Tidak semua pertunjukan dimulai ketika pemain memasuki panggung. Pada Serah #8, pengalaman itu telah dimulai sejak penonton memasuki area Sanggar Seni Karang Gayam, Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus.
Sabtu malam, 29 Agustus 2026, Sanggar Seni Karang Gayam menjadi ruang perjumpaan antara seni, masyarakat, dan kehidupan desa melalui Serah #8: Merawat Tradisi, Merayakan Kreasi – Pertunjukan Teater Komedi. Pada gelaran kali ini, menghadirkan Pring Wuloh untuk mementaskan Ruang Harapan, karya yang ditulis sekaligus disutradarai oleh Bazar Al Walid.

Suasana pertunjukan telah terasa sejak penonton melewati gapura yang dihiasi dami atau jerami. Material sederhana tersebut tidak hanya digunakan sebagai dekorasi, tetapi dibentuk menjadi figur manusia dan berbagai ornamen. Bentuk-bentuk itu membuat gapura terasa seperti pintu masuk menuju ruang yang sengaja diciptakan untuk malam itu.
Dami yang dekat dengan kehidupan masyarakat desa memperoleh bentuk dan fungsi baru melalui kreativitas. Figur manusia dan ornamen tersebut dapat dibaca sebagai bagian dari gambaran kehidupan masyarakat sekaligus imajinasi yang tumbuh dari lingkungan sekitar. Dari sini, semangat “Merawat Tradisi, Merayakan Kreasi” telah terasa bahkan sebelum pertunjukan dimulai.

Sepanjang jalan menuju ruang utama, obor-obor menyala menerangi malam. Cahaya api menciptakan suasana hangat sekaligus memberi kesan seperti memasuki sebuah perayaan. Di area pertunjukan, dami kembali digunakan sebagai bagian dari tata artistik, berdampingan dengan sebuah pohon buatan berukuran besar yang menjadi properti panggung. Unsur-unsur tersebut membangun suasana pedesaan sekaligus menghadirkan ruang artistik yang sederhana namun kuat.
Penonton duduk lesehan di atas alas yang disediakan panitia. Suasana semakin hidup dengan hadirnya pedagang-pedagang kecil di sekitar lokasi. Aktivitas jual beli, penonton yang berkumpul, dan persiapan pertunjukan berlangsung berdampingan. Kehadiran para pedagang ikut menambah keramaian dan keakraban, menjadikan pertunjukan tidak terasa sebagai peristiwa yang terpisah dari kehidupan masyarakat.
Panggung, penonton, pedagang, obor, dami, dan properti pertunjukan kemudian menjadi satu kesatuan suasana.
Di tengah ruang tersebut, Pring Wuloh membawa Ruang Harapan. Pertunjukan ini mengangkat kehidupan Dimas, seorang anak yang tumbuh dalam keluarga serba kekurangan. Ibunya, Narti, bekerja sebagai buruh serabutan, sementara ayahnya, Bandol, lebih banyak menghabiskan waktu dengan mabuk dan berjudi. Kakaknya, Zainal, juga tumbuh dalam lingkungan yang penuh perjudian, perkelahian, dan mabuk-mabukan.
Meski membawa persoalan kehidupan yang cukup berat, Ruang Harapan dikemas sebagai teater komedi. Situasi keluarga dan persoalan sosial yang menjadi latar cerita disampaikan melalui karakter, dialog, dan situasi yang mengundang tawa. Komedi menjadi cara Pring Wuloh menyampaikan persoalan yang dekat dengan kehidupan tanpa membuat pertunjukan terasa terlalu muram. Penonton dapat tertawa, tetapi tetap menemukan persoalan dan pesan yang berada di balik kelucuan tersebut.
Bagi Bazar Al Walid, cerita Ruang Harapan memiliki kedekatan dengan kehidupan mereka karena penulis dan sejumlah pemain tumbuh di lingkungan desa yang sama.
“Cerita ini dekat dengan kehidupan kami. Kami mencoba membawanya ke panggung dengan cara yang sederhana, tetapi tetap menyampaikan apa yang ingin kami ceritakan,” kata Bazar Al Walid.
Pring Wuloh sendiri baru berdiri pada 7 Juli 2024. Kelompok ini terdiri dari anak-anak dan remaja usia sekolah, mulai dari SD, SMP, hingga SMA. Sebelum mengenal proses teater secara lebih serius, mereka lebih dahulu terlibat dalam berbagai kegiatan desa, seperti takbir keliling dan perayaan 17 Agustus. Dari kegiatan tersebut tumbuh keinginan untuk belajar berakting dan bermain drama.
Sebagian besar pemain Ruang Harapan masih duduk di bangku SMP dan SMA. Bagi mereka, panggung Serah #8 bukan hanya tempat menunjukkan hasil latihan, tetapi juga ruang belajar. Mereka belajar bekerja dalam kelompok, memahami karakter, menggunakan tubuh dan suara, menghadapi penonton, sekaligus membangun keberanian untuk tampil.
Di sinilah kehadiran Pring Wuloh menjadi penting bagi Serah. Program ini tidak hanya ditujukan bagi kelompok seni yang telah memiliki nama, tetapi juga berusaha membuka ruang bagi komunitas yang sedang tumbuh untuk berani mengenalkan keberadaan dan karyanya kepada masyarakat.
Serah akan terus berupaya memberi ruang kepada kelompok-kelompok yang sedang tumbuh. Mereka tidak harus menunggu besar untuk bisa tampil dan mengenalkan karyanya.
Kesempatan tampil menjadi bagian dari proses pertumbuhan sebuah komunitas. Mereka mendapatkan pengalaman untuk bertemu penonton, memperkenalkan karya, menerima apresiasi, dan menemukan kepercayaan diri untuk terus berkarya. Hal tersebut juga sejalan dengan pandangan Dian Puspita Sari, S.Sn., Ketua Dewan Kesenian Kudus, bahwa kelompok-kelompok baru perlu mendapatkan kesempatan untuk belajar, tampil, dan berkembang.

Di penghujung acara, Tim Serah menyerahkan sertifikat kepada Pring Wuloh sebagai bentuk apresiasi atas keterlibatan mereka dalam Serah#8. Penyerahan tersebut menjadi momen sederhana namun bermakna, terutama bagi kelompok yang masih muda dan sedang membangun perjalanan berkesenian.
Serah #8 akhirnya bukan hanya tentang satu malam pertunjukan teater. Ia menjadi ruang perjumpaan antara karya, komunitas, masyarakat, dan kehidupan desa. Dami yang dibentuk menjadi figur manusia, obor yang menerangi jalan, pohon buatan di panggung, ruang lesehan, serta aktivitas pedagang kecil membentuk atmosfer yang membuat pertunjukan terasa dekat dengan masyarakat.
Semangat “Merawat Tradisi, Merayakan Kreasi” hadir melalui cara unsur-unsur sederhana tersebut diolah menjadi bagian dari sebuah peristiwa seni. Dari lingkungan desa lahir sebuah kelompok. Dari kelompok tersebut tumbuh keberanian untuk berkarya. Dan melalui Serah #8, keberanian itu mendapatkan ruang untuk tampil, memperkenalkan karya, dan diapresiasi.
Pring Wuloh membawa Ruang Harapan ke panggung. Serah membuka ruang agar harapan itu terus tumbuh.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar