Beberapa tahun lalu dalam sebuah program vokasi seni teater dengan bentuk parade monolog Whani Darmawan. Saya dan beberapa teman hadir sebagai mentor waktu itu, tentu kami membawa catatan soal teknik, soal kehadiran tubuh di atas panggung, soal bagaimana seorang aktor tunggal membangun dunia hanya dengan suara dan gerak. Ada perasaan canggung yang tidak bisa disembunyikan setelah saya tahu bahwa di hadapan saya ternyata adalah seorang pelakon Ludruk kawakan, Agung Kasas.
Seseorang yang tubuhnya sudah hafal panggung jauh sebelum saya tahu cara mengeja kata "dramaturgi." Kami yang seharusnya memberi panduan teknis monolog, tiba-tiba merasa seperti seorang murid yang diminta menguji gurunya. Suasana itu menggantung. Yang kemudian terjadi bukanlah sesi mentoring dalam arti konvensional. Yang terjadi adalah percakapan panjang, mengalir, penuh persimpangan.
Agung berbicara tentang Ludruk bukan sebagai tradisi yang perlu dimuseumkan, melainkan sebagai sistem pengetahuan yang hidup: tentang bagaimana lawak bisa menjadi kritik, bagaimana dialek bisa menjadi pisau bedah sosial, bagaimana potongan - potongan cerita kontekstual di pasar, tongkrongan dll bisa disatukan menjadi satu naskah utuh dalam kepala aktor, tubuh yang tidak pernah belajar di bangku akademi teater justru menyimpan pemahaman yang melampaui apa yang ditulis di dalam buku teks dramaturgi Barat.
Saya pergi dari sesi itu dengan catatan yang terbalik: bukan saya yang memberi, melainkan saya yang menerima. Dan pelajaran terpenting yang dibawa Agung tanpa ia sadari menyampaikannya bahwa teater rakyat kita bukanlah cabang dari teater barat yang belum selesai berkembang. Ia adalah epistemologi tersendiri.
Itulah yang membuat saya, ketika mendengar bahwa Agung Kasas menyutradarai Sandiwara Para Binatang bersama Teater SMKN 12, langsung ingin tahu: apa yang terjadi ketika seorang pelakon Ludruk bertemu naskah adaptasi Orwell yang berbaju teater modern?
George Orwell menulis Animal Farm pada 1945 dalam bayangan Eropa yang baru saja diluluhlantakkan oleh dua perang besar dan satu pengkhianatan ideologi. Pernah diadapatasi oleh Nano Riantarno dan menjadi pijakan Teater SMKN 12 kali ini.
Kalau dalam novel Babi-babi Orwell bernama Napoleon dan Snowball bukanlah karakter fiktif; mereka adalah wajah-wajah yang dikenali oleh pembaca sezamannya. Namun kekuatan teks terletak justru pada sifatnya yang melampaui referensi spesifik itu. Fabel bekerja karena ia menolak nama tempat dan waktu. "Manor Farm" bisa di mana saja. "Binatang" bisa siapa saja. Dan kalimat paling terkenal dalam novel itu adalah "Semua hewan setara, tetapi beberapa hewan lebih setara daripada yang lain ". Kalimat yang terus menemukan pembacanya di setiap generasi, di setiap belahan bumi, karena kebenaran pahit yang dikandungnya tidak pernah kedaluwarsa.
Penggarap barangkali sudah membaca ulang naskah itu dengan telinga yang berbeda, dengan ingatan yang berbeda, dan dengan pertanyaan yang berbeda pula.
Jika Orwell menyasar pembaca yang mengenali wajah-wajah di balik topeng binatang itu, maka ia menyasar penonton yang mungkin tidak tahu siapa Stalin, tetapi tahu betul bagaimana rasanya melihat janji kemerdekaan perlahan-lahan berganti wajah. Yang paling fundamental dari jarak antara novel dan naskah teater sebetulnya bukan soal medium semata.
Novel memberi jarak pembaca duduk sendirian, dalam ketenangan, dan kemarahan atau kesedihannya adalah urusan pribadi yang bisa ia tutup kapan saja.
Teater bekerja dengan cara yang sama sekali berbeda. Penonton tertawa bersama, terdiam bersama, dan ketika tawa itu tiba-tiba terasa tidak nyaman, ketidaknyamanan itu pun dialami bersama-sama di dalam satu ruang, dalam satu waktu, tanpa ada buku yang bisa ditutup, tanpa ada pintu darurat untuk berhenti di tengah jalan.
Dalam novel Orwell, jawabannya mungkin sudah tersedia kita tahu ke mana arah cerita itu, kita tahu siapa yang akan menang, dan kita tahu harga yang harus dibayar oleh mereka yang terlambat sadar.
Dalam naskah teater, terutama di tangan seorang penggarap yang berakar pada tradisi kulturalnya sendiri seperti Ludruk, jawabannya justru sangat bisa bergeser, tergantung pada siapa yang menonton malam itu, dan apa yang mereka bawa pulang sesudahnya: kepada mereka yang duduk di baris yang sama dengan pejabat, dengan buruh, dengan guru, dengan siswa SMA yang baru pertama kali memegang naskah dan bertanya-tanya mengapa babi-babi di atas panggung terasa begitu familier.
Ada yang aneh sekaligus menggelitik saat seekor babi berdiri tegak di atas panggung dan berpidato soal kebebasan. Keanehan itu bukan soal jubah atau topengnya. Datang dari tempat yang lain dari kenyataan bahwa pidato itu terdengar begitu akrab, seperti sesuatu yang sudah pernah didengar sebelumnya, entah di balai kota, entah di layar televisi, di feed sosial media, entah di ruang rapat yang dindingnya dicat warna kemenangan.
Fabel ini bekerja dengan dua lapis sekaligus mengundang tawa di permukaan, sambil diam-diam menyelipkan cermin tepat di baliknya. Membawakannya di atas panggung adalah jenis kesulitan yang berbeda. Aktor tidak disarankan bermain terlalu manusia, sebab itu akan merobohkan metafora tetapi juga tidak dianjurkan terlalu harfiah binatang, sebab yang dibutuhkan adalah resonansi, bukan tontonan sirkus.
Premisnya sederhana, nyaris seperti dongeng pengantar tidur anak: para binatang di sebuah peternakan berhasil mengusir tuannya, lalu mengambil alih tanah dan kandang yang selama ini menindas mereka. Kebebasan telah datang.
Tetapi kebebasan, sebagaimana sering terjadi dalam sejarah manusia dan rupanya juga dalam sejarah binatang segera menghadapi ujian yang lebih berat dari penjajahan itu sendiri, apa yang dilakukan setelah merdeka?
Yang menarik dari cerita itu tidak menunjuk siapa penjahat dan siapa pahlawan dengan jari yang tegas. Yang dilakukannya adalah menempatkan kita para penonton yang tertawa, penonton yang sesekali terdiam sebagai saksi yang juga mungkin adalah peserta. Sebab menurut hemat saya, teater yang bekerja dalam praktek kebudayaan tidak pernah benar - benar hadir sebagai podium pengkhotbah moral, tidak juga selalu netral atau suci, melainkan sebagai ruang di mana realitas diperiksa bersama, dengan berani, dengan jenaka dan serius, dan dengan kesadaran bahwa kandang yang kita bicarakan itu mungkin bukan milik para binatang saja.
Teater SMKN 12 Surabaya dalam Pagelaran Teater Satwaloka, 16 April 2026 di Gedung Cak Durasim Jatim memungut benih itu dan menanamnya di tanah yang berbeda, dengan harapan buahnya terasa oleh penonton yang duduk di sini, bukan di sana, bukan dulu, melainkan sekarang di Indonesia.
Akhirnya, pementasan sudah selesai berbicara. Para pelaku sudah memberikan apa yang mereka punya. Penggarap sudah memindahkan dunia yang pernah Orwell kisahkan ke atas lantai panggung dengan caranya, dengan tubuh yang ia bentuk dari gagasan kulturalnya.
Sekarang untuk bertanya kepada diri sendiri di dalam keramaian yang pura-pura :
Babi mana yang tadi kita tertawakan dan apakah tawa itu datang karena ia sungguh asing, atau justru karena ia terlalu dikenal?
Dunia mana yang sedang kita bangun hari ini, dan siapa yang sesungguhnya akan berputar di dalamnya?
Dan jika semua binatang memang setara lalu mengapa kita terus menghitung siapa yang lebih setara dari yang lain?
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar