PATI – Festival Film Anak Bangsa (FFAB) 2026 melanjutkan perjalanannya sebagai ruang refleksi visual yang mempertemukan penonton dengan kejujuran narasi daerah. Setelah sukses di titik-titik sebelumnya, festival ini kini memasuki titik pemutaran ke-4 dari total 6 titik yang direncanakan di wilayah Kudus, Jepara, dan Pati. Kali ini, Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Pati menjadi saksi bertemunya gagasan kreatif dengan hadirnya sosok filmmaker Warih Bayu sebagai kawan diskusi.
Program yang mendapat dukungan penuh dari Dana Indonesiana dan LPDP ini, hadir bukan sekadar sebagai ajang pemutaran film, melainkan sebuah upaya kolektif untuk merawat identitas melalui layar perak. Dukungan ini mempertegas urgensi film sebagai instrumen strategis dalam Mendokumentasikan nilai-nilai budaya dan dinamika sosial yang sering kali luput dari arus utama.
Eksplorasi dalam pemutaran kali ini menonjolkan tiga fragmen kehidupan yang kuat dan kontras. Dimulai dengan "Ulat-Ulat Menggeliat" persembahan Akar Rumput Pictures, sebuah karya yang tampil dengan kejujuran mentah dalam menangkap geliat kehidupan masyarakat kecil di bawah radar kuasa. Melalui visual yang organik, penonton diajak melihat daya tahan manusia-manusia "akar rumput" yang tetap memberikan denyut bagi kehidupan sosiokultural kita meski di tengah keterbatasan.
Berpindah ke ruang batin yang lebih intim, GsT Production menghadirkan "Mulih", sebuah elegi visual tentang makna kepulangan. Dengan komposisi gambar yang puitis dan ritme yang tenang, film ini mempertanyakan kembali arti sebuah rumah: apakah ia sebuah koordinat geografis, ataukah sebuah ruang kenangan di dalam dada. Di sisi lain, Pillers Production membawa kita ke tepian tajam realitas urban melalui "Ujung Jakarta", sebuah potret sosiologis tentang mereka yang bertahan di garis batas megapolitan, mencoba untuk tidak tergerus oleh ambisi kota besar.
Kehadiran Warih Bayu di titik ke-4 ini diharapkan mampu membedah lapisan-lapisan pemikiran di balik karya-karya tersebut. Diskusi ini menjadi momen penting bagi sineas muda dan pendidik di Kabupaten Pati untuk melihat bagaimana sebuah ide personal dapat bertransformasi menjadi "arsip hidup" yang memiliki martabat estetika.
FFAB 2026 #2 akan terus bergerak menuju dua titik terakhir di wilayah Muria Raya, membawa semangat yang sama: bahwa kekuatan sinema daerah terletak pada keberaniannya untuk tetap dekat dengan realitas dan kejujuran dalam bercerita.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar