan rakyat berbasis dagelan, komedi bukan sekadar perangkat hiburan. Ia dapat menjadi cara yang relatif aman untuk membicarakan ketimpangan, kekuasaan, dan persoalan sehari-hari. Tokoh yang berada di bawah bisa menertawakan tokoh yang berada di atas. Pejabat, juragan, tuan tanah, atau bahkan struktur kekuasaan dapat menjadi bahan olok-olok.
Tawa, dengan demikian, bukan hanya respons terhadap kelucuan. Ia dapat menjadi bentuk persetujuan sosial sekaligus mekanisme negosiasi kekuasaan.
Melly Fardiani Tasmara melihat persoalan tersebut sebagai tantangan penting bagi penyelenggaraan SERAH.
Melly: "Yang menarik bukan sekadar bagaimana tradisi itu kita tampilkan kembali. Kita perlu bertanya: ketika konteks sosialnya berubah, apakah fungsi pertunjukannya masih ikut kita bawa?"
Dalam konteks desa, pemain dan penonton berada dalam lingkungan sosial yang relatif sama. Mereka berbagi persoalan, mengenal tokoh-tokoh yang menjadi bahan pembicaraan, dan memahami kode-kode sosial yang bekerja dalam lawakan.
Ekonomi pertunjukannya pun sering kali berbeda. Pertunjukan dapat berlangsung melalui patungan warga, hajatan, atau dukungan komunitas. Tidak selalu ada tiket yang memisahkan siapa yang "membeli tontonan" dan siapa yang "menjual pertunjukan".
Desa menjadi panggung, dan panggung menjadi perpanjangan desa.
Namun, ketika pertunjukan semacam itu berpindah ke festival kota, gedung kesenian, atau program seni, situasinya berubah.
Penonton mungkin tidak lagi berbagi persoalan sosial yang sama dengan pemain. Lelucon mengenai pejabat desa, misalnya, dapat kehilangan konteks ketika pertunjukan disaksikan oleh publik kota, kurator, pejabat kebudayaan, wisatawan, atau kelompok kelas menengah yang datang untuk menikmati "kearifan lokal".
Pada titik tertentu, pertanyaan yang muncul bukan lagi apakah pertunjukannya masih lucu?, melainkan siapa yang sekarang menjadi sasaran tawa?
Bazar Al Walid, yang terlibat sebagai penulis dan sutradara, melihat perpindahan ruang tersebut bukan sebagai alasan untuk menolak perubahan.
Walid: "Tradisi tidak harus dibekukan. Yang penting justru kita tahu apa yang sedang kita bawa ketika mengambil sebuah bentuk tradisi. Kalau bentuknya kita ambil, tetapi cara berpikir dan daya kritiknya kita tinggalkan, jangan-jangan yang tersisa hanya dekorasinya."
Dari sinilah percakapan SERAH #8 bersinggungan dengan istilah Mooi Indie.
Istilah tersebut pada mulanya merupakan bagian dari kritik terhadap kecenderungan seni lukis kolonial yang menghadirkan Hindia sebagai lanskap tropis yang indah, damai, dan eksotis, sementara realitas sosial-politik yang penuh ketimpangan berada di luar bingkai. Kritik S. Sudjojono pada akhir 1930-an kemudian menjadikan Mooi Indie sebagai salah satu istilah penting dalam perdebatan mengenai hubungan seni, kenyataan, dan kehidupan sosial.
Dalam konteks SERAH #8, istilah tersebut dipinjam sebagai metafora, bukan sebagai istilah baku dalam disiplin teater.
Metaforanya sederhana: jangan sampai desa diperlakukan seperti lukisan Mooi Indie—indah untuk dipandang, tetapi kehilangan konflik yang membuatnya hidup.
Gamelan dapat terdengar megah. Kostum tradisional dapat dirancang semakin spektakuler. Dialek daerah dapat dipertahankan sebagai penanda autentisitas. Ornamen desa dapat dipindahkan ke panggung dengan tata cahaya yang lebih modern.
Tetapi apabila seluruh ketegangan sosial, humor, kritik, dan relasi warga yang dahulu menjadi bagian dari pertunjukan telah disingkirkan, apa sebenarnya yang sedang dipertahankan?
Walid: "Kita sering merasa sudah menjaga tradisi karena bentuknya masih ada. Padahal mungkin yang kita pertahankan hanya kulitnya."
Dian: "Jadi masalahnya bukan tradisi berubah atau tidak?"
Walid: "Perubahan justru keniscayaan. Yang harus ditanyakan adalah: apa yang berubah, dan apa yang sengaja kita hilangkan?"
Percakapan itu menjadi penting karena SERAH #8 tidak hendak mengajak publik bernostalgia pada sebuah masa ketika pertunjukan rakyat dianggap lebih "murni". Tidak ada bentuk seni yang sepenuhnya bebas dari perubahan. Tradisi selalu bergerak mengikuti masyarakat yang menghidupinya.
Persoalannya adalah ketika perubahan bentuk berjalan lebih cepat daripada pembacaan terhadap fungsi.
Di situlah seni pertunjukan berisiko menjadi sekadar estetisasi tradisi: mengambil bahasa visual desa, tetapi meninggalkan persoalan desa; menggunakan humor rakyat, tetapi menghindari sasaran kritiknya; menampilkan identitas lokal, tetapi mengosongkan konflik sosial yang membentuk identitas tersebut.
Melly: "SERAH bukan ruang untuk mengatakan bahwa yang lama selalu lebih baik daripada yang baru. Justru kami ingin melihat bagaimana bentuk-bentuk itu bisa dibaca kembali. Kalau ruangnya berubah, mungkin cara kerjanya juga harus berubah. Tapi jangan sampai perubahan ruang membuat pertunjukan kehilangan alasan mengapa ia pernah penting."
Pertanyaan itu kemudian mengarah pada persoalan yang lebih luas mengenai posisi seni pertunjukan hari ini.
Ketika seni rakyat masuk ke dalam ekosistem festival, program pemerintah, gedung kesenian, industri pariwisata, dan agenda ekonomi kreatif, ada kemungkinan bahwa seni semakin mudah mendapatkan panggung sekaligus semakin sulit mempertahankan daya kritisnya.
Pertunjukan menjadi lebih rapi, profesional, dan mudah dipasarkan. Namun, apakah ia juga masih mampu membuat seseorang merasa tidak nyaman?
Sebab mungkin fungsi paling penting dari komedi rakyat bukanlah membuat semua orang tertawa. Bisa jadi justru membuat orang tertentu tertawa sambil menyadari bahwa dirinya sedang ditertawakan.
Pada akhirnya, SERAH #8 hendak membawa pertanyaan tersebut kembali kepada penonton.
Ketika desa dipindahkan ke panggung kota, siapa yang masih berani menjadi sasaran tawa?
Dan ketika kita datang untuk menyaksikan "tradisi" dalam sebuah pertunjukan, apakah kita sedang melihat kehidupan yang masih bergerak—atau sekadar pemandangan indah tentang kehidupan yang sudah dijinakkan?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menjadi bagian dari percakapan dan proses artistik dalam SERAH #8.
Sebab mempertahankan seni rakyat tidak selalu berarti mempertahankan bentuk lamanya.
Barangkali yang jauh lebih penting adalah mempertahankan keberanian untuk bertanya, menyindir, menertawakan, dan menertawakan diri sendiri sebagaimana dahulu sebuah panggung kecil di halaman rumah warga dapat menjadi ruang tempat masyarakat berbicara kepada kekuasaan.
Dan mungkin, di tengah panggung-panggung yang semakin besar hari ini, justru pertanyaan paling sederhana itulah yang kembali perlu kita dengarkan:
Masihkah kita berani tertawa kepada mereka yang berkuasa?
Saksikan dan jadilah bagian dari acaranya Serah 8
Sabtu, 29 Agustus 2026
di Sanggar Seni Karang Gayam
Desa Sidorekso
Jam 19.00 WIB
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar