Saya pernah duduk di belakang panggung, memperhatikan teman-teman tampil. Di atas panggung, semuanya terlihat tertata. Dialognya pas, geraknya jelas, ceritanya punya arah.
Tapi yang justru membuat saya berpikir bukan yang di atas panggung, melainkan pengalaman - pengalaman yang di luar. Di luar panggung, hidup juga terasa seperti punya alur. Bangun, sekolah, menyusun rencana, pelan-pelan mengejar masa depan. Semuanya seperti sudah ada jalurnya. Dan jujur, itu terasa seperti semuanya sudah terjamin.
Sejak kecil, saya diajarkan hal yang sama: hidup itu harus punya arah, harus jelas, harus “jadi sesuatu”. Akhirnya, tanpa sadar, saya ikut bergerak ke sana mengejar yang mapan.
Punya posisi yang diakui, hidup yang terlihat baik baik saja. Tapi semakin dijalani, muncul perasaan yang sulit dijelaskan. Setiap sesuatu harus terlihat apik, selalu ada hal lain yang enggak kebagian tempat. Hal-hal yang belum jadi. Yang masih mencari bentuk. Yang terlalu berbeda untuk masuk ke pola yang sudah ada.
Saya jadi teringat RT Nol RW Nol dari Iwan Simatupang yang dilakonkan Teater SKS tempo hari. Tokoh-tokohnya seperti hidup di luar sistem yang ada itu. Mereka enggak punya posisi yang jelas, enggak benar-benar masuk dalam pola yang dianggap “beres”.
Kalau dilihat sekilas, seperti tokoh - tokoh terlihat gagal dalam hidupnya. Tapi kalau diperhatikan lebih lama, muncul pertanyaan lain: apakah mereka yang bermasalah, atau justru tempatnya yang terlalu sempit?
Dari situ, cara saya melihat teater juga mulai berubah. Selama ini, setahu saya, teater sering dipahami sebagai hasil yang sudah jadi.
Pertunjukan harus bagus, apik, dan selesai. Tapi dalam prosesnya, yang paling terasa justru bukan itu. Kadang yang paling hidup muncul saat latihan. Saat salah. Saat bingung. Saat adegan tidak berjalan, tapi seringkali justru membuka kemungkinan baru.
Teater terasa seperti suatu yang gak serta merta selesai menjadi produk atau benda yang konkret, melainkan peristiwa, pun demikian prosesnya. Sesuatu yang terjadi, bukan sesuatu yang harus selalu disempurnakan. Kalau dipikir-pikir, tokoh-tokoh dalam RT Nol RW Nol seperti berada dalam peristiwa yang enggak pernah benar-benar selesai.
Mereka mungkin enggak sampai pada bentuk yang tuntas, dan saya rasa itu tak perlu menjadi final, tapi juga tidak berhenti. Dan justru di situ, ada rasa hidup, sebagai ekspresi budaya yang terus dimaknai. Dari situ, pelan-pelan cara pandang saya ikut bergeser dan sedikit demi sedikit mulai memahami.
Menurut saya, enggak semua hal harus langsung jadi. Enggak semua hal harus masuk ke yang mapan. Karena ketika semuanya dipaksa rapi, ada kemungkinan sesuatu yang lain hilang sesuatu yang sebenarnya penting, tapi enggak sempat tumbuh.
Sekarang, saat menjalani proses teater di kelompok saya, mungkin rasanya akan berbeda. Enggak terlalu terburu-buru untuk “jadi”.
Lebih mencoba merasakan apa yang sedang terjadi. Karena bisa jadi, yang paling berarti enggak hasil akhirnya, melainkan momen-momen sederhana yang sempat terjadi di tengah jalan dan setelahnya.
Dan mungkin, hidup juga seperti itu. Enggak harus selalu terlihat tuntas, yang penting masih memberi ruang bagi sesuatu untuk terjadi.
Seperti karya itu sendiri yang menolak dilihat dari bagaimana selesainya, tetapi dari apa yang tetap hidup setelahnya.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar