Dalam ruang yang dihadirkan oleh Dewan Kesenian Kudus melalui program Serah #4 bertajuk Narasi dan Tubuh, seni tidak sekadar dipertunjukkan, ia benar-benar diberi ruang untuk hidup, berproses, dan dipertemukan dengan publik secara utuh. Yang terasa menonjol dari perhelatan ini bukan hanya deretan karya di atas panggung, tetapi juga kesadaran bahwa seni membutuhkan ekosistem: ruang, keberanian, dan dialog.
Dewan Kesenian Kudus tampak konsisten memposisikan diri bukan hanya sebagai penyelenggara acara, melainkan sebagai penghubung antara proses kreatif dan audiens. Dalam konteks ini, Serah #4 menjadi lebih dari sekadar agenda pertunjukan; ia menjelma menjadi ruang perjumpaan antara gagasan, pengalaman, dan tafsir yang terus bergerak.
Salah satu kelompok yang mendapat kesempatan dalam ruang ini adalah Sanggar Panji Wilis, kelompok tari asal Kudus yang berdiri pada 2022. Bagi mereka, tampil dalam Serah #4 bukan hanya soal panggung, tetapi tentang menyerahkan proses panjang kepada publik, sebuah momen penting dalam perjalanan kreatif yang masih bertumbuh.
Mengusung semangat βPanjiβ sebagai simbol kemenangan, mereka menghadirkan lima karya yang berangkat dari refleksi kehidupan.
Tari Jantra Ning Laku membuka dengan gagasan tentang hidup sebagai perjalanan yang tak pernah selesai. Gerak yang berulang, jatuh, bangkit, melangkah menjadi metafora yang terasa dekat dengan pengalaman manusia sehari-hari.
Beranjak ke Tari Rubiyah, suasana berubah lebih hening dan intim. Karya ini menyoroti keteguhan dan keikhlasan perempuan, menghadirkan emosi yang tidak meledak, tetapi justru meresap perlahan.
Eksplorasi berbeda muncul dalam Tari Kridanala, sebuah karya kontemporer yang menyoroti pergulatan kepemimpinan di tengah krisis. Geraknya lebih liar, lebih terbuka, seolah menggambarkan kompleksitas batin yang tidak pernah benar-benar selesai.
Di sisi lain, Tari Genjring Party menghadirkan energi yang kontras, ringan, riang, dan komunikatif. Karya ini terasa seperti ruang temu generasi muda dengan tradisi, diolah dengan pendekatan yang lebih cair dan kekinian.
Sementara itu, Tari Topeng Suminten menutup dengan nuansa dramatik. Topeng menjadi medium untuk mengungkap emosi yang terpendam: kegelisahan, tekanan, hingga bentuk pelarian diri yang sering kali tak terlihat di permukaan.
Namun, kekuatan Serah #4 tidak berhenti pada pertunjukan. Justru, lapisan paling menarik hadir dalam sesi diskusi pascapentas yang dimoderatori oleh Yenni. Ia tidak sekadar memandu percakapan, tetapi berhasil membuka ruang dialog yang hidup dan setara antara seniman dan penonton.
Dalam sesi tersebut, seorang penonton bernama Farid mengangkat isu seksisme dalam praktik seni pertunjukan. Ia mempertanyakan bagaimana tubuh, terutama tubuh perempuan, sering kali diposisikan dalam kerangka pandang tertentu yang berpotensi bias. Pertanyaan ini memantik diskusi yang cukup tajam, memperlihatkan bahwa karya tari tidak pernah benar-benar netral; ia selalu berkaitan dengan pengalaman pelaku dan konteks sosial yang melingkupinya.
Sementara itu, Petrus Budi Utomo mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah tubuh masih bisa dianggap sebagai pusat penciptaan dalam seni tari hari ini? Pertanyaan ini membuka refleksi yang lebih filosofis, terutama ketika praktik tari kontemporer mulai bersinggungan dengan teknologi, ruang digital, hingga konsep tubuh yang semakin cair.
Di sisi pengalaman personal, Afifudin Sanjaya berbagi cerita tentang bagaimana menjadi penari bukan sekadar soal teknik, tetapi juga tentang menjalani tubuh sebagai medium hidup. Ia menuturkan bahwa setiap gerak bukan hanya hasil latihan, melainkan akumulasi pengalaman, emosi, dan ingatan yang terus bekerja dalam tubuh.
Cerita ini kemudian dilengkapi oleh Frenz Afif yang menyoroti segmen penonton dalam karya-karya tari eksperimental. Ia menggarisbawahi bahwa tidak semua penonton datang dengan kesiapan yang sama. Dalam konteks tari eksperimental, justru sering terjadi jarak, namun di situlah kemungkinan dialog muncul. Penonton tidak lagi sekadar menikmati, tetapi juga diajak untuk menafsir, bahkan mempertanyakan.
Seluruh percakapan ini memperlihatkan bahwa Serah #4 tidak berhenti sebagai peristiwa artistik, tetapi berkembang menjadi peristiwa kultural. Ada pertukaran gagasan, ada ketegangan wacana, dan ada upaya bersama untuk memahami seni sebagai sesuatu yang terus berubah.
Pada akhirnya, yang ditawarkan oleh Dewan Kesenian Kudus melalui Serah #4 adalah sebuah kemungkinan: bahwa seni bisa tumbuh ketika diberi ruang, dan ruang itu tidak hanya berupa panggung, tetapi juga percakapan. Dalam pertemuan antara karya, seniman, dan penonton, seni menemukan napasnya, hidup, tumbuh, bergerak, dan terus dipertanyakan. Seperti yang disinggung Penasehat Dewan Kesenian Kudus Bp. Bambang Widiharto, S.Sen dalam sambutanya di malam itu.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar