Tari Rubiyah mengangkat kisah seorang perempuan tangguh yang berani melawan penjajahan. Di tengah tekanan dan bahaya, Rubiyah tidak memilih untuk menyerah. Ia justru melangkah dengan keberanian, kecerdikan, dan strategi untuk memperjuangkan tanah airnya.
Dalam ceritanya, Rubiyah menyamar sebagai kuli panggul di pasar. Dengan penampilan sederhana, ia bergerak tanpa menimbulkan kecurigaan. Namun di balik kesederhanaan itu, tersembunyi kekuatan : senjata busur dan panah yang menjadi simbol perlawanannya. Dari sini, tarian ini ingin menunjukkan bahwa kekuatan tidak selalu terlihat, tetapi bisa tersembunyi dalam ketekunan dan kesiapan.
Gerak dalam tari ini dibawakan dengan tegas, dinamis, namun tetap menyimpan sisi lembut seorang perempuan. Perpaduan ini menghadirkan sosok Rubiyah sebagai pejuang yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga cerdas dan penuh perhitungan.
Karya ini dibawakan oleh dua penari muda, Naila dan Nikita, bagian dari Sanggar Tari Panji Wilis, yang masih berada di tahap awal perjalanan mereka di dunia tari. Keduanya merupakan teman satu kelas yang mulai menekuni tari sejak mengikuti lomba Jambore Pramuka dan berhasil meraih kemenangan. Dari pengalaman itulah, mereka mulai menyadari minat dan bakatnya dalam menari. Kesempatan tampil dalam Serah#4: Narasi Tubuh dalam Parade Tari, yang difasilitasi oleh Dewan Kesenian Kudus, menjadi pengalaman kedua mereka di panggung, sekaligus langkah awal untuk terus berkembang.
Meskipun mengangkat satu tokoh, kehadiran dua penari dalam tari ini memiliki makna tersendiri. Keduanya merepresentasikan dua sisi dalam diri Rubiyah, antara kelembutan dan ketegasan, antara strategi dan keberanian, antara rasa takut dan tekad untuk melawan. Dalam beberapa momen, mereka bergerak selaras sebagai satu kesatuan, namun di saat lain saling berlawanan, menggambarkan konflik batin yang juga menjadi bagian dari perjuangan seorang manusia.
Secara visual, tarian ini menggunakan kostum berwarna hijau yang melambangkan kehidupan, harapan, dan semangat yang terus tumbuh meski berada dalam situasi sulit. Properti gerobak dan tampah yang digunakan bukan sekadar pelengkap, tetapi menjadi simbol keseharian rakyat kecil, ruang dimana perjuangan sering kali dimulai dari hal-hal sederhana. Dari sana, tersirat bahwa perlawanan tidak selalu datang dari kekuatan besar, tetapi juga dari keberanian orang-orang biasa.
Melalui Tari Rubiyah, penonton diajak melihat bahwa di balik kesederhanaan, ada kekuatan yang besar. Bahwa perempuan pun memiliki peran penting dalam perjuangan. Dan bahwa keberanian bisa tumbuh dari siapa saja, bahkan dari mereka yang tampak biasa.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar