Sampah sering dianggap bukan lagi urusan kita setelah dibuang. Padahal, memindahkannya dari rumah ke tempat pembuangan tidak serta-merta menyelesaikan persoalan. Sampah tetap berada di lingkungan, sementara dampaknya dapat ditanggung oleh orang-orang yang hidup di sekitarnya. Persoalannya bukan hanya ke mana sampah dibawa, tetapi juga siapa yang menanggung akibat dari kebiasaan kita menghasilkannya.
Isu tersebut diangkat melalui drama musikal Negeri Sampah karya dan arahan Eddy Su, yang dipentaskan Teater Palapa SMP 3 Jekulo dalam program Serah#10 Merawat Tradisi Merayakan Kreasi – Pertunjukan Teater. Diselenggarakan oleh Tim Serah, pertunjukan ini berlangsung pada Rabu, 28 Oktober 2026, pukul 19.00 WIB di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK).
Melalui gambaran kehidupan di tengah tumpukan sampah, Negeri Sampah mengajak penonton melihat bahwa persoalan lingkungan bukan sekadar perkara kebersihan. Dampaknya juga berkaitan dengan kelayakan tempat tinggal dan ketimpangan yang membuat sebagian orang menanggung beban lebih besar daripada yang lain.
Membuang sampah pada tempatnya merupakan langkah penting, tetapi tidak cukup tanpa upaya mengurangi dan mengelolanya secara bertanggung jawab. Ketika sampah hanya dipindahkan agar tidak lagi terlihat, persoalan sesungguhnya berisiko terus berulang. Karena itu, menjaga lingkungan menuntut perubahan kebiasaan, mulai dari cara menggunakan barang hingga kesadaran atas konsekuensi yang ditimbulkan setelah barang tersebut dibuang.
Gagasan ini berkelindan dengan kisah Lintang, seorang anak pemulung yang berharap memperoleh pendidikan agar dapat memperbaiki lingkungan tempat tinggalnya. Harapan Lintang menghadirkan dimensi sosial dalam persoalan lingkungan: setiap orang berhak atas lingkungan yang layak, tetapi tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mewujudkannya. Perubahan membutuhkan pengetahuan, kesempatan, dan keterlibatan bersama.
Dikemas melalui adegan dramatik, humor, dialog, dan lagu, Negeri Sampah membawa isu lingkungan ke ruang pertunjukan sekaligus mengajukan pertanyaan kepada penonton: apakah kita benar-benar menyelesaikan persoalan sampah, atau sekadar memindahkannya agar tidak lagi mengganggu pandangan?
Melalui Serah#10, menghadirkan ruang bagi karya seni untuk berjumpa dengan persoalan kehidupan masyarakat. Kehadiran Teater Palapa SMP 3 Jekulo melalui Negeri Sampah menjadi ajakan untuk meninjau kembali hubungan manusia dengan lingkungannya.
Merawat bumi bukan tanggung jawab satu pihak. Setiap orang turut menjadi bagian dari persoalan sampah, sekaligus memiliki kesempatan untuk mengubahnya. Harapan akan lingkungan yang lebih baik tidak cukup berhenti sebagai cita-cita; harapan itu perlu diwujudkan melalui tindakan dan tanggung jawab bersama.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar