TULISAN-tulisan yang dimuat di mentas.id pada 10 - 11 Mei 2026 tentang polemik “Pemuda B” dalam peristiwa Gadis Pingitan sesungguhnya tidak hanya sedang membicarakan satu orang yang dianggap mengganggu kerja teknis pertunjukan. Lebih jauh dari itu, dua tulisan tersebut membuka lapisan yang lebih dalam tentang bagaimana ekosistem kesenian di Kudus bekerja: tentang relasi kuasa, etika kolektif, identitas komunitas, hingga rapuhnya kesadaran budaya di tengah gairah berkesenian yang semakin riuh.
Tulisan pertama berjudul “Patologi Kebebalan di Lantai Dua: Surat Terbuka untuk Oknum Teater” ditulis oleh Elang Ade Iswara dan tayang di mentas.id pada 10 Mei 2026. Tulisan ini merupakan kritik langsung terhadap seorang “Pemuda B” yang dianggap melanggar etika ruang teknis pertunjukan saat pemutaran dan pementasan Gadis Pingitan di Auditorium UMK, 9 Mei 2026.
Tulisan kedua, “Teater Menghasilkan Mereka Yang Bebal, dan Yang Beban”, ditulis oleh Afif Khoiruddin Sanjaya dan dimuat di mentas.id pada 11 Mei 2026. Tulisan ini hadir sebagai respons reflektif atas kegaduhan yang muncul, sekaligus memperluas persoalan dari sekadar perilaku individu menjadi fenomena sosial dalam komunitas seni.
Dua tulisan ini penting dibaca sebagai gejala kebudayaan. Clifford Geertz dalam pendekatan antropologi simboliknya pernah mengatakan bahwa kebudayaan adalah “jaringan makna” yang dipintal manusia sendiri. Dalam konteks ini, panggung teater bukan hanya ruang pertunjukan, melainkan ruang produksi makna sosial. Di sana ada simbol tentang kerja kolektif, disiplin, penghormatan terhadap proses, hirarki teknis, solidaritas komunitas, dan adab antarpelaku seni. Ketika seseorang melanggar batas teknis pertunjukan, yang rusak bukan hanya konsentrasi operator lighting, tetapi juga simbol moral yang selama ini menopang dunia teater itu sendiri.
Ironinya, sebagaimana dibaca Afif, kegaduhan mengenai “Pemuda B” justru lebih cepat menyebar daripada pembacaan terhadap substansi pertunjukan Gadis Pingitan itu sendiri. Ini menunjukkan adanya pergeseran perhatian dalam kultur seni pertunjukan hari ini: peristiwa sosial di balik panggung kadang lebih menggoda dibanding karya yang dipentaskan. Dalam bahasa Jean Baudrillard, masyarakat modern sering terjebak pada simulakra yakni ketika sensasi dan citra lebih dominan daripada realitas utama yang semestinya direnungkan.
Di titik ini, Kudus sebagai ruang budaya mengalami paradoks. Di satu sisi, kota ini sedang berupaya merawat tradisi melalui dokumenter, teater, zine, diskusi, dan kerja arsip. Namun di sisi lain, ekosistem keseniannya masih dibayangi ego sektoral, romantisme identitas kelompok, dan lemahnya kesadaran etis dalam ruang kolektif. “Pemuda B” akhirnya bukan sekadar individu, melainkan metafora tentang krisis adab dalam kebudayaan pertunjukan.
Persoalan ini sebenarnya telah lama dibicarakan. Jerzy Grotowski melalui konsep Poor Theatre menegaskan bahwa inti teater bukan kemegahan panggung, melainkan perjumpaan manusia dengan manusia secara jujur dan disiplin. Teater adalah latihan spiritual sekaligus latihan etis. Maka seseorang yang hadir dalam ruang pertunjukan semestinya memahami bahwa dirinya adalah bagian dari ritus kolektif, bukan pusat semesta.
Hal serupa juga tampak dalam pemikiran Antonin Artaud melalui Theatre of Cruelty. Bagi Artaud, teater harus mengguncang kesadaran manusia hingga lapisan terdalam. Tetapi keguncangan itu lahir dari totalitas artistik dan kesadaran tubuh kolektif, bukan dari kegaduhan perilaku personal yang merusak kerja orang lain.
Penonton tidak boleh hanya larut secara emosional, tetapi harus sadar secara kritis terhadap realitas masyarakat. Dalam konteks ini, polemik “Pemuda B” justru dapat dibaca sebagai “efek alienasi” yang tak disengaja: publik seni Kudus dipaksa melihat dirinya sendiri, mempertanyakan ulang etika komunitas, dan menyadari betapa rapuhnya penghargaan terhadap kerja kolektif.
Ada beberapa poin penting yang menguatkan dua tulisan tersebut: pertama, teater bukan sekadar ekspresi artistik, tetapi ruang etika sosial. Dalam teater, menghargai ruang teknis sama pentingnya dengan menghargai aktor di atas panggung. Kerja lighting, operator suara, dokumentasi, hingga panitia adalah fondasi pertunjukan.
Kedua, identitas komunitas tidak otomatis melahirkan kesadaran budaya.
Mengaku bagian dari kelompok seni tidak menjamin seseorang memiliki adab berkesenian. Pierre Bourdieu menyebut ini sebagai persoalan habitus: nilai dan etika tidak cukup diwariskan lewat label komunitas, tetapi melalui pembiasaan praksis. Dan ketiga, kesenian di Kudus sedang mengalami transisi budaya. Ada gairah besar dalam merawat tradisi, tetapi belum sepenuhnya diimbangi dengan kedewasaan ekosistem. Semangat produksi karya sering kali lebih cepat daripada pembangunan kesadaran kolektif.
Keempat, panggung ketiga kini bergeser ke media sosial dan tulisan reflektif.
Dulu pertunjukan selesai saat lampu padam. Kini, diskursus pasca-pentas hidup di artikel, unggahan, dan percakapan digital. Tulisan Elang dan Afif menjadi bukti bahwa kritik seni hari ini bergerak lintas medium.
Dan terakhir, fenomena “Pemuda B” adalah alarm sosial, bukan sekadar bahan olok-olok. Ia menandai adanya kegagalan pendidikan etika dalam ruang seni. Bila dibiarkan, komunitas seni hanya akan melahirkan pertunjukan megah tanpa kesadaran kolektif yang matang.
Persoalan ini juga terkait dengan konsep unggah-ungguh dan tepa selira. Dunia pertunjukan tradisional Jawa sejak lama dibangun di atas kesadaran posisi: kapan seseorang bicara, di mana seseorang berdiri, dan bagaimana seseorang menjaga harmoni ruang. Ketika kesadaran itu hilang, yang muncul bukan kebebasan, melainkan kekacauan sosial.
Karena itu, dua tulisan tersebut sesungguhnya bukan sekadar satire terhadap satu individu. Ia adalah kritik terhadap kemungkinan runtuhnya adab dalam ekosistem seni. Dan mungkin, sebagaimana dikatakan Afif, yang paling mengkhawatirkan bukan hadirnya satu “Pemuda B”, melainkan kemungkinan bahwa sedikit banyak, sifat itu hidup diam-diam dalam diri kita semua: keinginan untuk diakui tanpa memahami kerja kolektif, merasa memiliki ruang tanpa menghargai batas, dan ingin dekat dengan kesenian tanpa benar-benar belajar menjadi manusia yang peka terhadap sesama.
Pada akhirnya, kesenian tidak hanya menghasilkan pertunjukan. Ia juga menghasilkan watak. Dan di situlah pertaruhannya: apakah teater akan melahirkan manusia-manusia yang semakin arif, atau justru manusia yang merasa paling penting di tengah kerja keras orang lain. Semoga bermanfaat. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar