Folks

RT 0 RW 0; Kelakar Kampung yang Gagah dan Derita.

✍ Afif Khoiruddin Sanjaya - 📅 12 May 2026

RT 0 RW 0; Kelakar Kampung yang Gagah dan Derita.
Afif Khoiruddin Sanjaya

Oleh Afif Khoiruddin Sanjaya , Lahir di Kudus. Menulis resensi pertunjukan, Sutradara teater, dan mengajar Bahasa Indonesia.

Lagi-lagi, aku menulis dengan keterlambatan.

Namun, tak ada yang benar-benar buruk dalam arsip,

kecuali ia tak pernah terjadi.

Teater Songo Koma Songo Megawon Kudus.

Panggung Pertunjukan Milik Mereka yang Berupaya Dengan Serius-

Pasca keluar dari Auditorium UMK, 30 Maret 2026 lalu—aku terpeleset jatuh di samping motor grand comel (Jangan-jangan itu motor milik mas Zacky Paijan) gara-gara meleng dan kepikiran soal acting, dunia, dan suatu zaman. Entah, jangan-jangan “Seni adalah kebohongan yang membuat kita menyadari kebenaran." - Pablo Picasso, itu; benar-benar menyoroti sifat paradoks seni itu sendiri: meskipun seni bukanlah realitas literal (sebuah "kebohongan" atau ilusi), ia mampu mengungkap kebenaran yang lebih dalam, emosi, atau esensi dunia yang sesungguhnya kepada penontonnya.

Agaknya, Seni sebagai "Kebohongan" (Ilusi) khususnya teater, adalah manipulasi bahan (tanda-makna property, penyerupaan suasana lewat lighting, dsb) yang tidak nyata. Sebuah penjabaran peristiwa yang dibuat bukan yang sebenarnya, melainkan representasi buatan. Ya, buatan. Mengungkap "Kebenaran": Melalui penyederhanaan, distorsi, atau penekanan warna, Gerak, dan bentuk, para seniman menonjolkan emosi atau konsep tertentu yang tidak terlihat langsung di dunia nyata, membantu penonton memahami esensi subjek secara lebih mendalam. Kreativitas: Penekanan bahwa jika seni hanya meniru kenyataan secara tepat, itu; tidak akan meyakinkan, atau bermakna. Seni harus "berbohong" untuk menciptakan kebenaran yang dapat dipahami. Ya, seni (kadang-kadang) harus berbohong untuk menciptakan kebenaran. Uhuy.

Pertunjukan RT 0 RW 0 Iwan Simatupang Sutradara Danang.

Tekad, Kuat, dan Merakyat.

Pertunjukan sebagai peristiwa, penonton sebagai pembaca. Menghasilkan pengalaman dapat terbuka maupun tertutup oleh penilaian yang begitu cepat. Untuknya, Serah (edisi 3) tak hanya sekadar mengawal pertunjukan terlaksana, namun sejauh mana penonton memberi ruang bagi sesuatu untuk benar-benar terjadi. Pasca pertunjukan, diskusi, tulis, upload- tak hilang.

Keseriusan tersebut di atas, sangat terlihat dalam dada teater Songo Koma Songo. Apa lagi mereka bawakan RT 0 RW 0 Karya Iwan Simatupang-- Drama ini menceritakan tentang kejenuhan dan kebosanan para penghuni akan kehidupan yang selalu mereka jalani selama ini. mereka ingin merasakan sesuatu yang berbeda, seperti makan enak hidup enak dan lainnya yang selama ini orang gedongan rasakan. Apapun mereka lakukan untuk mendapatkan dan merasakan semua itu, meski itu mesti menyewakan martabat mereka pada laki-laki yang mencari pemuas nafsunya. Kalau kita membaca dan memaknai arti dalam naskah ini, yaitu kehidupan yang selama ini kita anggap bukan hidup, namun mereka tetap menjalaninya. Bukan karena tidak ada pilihan dan bukan pula karena mereka yang memilih dan mau akan semua itu, tapi itulah yang harus mereka jalani selama ini menerima tidaknya semua itu harus tetap dijalani. Itu sepperti berikan cermin pada kita, kritik social- menjual kemiskinan, Miris, meringis, bikin menangis. Semoga Songo Koma Songo, menyadari betul perihal itu.

Aku yakin, sutradara sepakat bahwa; teater bukan hanya soal penyajian cerita, tetapi juga tentang membuka kesadaran. Ia tidak ingin menciptakan jarak antara panggung, dan kehidupan. Justru ia inginkan penontor merasakan keganjilan, biar realitas yang disuguhkan itu terancam kacaw, kemudian dipertanyakan, dan menghasilkan pembelajaran. Mungkin.

Mereka adalah kelompok yang menempati lahan-lahan sengketa, pinggiran rel, atau kolong jembatan. Teater Songo Koma Songo menggunakan panggung ini untuk memaparkan kondisi manusia-manusia tanpa angka tersebut. Secara objektif, naskah ini berfungsi sebagai kritik terhadap sistem birokrasi yang sering kali kaku dan gagal menjangkau lapisan masyarakat terbawah. Keberanian kelompok ini untuk mengangkat isu tersebut di lingkungan universitas menciptakan kontras yang menarik untuk menguatkan latar budaya para gelandangan yang memiliki pemikiran yang begitu kritis karena keterterimaan mereka dalam kehidupan masyarakat pada umumnya tidak digubris oleh pemerintah bahkan masyarakat itu sendiri. masyarakat menganggap bahwa para gelandangan merupakan manusia yang terhina dan termasuk dari golongan kasta yang rendah. Rendah.

Menonton Songo Koma Songo, aku seperti diajak untuk tetap gagah menghadapi derita. Mereka tak merasuk dalam lubuk, tapi kegetiran yang diceritakan itu tumbuh subur di kepala aku, pelan-pelan menyucuk batin, menuntut pipi memeras air mata, tapi untung aku tak lemah. Aku tahan ia biar tak menetes di kegelapan. Hiyakkk. Barangkali Kegagahan melawan derita adalah wujud nyata dari keberanian sebuah pilihan dan kehendak kuat untuk menghadapi rasa sakit, bahaya, ketidakpastian, atau intimidasi. Mereka bukan hanya sekadar melaakukan act sebagai bentuk tindakan fisik, melainkan sikap mental yang memungkinkan seseorang untuk tetap teguh dan bertindak meski dalam situasi sulit. Itu terlihat betul, bagaimana keberanian mereka menghadapi auditorium, menghadapi RT 0 RW 0 sampai dua kali, menghadapi ketidak masuk akalan pilihan hidup di antara yang benar dan tidak benar dalam menjalani hari-hari. Sungguh, ketabahan Songo Koma Songo sampai menina-bobokkan aku hingga lupa bagaimana naskah aslinya bekerja.

Apapun itu, RT 0 RW 0 mendekatkan kita pada filantropi, hidup dengan tenang, rela, dan berani. Berharga, loman, dan slow man. Tak terburu-buru, tapi tetap menggebu. Terima kasih.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar