Esai

Siapa yang Menentukan Ukuran?

✍ Agam Abimanyu - 📅 24 Oct 2026

Siapa yang Menentukan Ukuran?
Agam Abimanyu

Beberapa waktu lalu, seorang teman mengirim pesan singkat kepada saya: "Apakah standup comedy masuk kesenian? "

Teman saya agaknya ingin tahu apakah kerja sama lintas bentuk mungkin dilakukan. Namun, kalimat pertama pesan itu memuat asumsi yang patut diperiksa: kedudukan standup comedy sebagai kesenian masih perlu dipastikan, dan ada pihak yang berhak memastikannya. Dari mana asumsi itu datang, dan siapa pemegang kewenangannya?

Di Indonesia, kesenian lazim dikenali lewat cabang yang mapan, lembaga yang menaunginya, istilah yang menjelaskannya, dan kriteria yang menilainya. Dalam kerangka itu, praktik ekspresi baru tampak tinggal dimasukkan ke kategori yang tersedia. Padahal, pengertian tentang seni terbentuk lewat sejarah dan relasi kuasa yang menentukan praktik mana yang memperoleh pengakuan. Esai ini berargumen bahwa pertanyaan seperti pesan teman saya menunjukkan kategori kesenian bekerja sebagai penyaring. Penyaring itu perlu diuji.

Pembatasan perlu dinyatakan sejak awal. Standup comedy punya penonton besar dan ekosistem komersial yang hidup, sehingga tidak dapat dikatakan terpinggirkan dalam arti pasar. Yang dipersoalkan di sini adalah pengakuan di wilayah yang menyebut dirinya "seni": festival, pendanaan, pendidikan, dan kritik. Sejauh mana praktik ini tertinggal di wilayah itu harus ditunjukkan dengan data, misalnya program festival, skema hibah, atau kurikulum. 

Pemikiran Jakob Sumardjo tentang masyarakat seni barangkali dapat menjadi titik tolak. Menurut pembacaan saya, perbedaan antara masyarakat seni modern dan pramodern menyangkut hubungan pencipta dengan komunitas, fungsi seni, dan cara praktik memperoleh makna. Pembedaan itu tidak mencakup seluruh keragaman seni Indonesia hari ini, tetapi menunjukkan bahwa seni tidak selalu memiliki kedudukan yang sama dalam kehidupan masyarakat. Seni modern mengembangkan perangkat untuk mengenali karya, seniman, disiplin, estetika, dan lembaga. Perangkat itu berguna. Persoalan muncul ketika ia dianggap satu-satunya cara sah untuk mengenali seni. Di titik ini, kerangka "Barat versus lokal" tidak memadai. 

Standup comedy sendiri berasal dari tradisi berbahasa Inggris, sehingga kesulitannya memperoleh pengakuan tidak dapat dijelaskan oleh asal-usulnya. Penjelasan yang lebih masuk akal adalah hierarki antara bentuk yang sudah dilembagakan sebagai seni, seperti teater, tari, musik, dan rupa, dan bentuk yang lahir dari ruang hiburan populer. Perlakuan terhadap lawak panggung lokal seperti ludruk, lenong, dan Srimulat dapat menjadi pembanding yang berguna, karena pertanyaan serupa sudah lama mengitarinya.

Praktik standup sendiri melibatkan kerja artistik. Seorang komika mengolah pengalaman bekerja, persoalan keluarga, ketimpangan sosial, dan bahasa menjadi pertunjukan. Materi disusun, sudut pandang dipilih, ritme diatur, gestur diolah, ketegangan dibangun, dan respons penonton dibaca. Hubungan dengan penonton menjadi bagian dari bentuk pertunjukan. Proses itu menuntut keterampilan dan pilihan estetik, dan layak dibicarakan dengan perangkat yang sama seriusnya dengan bentuk lain.

Hal ini tidak berarti semua pertunjukan standup setara mutunya. Kualitas tetap dapat dinilai lewat pengolahan materi, kematangan teknik, kedalaman gagasan, dan pengalaman yang terbangun bagi penonton. Yang perlu dijaga adalah urutannya: pengakuan atas suatu praktik sebagai wilayah kesenian berbeda dari penilaian atas mutu karyanya. Pengakuan membuka ruang pembicaraan, sedangkan kritik menilai hasil kerja. Jika keduanya dicampur, praktik yang belum diakui akan dianggap tak bernilai artistik sebelum diperiksa.

Mekanisme pengakuan jarang hadir sebagai larangan. Mekanisme itu bekerja lewat kebiasaan, bahasa, seleksi kurasi, dan asumsi yang jarang digugat. Akibatnya, praktik yang sesuai dengan kategori mapan lebih mudah dibicarakan dan didanai, sementara praktik lain harus lebih dulu menjelaskan dirinya. Klaim ini masih berupa hipotesis kerja untuk konteks Indonesia, dan pembuktiannya menuntut penelusuran pada kebijakan dan praktik lembaga.

Kategori tetap diperlukan. Tanpa kriteria, tidak ada cara membedakan karya matang dari karya yang belum matang. Untuk menguji apakah suatu kategori layak dipertahankan, dua pertanyaan dapat diajukan. Pertama, apakah kategori itu membantu menjelaskan cara kerja praktik yang dinilai, atau justru membuatnya tak terbaca? Kedua, apakah kriteria yang dipakai tetap mampu membedakan karya kuat dari karya lemah di dalam praktik tersebut? Kategori yang gagal pada pertanyaan pertama perlu direvisi. Kategori yang gagal pada pertanyaan kedua perlu diperketat.

Pendekatan ini juga menolak jalan pintas. Mengganti teori Barat dengan teori lokal berisiko membuat batas baru. Kesenian komunal tidak selalu cocok dibaca lewat gagasan seniman individual dan karya mandiri, dan praktik kontemporer tidak selalu cocok dinilai dari fungsi sosial yang sama dengan kesenian tradisional. Setiap praktik perlu dibaca lewat konteks, bentuk, dan hubungan yang membentuknya.

Dari sana, pertanyaan teman saya tentang seni hingga bentuk kolaborasi mendapat jawaban yang lebih konkret. Pertemuan komika dengan aktor, sutradara, penulis, atau pemusik dapat memperlihatkan perbedaan cara mengolah bahasa, tubuh, ruang, ritme, dan hubungan dengan penonton. Jika unsur standup dipertemukan dengan dramaturgi teater, hasilnya belum tentu menjadikan standup bagian dari teater atau sebaliknya. Bentuk baru mungkin lahir, mungkin juga tidak.

Pesan singkat itu akhirnya mengingatkan bahwa masyarakat terus menghasilkan bentuk ekspresi baru, sementara kategori untuk memahaminya berubah lebih lambat. Pertanyaan apakah standup comedy termasuk kesenian layak dijawab dengan memeriksa praktiknya. Pertanyaan yang lebih menarik adalah mengapa pemeriksaan semacam itu masih perlu diminta atau ditanyakan. Selama kita belum dapat menjawabnya dengan bagus, kategori yang kita biasa kita warisi sebaiknya diperlakukan sebagai alat kerja yang dapat diganti, tidak sebagai ukuran yang sudah final.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar