Folks

Serah #9 di Kampung Budaya Cabean

✍ Melly Fardiani Tasmara - 📅 20 Sep 2026

Serah #9 di Kampung Budaya Cabean
Melly Fardiani Tasmara

Sabtu malam, 19 September 2026, Kampung Budaya Cabean mulai dipenuhi orang. Beberapa datang untuk menyaksikan pertunjukan, sebagian berhenti di area kuliner, sementara percakapan berlangsung di antara orang-orang yang datang dan pergi. Di tengah aktivitas tersebut, sebuah panggung menjadi ruang bagi Serah #9 “Merawat Tradisi, Merayakan Kreasi”, program yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Kudus.

Malam itu, Serah tidak hanya berlangsung di atas panggung.

Sejak memasuki kawasan Kampung Budaya Cabean, penonton telah berhadapan dengan ruang yang ditata dengan suasana yang saling berhubungan. Pintu masuk, area kuliner, dan ruang pertunjukan berada dalam satu kesatuan. Bambu dan anyaman menjadi bagian dari penataan, berdampingan dengan aktivitas masyarakat yang tetap berjalan seperti biasa.

Tidak ada batas yang benar-benar tegas antara tempat orang berkumpul dan tempat pertunjukan berlangsung.

Orang dapat datang, berjalan, makan, berbincang, kemudian mengalihkan perhatian ketika panggung mulai menjadi pusat perhatian.

Di ruang itulah salah satu karya dalam Serah #9, Tari Gobong, dipertunjukkan.

Tari Gobong berangkat dari proses pembuatan genteng yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Tanah menjadi bagian awal dari proses tersebut. Ia diolah, dibentuk, dikeringkan, kemudian dibakar hingga menjadi genteng.

Sebuah proses yang membutuhkan tenaga dan dilakukan berulang kali.

Di atas panggung, proses itu tidak ditampilkan sebagai kegiatan membuat genteng secara langsung. Tanah tidak sedang diolah di hadapan penonton. Yang terlihat adalah tubuh para penari.

Gerak berlangsung berulang. Tubuh berpindah, berkumpul, membentuk pola, kemudian kembali terurai. Beberapa gerakan terasa seperti pekerjaan yang dilakukan berkali-kali. Ada kesan tentang tenaga, pengulangan, dan proses yang tidak selesai hanya dalam satu gerakan.

Pekerjaan yang sebelumnya berlangsung di ruang produksi berpindah ke ruang pertunjukan.

Genteng sendiri tidak menjadi benda yang harus hadir secara nyata. Ia justru muncul melalui gerak dan susunan tubuh. Sesuatu yang biasanya diam di atas rumah memperoleh bentuk lain ketika dibaca melalui tubuh manusia.

Di sekeliling penari, konstruksi panggung dan material bambu serta anyaman ikut membentuk suasana. Material tersebut tidak sepenuhnya mengubah panggung menjadi ruang produksi genteng, tetapi cukup untuk menghadirkan kesan tentang lingkungan kerja dan kehidupan yang menjadi latar gagasan pertunjukan.

Kostum para penari menggunakan perpaduan putih dan oren. Putih tampak jelas ketika tubuh bergerak, sementara oren menjadi aksen yang memberi tekanan pada komposisi visual. Di antara bambu dan anyaman yang memiliki warna alami, kedua warna tersebut membuat tubuh penari menjadi bagian yang mudah ditangkap mata.

Cahaya kemudian mengubah pengalaman terhadap ruang.

Tubuh, kostum, konstruksi panggung, bambu, dan anyaman memperoleh suasana yang berbeda ketika pencahayaan berganti. Material yang sebelumnya terasa dekat dengan keseharian perlahan tampil sebagai bagian dari sebuah ruang pertunjukan.

Namun perhatian malam itu tidak hanya tertuju pada apa yang terjadi di atas panggung.

Di luar panggung, orang-orang tetap menjalani aktivitasnya. Ada makanan yang dinikmati, percakapan yang berlangsung, dan orang-orang yang sesekali berpindah tempat. Pertunjukan berada di tengah semua itu, bukan di ruang yang sepenuhnya terpisah.

Keadaan tersebut membuat pengalaman Serah #9 terasa sebagai sebuah peristiwa yang lebih luas daripada pertunjukan semata.

Karya seni hadir bersama kehidupan yang berlangsung di sekitarnya.

Tari Gobong membawa pekerjaan membuat genteng ke dalam gerak. Sementara ruang Kampung Budaya Cabean membawa aktivitas masyarakat ke dalam peristiwa seni. Keduanya berlangsung pada malam yang sama, di tempat yang sama, dan saling berdekatan.

Di antara keduanya, batas antara karya dan keseharian menjadi tidak terlalu penting.

Yang tersisa adalah pengalaman melihat sesuatu yang sebenarnya sudah dekat.

Genteng, misalnya, begitu biasa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Ia berada di atas rumah dan mungkin hanya diperhatikan ketika rusak atau diganti. Tetapi sebelum menjadi benda yang sederhana itu, ada tanah, tangan, tenaga, pengulangan, dan waktu yang menyertainya.

Melalui pertunjukan, rangkaian tersebut tidak dijelaskan sebagai sebuah pelajaran. Ia hadir sebagai gerak yang dapat dilihat.

Barangkali di situlah tema “Merawat Tradisi, Merayakan Kreasi” menemukan ruangnya: bukan sebagai sesuatu yang perlu diterangkan panjang-panjang, melainkan sebagai sesuatu yang berlangsung ketika pengalaman yang telah lama hidup di masyarakat bertemu dengan cara baru untuk mengungkapkannya.

Tradisi hadir sebagai sumber. Kreasi hadir sebagai kemungkinan untuk membacanya kembali.

Setelah pertunjukan berakhir, tubuh-tubuh penari meninggalkan panggung. Cahaya perlahan berganti. Orang-orang kembali pada aktivitasnya. Ruang yang beberapa saat sebelumnya dipenuhi gerak kembali menjadi bagian dari Kampung Budaya Cabean.

Tetapi apa yang telah berlangsung di atas panggung tidak sepenuhnya kembali ke tempat semula.

Sebuah pekerjaan telah menjadi gerak. Sebuah pengalaman keseharian telah menjadi pertunjukan. Sesuatu yang begitu biasa telah memperoleh kesempatan untuk dilihat kembali.

Malam itu pun selesai tanpa harus memberi kesimpulan tentang apa yang harus dipikirkan penonton.

Mungkin memang tidak semua yang dirawat harus dipertahankan dalam bentuk yang sama. Mungkin pula tidak semua yang berubah berarti telah meninggalkan asalnya.

Jika sebuah tradisi dapat berubah ketika bertemu dengan tubuh, ruang, dan gagasan baru, lalu kapan sesuatu yang diwariskan berhenti menjadi tradisi dan mulai menjadi sesuatu yang lain?

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar