Kisah berdirinya Djarum berawal dari tangan visioner Oei Wie Gwan, pengusaha asal Rembang yang pada awalnya dikenal lewat produksi petasan bermerek Leo sebelum Perang Dunia II (Tempo, 2016). Setelah pemerintah melarang industri petasan, Oei beralih ke bisnis kretek dengan membeli sebuah pabrik rokok kecil di Kudus pada tahun 1951. Dari sinilah merek Djarum lahir. Dengan ketekunan luar biasa, ia mencampur tembakau sendiri, meracik saus khas, dan menjaga mutu produksi hingga Djarum cepat dikenal luas. Selain merek utama Djarum, Oei juga meluncurkan rokok Merata, Kotak Ajaib, dan Kembang Tanjung.
Usahanya berkembang pesat hingga memiliki beberapa pabrik di Kudus. Namun, pada tahun 1963, kebakaran hebat melanda pabrik Djarum saat Oei dalam kondisi sakit. Ia tak sempat mengetahui musibah itu dan wafat di tahun yang sama, meninggalkan warisan usaha yang hampir runtuh—namun tak pernah padam semangatnya (Kompas, 2003).
Warisan itulah yang kemudian dihidupkan kembali oleh dua putranya, Bambang dan Budi Hartono, yang kala itu masih menempuh pendidikan di Universitas Diponegoro, Semarang. Mereka pulang ke Kudus dan mengambil alih perusahaan dalam kondisi nyaris bangkrut. Dengan keberanian dan kecerdasan manajerial, Bambang Hartono meyakinkan pihak bank untuk memberi kredit tambahan, menaikkan gaji pekerja tiga kali lipat demi menjaga semangat kerja, dan menata ulang produksi (Warta Ekonomi, 1997).
Hasilnya luar biasa: Djarum bangkit menjadi salah satu raksasa industri kretek sejajar dengan Gudang Garam, Bentoel, dan Sampoerna. Di bawah kepemimpinan mereka, Djarum tak hanya menguasai pasar domestik, tetapi juga menembus ekspor ke Amerika Serikat, Kanada, dan Jepang. Diversifikasi pun dilakukan dengan mendirikan PT Hartono Istana Elektronik (Polytron), PT Ratindo untuk mebel rotan, hingga PT Genting Ajaib. Perjalanan Djarum adalah kisah tentang daya tahan dan inovasi lintas generasi—sebuah api kecil dari Rembang yang menyala terang di Kudus dan dunia.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar