Esai

Merawat Bara Kata di Kota Kudus

✍ Imam Khanafi - 📅 10 Mar 2026

Merawat Bara Kata di Kota Kudus
Imam Khanafi

Oleh Imam Khanafi , tinggal di Kudus dan menulis esai tentang pertunjukan serta budaya. Sejak 2024, ia berkarya bersama Phos dengan menerbitkan zine sastra.

ADA masa ketika saya percaya bahwa sastra tidak pernah benar-benar mati di sebuah kota, ia hanya sedang bersembunyi. Ia menunggu seseorang membuka pintu kecil, atau sekadar menyalakan lampu di sebuah ruangan yang lama gelap. Kota Kudus bagi saya selalu menyimpan kemungkinan itu. Di sela-sela warung kopi, jalan sunyi, dan percakapan yang kadang cepat berakhir. Sastra mungkin tidak ramai di sini, tetapi ia selalu punya cara untuk tetap bernapas.

Perjalanan saya dengan sastra di Kudus sebenarnya dimulai jauh sebelum Phos lahir. Pada tahun 2011, bersama beberapa teman, kami mendirikan sebuah komunitas bernama Keloepas. Nama itu terasa sederhana, bahkan sedikit nakal. Namun di baliknya ada semangat kecil untuk membuka ruang bagi kata-kata. Kami hanya ingin membuat tempat bagi orang yang masih percaya bahwa menulis adalah cara memahami dunia.

Keloepas tidak lahir dari rencana besar atau konsep yang terlalu rapi. Ia muncul dari percakapan panjang, dari kopi yang dingin, dan dari kegelisahan yang sama. Kami merasa kota ini terlalu cepat melupakan sastra. Padahal setiap kota membutuhkan cermin untuk melihat dirinya sendiri. Dan sastra, bagi kami, adalah cermin yang paling jujur.

Dari sanalah kami mulai menerbitkan sebuah buletin sastra. Bentuknya sederhana, kadang hanya beberapa halaman yang disusun seadanya. Kami mencetaknya dengan semangat yang lebih besar daripada kemampuan kami. Tidak ada jadwal terbit yang pasti. Buletin itu lahir setiap kali kami memiliki cukup keberanian untuk menerbitkannya.

Beberapa edisi berhasil kami terbitkan. Setiap edisi terasa seperti kemenangan kecil. Kami tahu pembacanya tidak banyak, bahkan mungkin sangat sedikit. Tetapi bagi kami, yang penting adalah bahwa kata-kata itu menemukan jalan keluar. Bahwa sastra masih punya ruang untuk bernafas di Kudus.

Waktu berjalan dengan caranya sendiri. Orang-orang mulai sibuk dengan kehidupan masing-masing. Energi yang dulu terasa besar perlahan menjadi jarang berkumpul. Pada tahun 2016, buletin Keloepas menerbitkan edisi terakhirnya. Tidak ada pengumuman resmi tentang akhir itu, hanya sebuah kesadaran sunyi bahwa sesuatu telah selesai.

Namun sastra punya sifat yang aneh. Ia jarang benar-benar berakhir. Ia hanya berubah bentuk, atau menunggu waktu yang tepat untuk muncul kembali. Seperti bara kecil yang tertutup abu. Ia mungkin tampak padam, tetapi sebenarnya masih menyimpan panas. Dan saya percaya suatu hari bara itu akan kembali menyala.

Beberapa tahun setelah Keloepas mereda, saya kembali memikirkan hal yang sama. Tentang kota kecil ini dan ruang sastra yang semakin jarang terlihat. Diskusi sastra tidak lagi sering terdengar. Buku-buku puisi tidak banyak dibicarakan. Seolah-olah sastra perlahan bergerak ke pinggir kehidupan kota.

Di situlah saya mulai merasakan kebutuhan untuk memulai sesuatu lagi. Bukan untuk mengulang Keloepas, tetapi untuk melanjutkan semangatnya. Sebab setiap zaman memiliki cara yang berbeda untuk merawat sastra. Saya hanya ingin membuka ruang kecil yang baru. Ruang yang mungkin sederhana, tetapi tetap hidup.

Pada Mei 2024, bersama dua teman Elang dan Adidin (Lilis) kami mendirikan Phos zine sastra. Nama phos berarti cahaya. Kami menyukainya karena terdengar kecil dan tenang. Bukan cahaya besar yang menyilaukan, tetapi cahaya kecil yang cukup untuk membaca sebuah halaman.

Phos lahir dari percakapan yang tidak jauh berbeda dari masa Keloepas dulu. Masih ada kopi, masih ada kegelisahan yang sama. Kami berbicara tentang sastra, tentang kota, dan tentang ruang yang semakin sempit bagi kata-kata. Dari percakapan itu, Phos perlahan menemukan bentuknya. Sebuah zine yang sederhana tetapi penuh niat untuk merawat sastra.

Edisi pertama Phos terbit pada Mei 2024. Rasanya selalu aneh setiap kali sebuah media sastra benar-benar terbit. Ada rasa lega, tetapi juga rasa ragu yang tidak hilang. Apakah ada yang akan membaca? Apakah tulisan-tulisan ini akan menemukan pembacanya? Namun seperti dulu, kami memilih untuk tidak terlalu memikirkan jawabannya.

Phos kemudian terbit beberapa kali. Tidak selalu teratur, tetapi cukup untuk membuat kami merasa bahwa ia benar-benar hidup. Setiap edisi membawa cerita baru. Ada penulis baru, ada gagasan baru, dan ada semangat yang terus bergerak. Perlahan kami merasa sedang merawat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar zine.

Bagi saya, Phos sebenarnya membawa sedikit energi dari Keloepas. Bukan dalam bentuk yang sama, tetapi dalam semangat yang serupa. Semangat untuk tidak menyerah pada sunyinya ruang sastra. Semangat untuk tetap percaya bahwa sastra penting bagi sebuah kota. Dan bahwa merawatnya adalah kerja yang harus dilakukan bersama.

Hari ini, jika kita melihat Kudus, ruang sastra memang tidak terlalu banyak terbuka. Diskusi jarang terjadi. Komunitas tidak selalu aktif. Tetapi saya percaya sastra tidak pernah benar-benar hilang dari sebuah kota. Ia hanya menunggu seseorang membuka pintunya kembali.

Phos tidak mencoba menjadi pusat dari semuanya. Ia hanya ingin menjadi ruang kecil yang bersedia menerima kata-kata. Tempat di mana orang boleh menulis tanpa terlalu banyak syarat. Tempat di mana sastra masih boleh tumbuh dengan cara yang sederhana. Kadang justru dari kesederhanaan itulah sesuatu bisa bertahan lebih lama.

Pada akhirnya, perjalanan ini membuat saya percaya bahwa merawat sastra adalah kerja yang sunyi tetapi penting. Ia tidak selalu terlihat besar atau ramai. Kadang ia hanya hadir dalam bentuk zine tipis yang dibaca beberapa orang. Namun selama masih ada yang menulis, membaca, dan percaya pada kata-kata, sastra di Kudus tidak akan pernah benar-benar hilang. Dan mungkin, dari cahaya kecil bernama Phos, sesuatu akan terus menyala. Semoga. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar