Panggung III

Serah #7: Seseorang Membawa Puisi, Lalu Terjadi Sesuatu

✍ Melly Fardiani Tasmara - 📅 24 Aug 2026

Serah #7: Seseorang Membawa Puisi, Lalu Terjadi Sesuatu
Melly Fardiani Tasmara

Malam Minggu, 22 Agustus 2026, sebuah ruang terbuka diisi oleh sesuatu yang barangkali paling sederhana dalam sebuah pertunjukan: orang-orang yang datang untuk mendengarkan.


Tidak ada gedung pertunjukan yang megah. Panggung Serah #7 Merawat Tradisi Merayakan Kreasi–Pertunjukan Sastra berdiri di atas tanah, dibangun dari bambu, kain, dan anyaman. Rumput tetap menjadi rumput. Gelap malam tetap menjadi gelap malam. Panggung tidak dibuat untuk memisahkan pertunjukan dari sekitarnya, tetapi justru membiarkan semuanya saling bercampur.

Di ruang seperti itulah Serah #7 berlangsung.

Serah kali ini mempertemukan sastra dengan berbagai kemungkinan bentuknya. Puisi tidak hanya dibaca. Ia menjadi pertanyaan, tubuh, cerita, bunyi, doa, nyanyian, hingga permainan yang mengajak penonton turut masuk ke dalam pertunjukan. Empat penampil hadir dengan caranya masing-masing. Malam itu, sastra tidak tinggal di dalam buku. Ia keluar, berdiri di atas tanah, bergerak bersama tubuh, dan bertemu langsung dengan orang-orang yang datang.

Malam dibuka oleh Zeyn.

Ia tampil seorang diri. Tidak banyak yang dibawa ke atas panggung selain dirinya dan catatan puisinya sendiri. Puisi yang ia tulis berangkat dari sebuah pertanyaan tentang Raden Ayu Mlati. Siapa sebenarnya Raden Ayu Mlati? Bagaimana sebuah nama kemudian begitu diagungkan dan dikenang sebagai sesepuh di Mlati Lor, Mlati Kidul, hingga Mlati Norowito?

Pertanyaan itu menjadi awal yang tepat untuk malam sastra.

Sebab sastra sering kali tidak datang untuk segera memberikan jawaban. Ia justru membuat kita kembali bertanya tentang sesuatu yang mungkin selama ini sudah terlalu akrab sehingga tidak lagi kita pertanyakan.

Zeyn membawa penonton kembali kepada sebuah nama dan ingatan. Di balik nama yang diwariskan dari generasi ke generasi, selalu ada kemungkinan bahwa masih terdapat cerita yang belum selesai diceritakan.

Penampilannya pun tidak lepas dari suasana tersebut. Dengan busana khas yang dikenakannya, Zeyn seolah membawa tubuhnya menjadi bagian dari puisi. Busana itu memberi kesan seseorang yang sedang datang dari sebuah ingatan, membawa cerita lama ke hadapan orang-orang hari ini. Tradisi tidak hanya hadir melalui isi puisinya, tetapi juga melalui cara ia menempatkan dirinya di atas panggung.

Setelah pertanyaan tentang Mlati itu menggantung di ruang pertunjukan, suasana kemudian berubah.

Ruang Intim hadir membawa bentuk lain dari perjumpaan antara sastra dan pertunjukan: teater sastra.

Jika Zeyn membiarkan kata-kata menjadi pusat perhatian, Ruang Intim membawa kata-kata itu masuk lebih jauh ke dalam tubuh.

Seorang pria hadir di atas panggung dengan kostum yang sangat sederhana: celana panjang dan singlet hitam. Tidak ada busana yang berlebihan. Tidak ada kemewahan yang mencoba menarik perhatian. Justru kesederhanaan itu membuat tubuh aktor menjadi semakin terbuka sebagai pusat pertunjukan.

Ia menghadirkan seorang pria yang tercabik pada sebuah petilasan, lalu tertimbun sebagai harapan.

Kalimat itu sendiri sudah seperti sebuah luka.

Ada seseorang yang datang ke sebuah tempat yang menyimpan jejak. Sebuah petilasan yang tidak hanya menjadi ruang fisik, tetapi juga tempat bertemunya ingatan, luka, dan sesuatu yang pernah terjadi. Tubuh pria itu kemudian menjadi tubuh yang tercabik. Namun pertunjukan tidak berhenti pada kehancuran. Ia juga menghadirkan kemungkinan tentang harapan meskipun harapan itu justru hadir dalam keadaan tertimbun.

Di situlah permainan aktor menjadi penting.

Ia tidak hanya memainkan tokoh melalui dialog atau kata-kata. Ketubuhan menjadi bahasa yang sama pentingnya. Gerak, tenaga, posisi tubuh, dan cara tubuhnya menghadapi ruang menjadi bagian dari teks pertunjukan.

Tubuhnya seperti sedang membaca puisinya sendiri.

Ada saat ketika sastra tidak cukup hanya diucapkan. Ia perlu dijatuhkan, ditarik, ditahan, atau dibenturkan ke ruang agar maknanya dapat terasa dengan cara yang lain. Ruang Intim menghadirkan kemungkinan tersebut.

Petilasan dalam pertunjukan ini dapat dibaca sebagai tempat yang menyimpan bekas. Sementara tubuh yang tercabik menjadi gambaran tentang manusia yang berhadapan dengan bekas-bekas itu. Dan ketika ia kemudian tertimbun sebagai harapan, muncul sebuah paradoks yang menarik: sesuatu yang terkubur ternyata tidak selalu berarti mati.

Harapan pun kadang tidak tumbuh dari tanah yang bersih.

Ia justru tumbuh dari sesuatu yang pernah terluka, pernah runtuh, dan pernah ditinggalkan.

Penampilan Ruang Intim menjadi jembatan yang menarik dalam perjalanan Serah #7. Setelah Zeyn mengajak penonton menelusuri pertanyaan tentang nama dan ingatan, Ruang Intim membawa ingatan itu ke dalam tubuh, menjadikannya luka yang bergerak, jatuh, dan berusaha tetap hidup.

Dari tubuh yang tercabik dan harapan yang tertimbun, malam kemudian bergerak menuju sesuatu yang lebih ringan, tetapi tetap dekat dengan kehidupan manusia: cinta.

Teater Simpul hadir dengan penampilan yang mereka sebut sebagai Harmonisasi Puisi. Mereka membawakan Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono.

Pilihan itu terasa akrab dengan suasana malam Minggu. Ketika orang-orang mungkin sedang bersama seseorang yang dicintainya, sedang mengingat seseorang, atau justru sedang sendirian, puisi cinta menemukan ruangnya sendiri.

Aku Ingin tidak berbicara tentang cinta dengan cara yang berisik. Kesederhanaannya justru menjadi kekuatannya. Keinginan untuk mencintai tanpa harus menguasai, hadir tanpa harus berlebihan, menjadi sesuatu yang dapat dirasakan siapa saja.

Melalui Harmonisasi Puisi, Teater Simpul tidak hanya membacakan kata-kata. Mereka mencoba menghadirkan puisi sebagai suasana.

Dari cinta, perjalanan kemudian bergerak ke pembacaan puisi bertema Maulid Nabi. Kehadirannya terasa menyatu dengan momentum malam itu. Sastra kembali menemukan bentuknya sebagai ruang penghormatan dan perenungan.

Jika puisi sebelumnya berbicara tentang cinta antarmanusia, bagian ini mengajak penonton melihat cinta dalam bentuk yang lain: cinta kepada teladan dan nilai-nilai yang terus ingin dihidupkan.

Malam kemudian kembali mengajak penonton melihat kehidupan hari ini melalui puisi Joko Pinurbo, “Doa Orang Sibuk yang 24 Jam Berkantor di Ponselnya.”

Puisi itu terasa sangat dekat.

Manusia hari ini membawa pekerjaannya ke mana-mana. Ponsel menjadi kantor kecil yang tidak pernah tutup. Pesan terus masuk. Pemberitahuan terus berbunyi. Bahkan ketika tubuh sudah berada di rumah, pikiran belum tentu benar-benar pulang.

Puisi ini seperti sebuah cermin yang diletakkan di tengah pertunjukan.

Setelah berbicara tentang ingatan, luka, harapan, cinta, dan doa, penonton kembali berhadapan dengan dirinya sendiri: manusia yang mungkin terlalu sibuk untuk berhenti sejenak.

Di situlah sastra kembali melakukan tugasnya.

Membuat kita berhenti.

Bukan untuk memberikan jawaban, tetapi untuk menyadari pertanyaan yang selama ini tidak sempat kita pikirkan.

Perjalanan kemudian dilanjutkan kembali oleh Teater Obeng. Kali ini mereka membawa puisi ke dalam bentuk yang berbeda. Puisi tidak hanya dibaca, tetapi dilagukan bersama iringan pianika.

Suatu Hari Nanti karya Sapardi Djoko Damono dan Sia-sia karya Chairil Anwar hadir dengan suasana yang berbeda.

Ada pertemuan antara kata dan nada. Puisi menjadi bunyi. Bunyi menciptakan suasana. Dan penonton kembali mendengarkan sastra dengan cara yang lain.

Suatu Hari Nanti membawa perasaan tentang waktu dan sesuatu yang mungkin harus ditinggalkan. Sementara Sia-sia menghadirkan kegelisahan yang lebih getir. Keduanya seperti mengingatkan bahwa manusia selalu berhadapan dengan waktu, kehilangan, dan hal-hal yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.

Setelah perjalanan panjang melalui berbagai bentuk sastra, Cotsu hadir sebagai penutup.

Suasana malam berubah menjadi lebih meriah.

Penonton yang sejak awal duduk dan menyaksikan perlahan diajak turun untuk menjadi bagian dari penampilan. Tidak ada lagi jarak yang benar-benar tegas antara yang tampil dan yang menonton.

Tempat duduk penonton pun menjadi panggung.

Dan mungkin, penutup itu menjadi cara terbaik untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sepanjang Serah #7.

Sejak awal, Serah tidak ingin menempatkan seni sebagai sesuatu yang jauh. Panggung dibangun sederhana. Ruang pertunjukan terbuka. Sastra dibawa keluar dari halaman buku dan dipertemukan dengan banyak kemungkinan.

Sastra malam itu menjadi pertanyaan tentang Mlati.

Menjadi tubuh seorang pria yang tercabik di sebuah petilasan.

Menjadi harapan yang tertimbun.

Menjadi cinta pada malam Minggu.

Menjadi doa dan penghormatan.

Menjadi kegelisahan manusia yang 24 jam berkantor di dalam ponselnya.

Menjadi lagu tentang waktu dan kesia-siaan.

Lalu akhirnya menjadi perayaan bersama.

Di situlah Serah #7 Merawat Tradisi Merayakan Kreasi-Pertunjukan Sastra menemukan maknanya.

Merawat tradisi bukan hanya menyimpan cerita lama agar tetap ada. Merawat tradisi juga berarti membuka kembali ingatan, mempertanyakannya, dan memberinya kesempatan untuk berbicara kepada hari ini.

Sementara merayakan kreasi berarti memberi kebebasan kepada sastra untuk menemukan tubuh dan bentuknya sendiri.

Ia boleh dibaca.

Ia boleh dimainkan.

Ia boleh dinyanyikan.

Ia boleh menjadi tubuh yang bergerak.

Bahkan ia boleh keluar dari panggung dan mengajak penontonnya ikut bermain.

Malam itu, sastra tidak meminta untuk dipahami seluruhnya.

Ia hanya datang untuk berjumpa.

Dan seperti Serah yang terus membuka ruang perjumpaan, pada akhirnya yang paling penting bukan hanya siapa yang tampil di atas panggung, tetapi bagaimana sebuah karya berhasil mempertemukan orang-orang yang sebelumnya datang sebagai orang asing, lalu pulang dengan membawa sesuatu dari pertunjukan itu.

Mungkin sebuah pertanyaan.

Mungkin sebuah ingatan.

Mungkin sebuah luka.

Atau mungkin, sebuah harapan yang selama ini tertimbun, tetapi belum benar-benar hilang.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar