Sebuah gunungan sampah menjulang di tengah panggung. Plastik, kertas, dan barang-barang bekas bertumpuk di antara dua bangunan sederhana yang menyerupai tempat tinggal. Sisa-sisa barang berserakan hingga ke bagian depan panggung, seolah meluber keluar dari ruang cerita dan mendekati penonton. Di tempat semacam itulah Negeri Sampah memulai kisahnya.

Pertunjukan drama musikal Teater Palapa SMP 3 Jekulo dibuka dengan kehadiran para penari. Setelah itu, muncul tokoh Bumi dengan kostum serupa, tetapi dilengkapi mahkota dan tongkat yang sedikit lebih tinggi daripada tubuhnya. Kemunculan tokoh ini menandai dimulainya peristiwa di Negeri Sampah, sebuah dunia yang dibangun dari tumpukan barang buangan sekaligus persoalan manusia.
Disutradarai Eddy Su, Negeri Sampah dipentaskan dalam Serah#10 Merawat Tradisi Merayakan Kreasi – Pertunjukan Teater pada Rabu, 28 Oktober 2026, pukul 19.00 WIB, di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK). Selama kurang lebih satu jam, puluhan pemain menghadirkan cerita melalui dialog, adegan dramatik, tarian, musik, dan humor. Auditorium serasa nampak sesak penuh akan kehadiran penonton di malam itu.

Tumpukan sampah yang menjadi pusat panggung bukan sekadar latar. Letaknya di antara dua bangunan sederhana, dengan barang-barang bekas yang menjalar hingga ke bagian depan, membuat persoalan yang dihadirkan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Penonton tidak hanya menyaksikan sebuah lingkungan kumuh sebagai bagian dari cerita, tetapi juga berhadapan dengan gambaran tentang ruang hidup yang terbentuk dari kebiasaan manusia sendiri.
“Saya ingin Negeri Sampah bukan sekadar bercerita tentang sampah, tetapi tentang manusia yang hidup di dalam persoalan itu,” ungkap Eddy Su.

Gagasan tersebut menemukan bentuknya melalui tokoh Lintang, seorang anak pemulung yang menyimpan harapan untuk memperoleh pendidikan dan memperbaiki lingkungan tempat tinggalnya. Melalui Lintang, cerita bergerak melampaui persoalan kebersihan. Ada pula pertanyaan tentang kesempatan, kondisi sosial, dan hak seseorang untuk membayangkan kehidupan yang lebih baik. Di tengah tumpukan barang buangan, harapan Lintang menjadi sesuatu yang justru tidak mudah disingkirkan.
Sebagai drama musikal, pertunjukan ini juga mengandalkan unsur musik tanpa membuat pemain sekadar melakukan lipsync. Unsur tersebut menjadi bagian dari pengalaman pertunjukan, sementara perpindahan dan penempatan pemain menjaga panggung tetap hidup. Humor yang disisipkan di antara adegan memberi ruang bagi penonton untuk tertawa, sekaligus membuat isu yang dibawakan tidak terus-menerus hadir dalam suasana berat.

Akting para pemain menjadi bagian lain yang menarik untuk dicermati. Sebagai siswa SMP yang masih berada dalam proses belajar, mereka tidak harus dipandang melalui tuntutan kesempurnaan. Hal yang lebih penting ialah keberanian hadir di panggung, membangun hubungan dengan sesama pemain, dan terus mengembangkan kemampuan. Pertunjukan ini menjadi ruang belajar yang mempertemukan latihan, kerja sama, dan pengalaman berhadapan langsung dengan penonton.
Bagi Noor Rohmad, S.Pd., penanggung jawab kegiatan sekaligus Kepala SMP 3 Jekulo, pengalaman tersebut memiliki arti yang lebih luas daripada hasil pementasan semata.
“Bagi kami, pertunjukan ini bukan hanya tentang hasil yang ditampilkan di atas panggung, tetapi juga proses belajar bagi anak-anak. Mereka belajar bekerja sama, bertanggung jawab, dan mengembangkan kemampuan melalui pengalaman berkesenian,” tuturnya.
Serah#10 diselenggarakan oleh Tim Serah dengan Melly Fardiani Tasmara, S.Sn., sebagai pimpinan produksi. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Serah di bawah Dewan Kesenian Kudus yang diketuai Dian Puspita Sari, S.Sn. Melalui pertunjukan teater pelajar, Serah#10 menghadirkan ruang perjumpaan antara proses berkesenian, pembelajaran, dan gagasan yang dapat dibicarakan bersama setelah pertunjukan berakhir.
Pada akhirnya, barang yang dibuang mungkin tidak lagi terlihat setelah berpindah tempat. Namun, perpindahan itu tidak serta-merta menghapus akibat yang ditinggalkannya. Negeri Sampah mengajak penonton melihat kembali hubungan antara manusia, lingkungan, dan kebiasaan yang kerap dianggap selesai hanya karena sesuatu telah disingkirkan dari pandangan.
Jika sampah bisa kita buang hingga tak lagi terlihat, apakah yang sebenarnya telah kita singkirkan: sampah itu sendiri, tanggung jawab kita, atau rasa terganggu kita terhadap akibat yang ditimbulkannya?
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar