Panggung III

Jala lan Jana: Ketika Bahasa Sungai dan Rahasia Tubuh Berbicara Tanpa Kata

✍ Elang Ade Iswara - 📅 20 Jul 2026

Jala lan Jana: Ketika Bahasa Sungai dan Rahasia Tubuh Berbicara Tanpa Kata
Elang Ade Iswara

Oleh Elang Ade Iswara , Menulis esai dan puisi. Menganut kepercayaan Bumi tidak bulat atau datar, tetapi miring. Beberapa puisi dan esainya tercecer di zine...

Bagaimana cara kita memaknai tubuh, gerak, benda, gambar dan bunyi dalam sebuah pertunjukan tanpa kata-kata? Bagaimana sebuah ruang panggung, yang tak dibatasi oleh dinding, mampu memindahkan bahasa sungai ke hadapan kita?

Pertanyaan-pertanyaan eksistensial tersebut menemukan bentuk fisiknya yang intim lewat pementasan Jala lan Jana oleh Flying Balloons Puppet di Panggung Ngepringan Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW). Kelompok teater boneka asal Yogyakarta yang konsisten menjelajahi batas teater objek sejak 2015 ini berhasil menyulap benda-benda keseharian menjadi untaian puisi visual yang magis. Ketika produksi ini dihadirkan di Kudus, ia tidak sedang bertamu ke sebuah ruang kosong. Pertunjukan ini langsung berkelindan dengan ekosistem seni lokal yang sedang girang-girangnya mencari bentuk; sebuah lanskap yang secara infrastruktur serba nanggung, namun menyimpan potensi imajinasi kolektif yang luar biasa melimpah.

Di bawah penyutradaraan Rangga Dwi Apri Dinnur, karya yang terus dirawat dan bertumbuh sejak 2018 ini menjadi medium untuk menakar ulang realitas lapangan. Keputusan untuk menyerap denyut sosial warga, khususnya dari ekosistem yang terdampak oleh isu penambangan pasir— menemukan bentuknya yang paling jujur melalui pilihan artistik material daur ulang. Eksplorasi bentuk yang lebih organik dan bersahaja. Usai pementasan, keriuhan penonton perlahan menyusut menjadi obrolan santai di balik layar bersama para kreatornya. Di sanalah, dalam percakapan yang jujur, hangat dan kocak bersama Anas sebagai moderator, Rangga selaku sutradara serta Jefri dan Mugi sebagai aktor, aku menemukan letupan energi yang tak kalah besar daripada pertunjukannya sendiri. Ada sebuah spirit yang sangat kuat mengenai gagasan karya yang bertumbuh. Menariknya, bagi mereka, pertumbuhan itu bukan sekadar urusan revisi naskah, penambahan properti daur ulang, atau pematangan teknik boneka. Pertumbuhan sesungguhnya yang mereka bicarakan adalah tentang manusianya; tentang bagaimana proses merawat karya sejak 2018 ini secara tidak sadar ikut mendewasakan batin, cara pandang, dan empati mereka terhadap kehidupan sosial di luar panggung.

Pilihan estetika ini sekaligus menawarkan cara pandang baru terhadap diskursus teater objek. Dalam pakem konvensional, sering kali muncul anggapan bahwa kehadiran boneka di atas panggung cenderung mereduksi kehadiran aktor demi menghidupkan benda mati. Namun, Jala lan Jana menawarkan sebuah negosiasi tubuh yang sangat intens. Aktor sekaligus performers seperti Trexorier (Khoirul Anwar) dan Jefri Mugi tidak memosisikan diri sebagai penggerak di balik layar yang sembunyi, melainkan membiarkan tubuh mereka beresonansi, bergerak, dan menari secara setara bersama objek. Di titik inilah boneka menjelma menjadi entitas mandiri yang membawa memori dan agensinya sendiri.

Bagi ekosistem pertunjukan di Kabupaten Kudus yang selama ini akrab dengan kekayaan tradisi tutur yang verbal atau tari kreasi yang serba dekoratif, kehadiran pertunjukan Jala lan Jan ini menjadi tawaran segar atas ruang kreatif kita. Flying Balloons Puppet menawarkan undangan reflektif bahwa tubuh pertunjukan punya cara lain untuk bersuara. Bahwa keheningan dan bahasa objek sering kali memiliki daya ungkap yang menawan, dan enggak kalah bertenaga, sebuah pembuktian bahwa benda mati pun bisa 'berbicara', melengkapi ruang-ruang dialog yang selama ini kerap kita padati dengan kata-kata.

Catatan dramaturgi yang dikawal oleh Jefri Mugi ini juga memperlihatkan keberanian yang yoi untuk tak terjebak menjadi pertunjukan yang kekanak-kanakan, melainkan memilih jalan yang benar-benar ramah anak. Pendekatan ramah anak di sini diartikan sebagai bentuk penghormatan penuh terhadap kapasitas imajinasi bocil tanpa pretensi meremehkannya. Penonton baik anak atau bukan ditarik masuk ke dalam ruang perayaan atas imajinasi itu sendiri, dihadapkan dan didekatkan dengan bahasa sungai, sebuah bahasa visual dan sensorik yang universal. Pendekatan spiritual ini mendadak melempar ingatanku pada kutipan legendaris dari seorang bapack-bapack wingit bernama Pablo Picasso. Pada tahun 1949, setelah menghadiri pameran gambar anak-anak di Paris, ia mengucapkan mantra reflektif di usianya yang menginjak 68 tahun, "Butuh waktu empat tahun bagiku untuk melukis seperti Raphael, tetapi butuh seumur hidup untuk melukis seperti seorang anak kecil." Getaran ironinya terasa sangat mengguncang. Kita sedang membicarakan seorang yang sanggup menyaingi presisi teknis maestro era Renaissance sekelas Raphael sejak berusia 12 tahun, namun di ujung usianya, capaian tertinggi yang ia buru mati-matian justru adalah kepolosan indrawi dan kemurnian respons seorang anak kecil.

Di tengah kecenderungan ekosistem lokal yang kerap memosisikan audiens keluarga dalam batas ruang hiburan yang artifisial, karya ini hadir membawa alternatif yang menggelitik. Mereka menyajikan ruang bermain imajinatif yang bebas dari dikte moralitas orang dewasa yang acapkali membosankan. Sebuah undangan terbuka yang bersahaja: membuktikan bahwa wacana ekologi dapat dituturkan dengan gokil dan puitis, tanpa harus terdengar seperti membaca lembar teks sosialisasi formal bikin ngantuk.

Ketajaman tutur ini sudah terasa sejak awal pertunjukan melalui kemunculan fragmen makhluk imajiner: sosok kerbau bertubuh ular. Kehadiran siluman ini seketika membongkar sekat-sekat tafsir tradisional mengenai bagaimana kita memosisikan mitos hari ini. Mitos tidak lagi diperlakukan sebagai dongeng pengantar tidur, melainkan diangkat kembali sebagai produk pengetahuan leluhur yang membawa nilai proteksi terhadap alam. Panggung tidak sedang menggunakan mistisisme untuk menjauhkan penonton dari realitas, melainkan meminjam nalar puitis masa lalu untuk memotret krisis ekologis hari ini secara langsung.

Pergulatan wacana mitos ini terasa sangat karib dengan warga Kudus, mengingat kota ini berdiri di atas fondasi narasi kultural yang pekat, mulai dari teologi kultural larangan menyembelih sapi hingga folklore manusia yang berubah jadi kura-kura— yang barangkali selama ini, acapkali dihadapkan pada ketegangan: apakah harus terus mengawetkan mitos secara sakral demi etalase pariwisata, atau membongkarnya secara enjoy untuk menguji sejarah. Jala lan Jana menjembatani ketegangan itu dengan cukup asyik. Mereka membuktikan bahwa ketegangan wacana itu bisa dirayakan di atas panggung secara cair, di mana nilai lokalitas dirawat bukan melalui replika yang megah dan mahal, melainkan lewat dialog material yang jujur.

Keberhasilan bangunan atmosfer ini tentu tidak lepas dari kerja-kerja kolektif di balik layar. Lanskap indrawi pertunjukan digerakkan secara apik lewat tata suara oleh Yoga Nugraha Usmad serta pencahayaan dari Muhammad Abdurahman Rais. Ketepatan ritme pertunjukan ini pun terjaga dengan solid berkat kepemimpinan Rais yang juga bertindak sebagai technical manager bersama Meyda Bestari selaku production manager.

Jala lan Jana menegaskan relasi luhur antara manusia dan air. Hubungan tersebut adalah sebuah tarian bersama yang terkadang bergerak harmonis, terkadang berbenturan penuh riam, namun selalu saling memengaruhi. Sebagai sebuah karya yang terus bertumbuh, pentas ini menjadi refleksi penting bagi ekosistem seni Kabupaten Kudus: bahwa karya yang kuat tidak dilahirkan dari sekadar perayaan festival tahunan yang instan, melainkan dari konsistensi untuk merawat proses dan tumbuh bersama realitas sosial di sekelilingnya.

Melalui ritus visual yang hangat dan penuh kesadaran ini, yang terwujud berkat dukungan jejaring Djarum Foundation, Kampung Budaya Piji Wetan, Lumbung Baca, Galeri Lorong, Jogja Art Space Networking, Sakatoya, hingga Saorsa Selatan. Flying Balloons Puppet tidak hanya mempresentasikan teater objek yang memikat. Lebih dari itu, mereka mengajak para pelaku seni untuk mendengarkan kembali suara-suara lirih dari alam dan warga yang kerap kali luput di tengah bisingnya proyek kebudayaan modern.

Malam itu di Piji Wetan, Jala lan Jana melompat melampaui batas panggungnya. Aku dipulangkan pada sebuah kesadaran: jangan-jangan seluruh labirin proses kesenian kita sebetulnya hanyalah jalan memutar untuk menemukan kembali kejujuran dan ketulusan rasa yang paling mendasar. Menjadi seniman, atau menjadi manusia seutuhnya, ternyata adalah ikhtiar seumur hidup untuk belajar mendengarkan kembali keheningan. Sebuah ziarah untuk pulang dan mendengarkan bisikan sungai dengan apa adanya, sebagaimana cara anak-anak mecintai dunia dengan penuh, mendekap segala sesuatu yang ada dengan utuh, sembari sedikit petakilan. Azegh.


Rumah Nenek. 2026

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar