Esai

Menembus Zona Nyaman Teater Kudus: Belajar Gelisah dari Arifin C. Noer

✍ Imam Khanafi - 📅 27 Sep 2025

Menembus Zona Nyaman Teater Kudus: Belajar Gelisah dari Arifin C. Noer
Imam Khanafi

Oleh Imam Khanafi , tinggal di Kudus dan menulis esai tentang pertunjukan serta budaya. Sejak 2024, ia berkarya bersama Phos dengan menerbitkan zine sastra.

Berangkat dari kegelisahan yang sudah lama mengendap di Kudus, saya merasa kesenian—khususnya teater—kini tengah berada di sebuah zona nyaman yang berbahaya. Pementasan demi pementasan hadir, tetapi seperti berjalan di jalur yang sama: aman, manis, rapi, dan tak banyak mengguncang.

Sebuah pola yang mungkin membuat kita puas karena masih ada pertunjukan, masih ada penonton, masih ada panggung. Namun, apakah itu cukup? Apakah hanya dengan “masih ada” kita bisa menyebut teater di Kudus sedang hidup? Pertanyaan ini semakin mendesak ketika saya membaca kembali tulisan Arifin C. Noer berjudul Iman kepada Pikiran, “Dasar” Sumur Tanpa Dasar yang dimuat di TEMPO, No. 30, Tahun XVII, 26 September 1987.

Arifin, melalui catatan proses pementasan Sumur Tanpa Dasar, memperlihatkan keberanian teater yang sesungguhnya: teater tentang hidup harus hidup. Ia tidak berhenti pada bentuk, tidak berhenti pada kenyamanan, bahkan tidak berhenti pada kesetiaan pada teks.

Ia menulis dan mementaskan lakon sebagai arena pertempuran pikiran, pertarungan batin, sekaligus godaan materialisme zaman. Tokoh Jumena Martawangsa menjadi potret manusia modern yang “beriman kepada pikiran”, bukan lagi sepenuhnya kepada Tuhan—sebuah refleksi yang sampai sekarang masih terasa tajam. Arifin tidak sekadar menghibur. Ia menggoda, memprovokasi, dan mengajak penonton menengok ke dalam diri sendiri, bahkan ketika caranya penuh banyolan dan komik.

Di Kudus, saya jarang—atau bahkan hampir tidak—melihat kegelisahan serupa di panggung teater. Banyak kelompok masih bermain aman: memproduksi naskah yang mudah ditebak, mengandalkan kelucuan yang steril, atau menekankan teknis tanpa menyentuh lapisan gagasan. Padahal, sejarah teater di kota ini sudah mengenal arena kompetisi sejak lama.

Festival Teater Pelajar SMP, misalnya, telah mengajarkan generasi muda untuk berani tampil sejak usia belia. Tetapi setelah itu? Banyak yang berhenti di situ, merasa cukup hanya dengan bisa “mentas” dan mendapat tepuk tangan. Tidak ada lagi obsesi untuk mengguncang pikiran, untuk menantang zaman, untuk membuat penonton pulang dengan dada sesak karena dilanda pertanyaan.

Kita bisa belajar dari keberanian Arifin. Sumur Tanpa Dasar bukan hanya lakon yang “serem” atau filosofis. Ia lahir dari pergulatan pribadi: pertemuan pesantren dan filsafat Barat, pengalaman melawak, hingga kegelisahan pada indoktrinasi politik. Semua itu diolah menjadi pementasan yang hidup, yang bisa berbeda setiap kali dipentaskan, yang menuntut stamina fisik dan mental luar biasa dari aktornya.

Di Kudus, berapa banyak dari kita yang berani menulis lakon sebagai reaksi terhadap kenyataan hari ini—soal industrialisasi rokok, arus modal, konflik sosial, atau bahkan soal iman kita sendiri? Atau jangan-jangan kita lebih takut pada komentar teman dan sponsor daripada takut kehilangan daya hidup teater itu sendiri?

Tulisan Arifin adalah tamparan sekaligus undangan. Ia menegaskan bahwa teater tidak boleh hanya jadi rutinitas, apalagi jadi etalase kegiatan komunitas. Teater harus menjadi medan olah pikir, olah rasa, olah jiwa. Di kota kecil seperti Kudus, di mana sejarah, industri, dan religiositas bertumpuk, seharusnya teater justru punya bahan ledakan yang jauh lebih kaya daripada kota-kota besar. Tetapi tanpa keberanian menembus “dasar” sumur pikiran kita sendiri, semua potensi itu hanya akan jadi poster acara yang kita tempel di dinding, menunggu dilupakan.

Kepada teman-teman teater di Kudus, saya ingin berkata: berhentilah merasa cukup hanya dengan bisa mementaskan naskah. Mari kita gali lebih dalam, bahkan kalau perlu sampai tidak ketemu dasar, seperti Jumena yang berpikir sampai porak-poranda. Mari kita lawan kebiasaan bermain aman.

Mari kita ciptakan teater yang berani menertawakan diri sendiri, menelanjangi keyakinan, dan mengguncang logika. Kalau tidak, kita hanya akan jadi penonton dari kebosanan kita sendiri—sementara Arifin, jauh sebelum kita, sudah menunjukkan jalan bagaimana teater bisa benar-benar hidup.


Semoga bermanfaat. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar