Tiga tahun bukan waktu yang panjang bagi sejarah, tetapi cukup untuk menandai sebuah kesungguhan. Selama tiga tahun berjalan, Cerita Kudus Tuwa memilih berjalan pelan, menelusuri jejak-jejak yang kerap luput dari ingatan arus utama. Bukan nostalgia yang meromantisasi masa lalu, melainkan upaya membaca ulang sejarah dari sudut-sudut kecil: kampung, rumah produksi, makam keluarga, serta nama-nama yang pernah menghidupi kota ini lewat kerja, doa, dan asap kretek yang pelan-pelan naik ke udara.
Di bulan Desember ini, Cerita Kudus Tuwa menggelar acara bertajuk Ziarah Kretek, sebuah agenda yang tidak dirancang sebagai perayaan, melainkan sebagai perenungan. Ziarah ini dilakukan secara terbatas, internal, sebagai ruang refleksi sebelum melangkah ke tahun-tahun berikutnya. “Kami merasa perlu berhenti sejenak, menengok ke belakang, bukan untuk memuja, tetapi untuk memahami,” ujar Yusak Maulana, salah satu penggerak Cerita Kudus Tuwa, saat ditemui di sela kegiatan.
Perjalanan Ziarah Kretek dimulai dari Makam Sedio Luhur, Krapyak, Kudus—tempat peristirahatan M. Nitisemito, Raja Kretek yang namanya telah lama menjadi penanda sejarah industri rokok di Hindia Belanda, serta H.M. Moeslich, pemilik usaha kretek cap Tebu dan Cengkeh. Dari sini, rombongan melanjutkan ke makam keluarga M. Atmowidjojo, sosok legendaris pemilik kretek cap Goenoong Kedoe.
Di kompleks makam ini pula dimakamkan anak-anak Atmo: H.M. Ashadie (cap Delima), M. Sirin (Garbis Manggis), M. Nadiroen (Gunung Klapa), dan M. Roesdi (Sogo). Perjalanan berlanjut ke makam keluarga H.A. Ma’roef di Ngembal, dan ditutup di Makam Keluarga M.C. Wartono, pendiri rokok Sukun, di Gebog.
“Ziarah ini bukan soal siapa paling besar atau paling berjasa,” kata Yusak. “Kami ingin membaca ulang sejarah dari titik paling sunyi: makam. Dari situ kita belajar bahwa industri besar ini lahir dari manusia-manusia biasa yang bekerja dalam senyap.”
Kretek dan Lanskap Sosial Kudus
Sejarah kretek di Kudus bukan hanya soal komoditas, tetapi juga soal lanskap sosial dan budaya. Di awal abad ke-20, kretek tumbuh dari rumah-rumah keluarga, dari dapur dan ruang belakang, dari tangan-tangan yang melinting tembakau dan cengkeh sambil menjalani kehidupan sehari-hari.
Salah satu tokoh penting dalam lanskap ini adalah Moeslich bin Soleh, pemilik kretek Tebu dan Cengkeh. Namanya tercatat dalam agenda resmi Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Tjarda van Starkenborgh Stachouwer, yang pada 19 Maret 1939 mengunjungi pabriknya di Langgardalem. Kunjungan ini menjadikan Moeslich bukan sekadar pengusaha lokal, melainkan figur ekonomi yang diakui secara kolonial.
“Fakta bahwa Gubernur Jenderal datang langsung ke Langgardalem menunjukkan betapa pentingnya posisi industri kretek Kudus saat itu,” jelas Yusak. Menurutnya, kunjungan tersebut juga menandai bagaimana kretek telah menjadi bagian dari ekonomi politik kolonial.
Moeslich memulai usahanya dari skala kecil, bahkan sempat menjual kretek buatan istrinya, Masrifah, sebagai barang cangkingan saat berdagang batik. “Ini menarik,” lanjut Yusak, “karena menunjukkan bahwa sejarah kretek Kudus tidak bisa dipisahkan dari tradisi perdagangan batik.” Dari usaha kecil itulah Moeslich membangun pabrik seluas sekitar 12.500 meter persegi, mempekerjakan ribuan buruh, dan memproduksi hingga dua juta batang kretek per hari, sebelum akhirnya usaha itu berhenti setelah wafatnya sang pendiri.
Jika Moeslich dikenal luas hingga ke agenda kolonial, Atmowidjojo justru dikenal karena kesenyapannya. Pemilik kretek cap Goenoong Kedoe ini merupakan tipikal pedagang Kudus Kulon: ulet, tekun, dan low profile. Dalam keseharian, Atmo kerap tampil sangat sederhana, hingga sering disangka bukan pemilik pabrik.
“Atmo ini contoh menarik,” kata Yusak. “Ia tidak membangun citra, tapi membangun sistem.” Usaha Atmo yang berlokasi di Dukuh Pringinan, tak jauh dari Menara Kudus dan Langgar Bubrah, berkembang menjadi salah satu dari The Big Five perusahaan kretek di Kudus pada masa kolonial.
Jejak Atmo masih dapat dilihat hingga kini: rumah, bangunan pabrik, dan musala yang dirintisnya masih berdiri dan dihuni keturunannya. “Ini bukti bahwa sejarah tidak selalu hilang. Ia tinggal di sekitar kita, menunggu untuk dibaca ulang,” ujar Yusak.
Dari Atmowidjojo lahir generasi penerus, salah satunya H.M. Ashadie, pendiri kretek cap Delima. Ashadie bukan hanya mewarisi usaha, tetapi juga mengembangkan jaringan, inovasi, dan keberanian sosial. Ia menikahi perempuan keturunan Belanda, Fatmah, sebuah langkah yang pada masanya dianggap melampaui batas sosial.
“Keberanian Ashadie bukan hanya dalam bisnis, tapi juga dalam hidup,” tutur Yusak. Fatmah yang fasih berbahasa Belanda justru membawa keuntungan strategis bagi perusahaan, terutama dalam membaca label bahan saus impor.
Pabrik Delima berkembang pesat di Demangan, dengan ribuan pekerja dan gudang-gudang besar. Bahkan dalam penamaan pabrik, Ashadie menunjukkan kepercayaan simbolik—menghindari angka 13 dan memilih huruf A hingga M. Iklan Delima tahun 1936 di surat kabar Belanda juga telah menyiratkan kesadaran kebangsaan, menandai peran kretek dalam sejarah nasional yang lebih luas.
Ziarah ditutup di Gebog, di makam M.C. Wartono, pendiri rokok Sukun. Lahir pada 1920 di Desa Gondosari, Wartono memulai usahanya bukan dari rokok, melainkan dari pabrik tahu. Baru pada 1947 ia mendirikan pabrik rokok klobot Cap Sukun—sebuah pilihan yang kelak menentukan arah hidupnya.
“Wartono membaca pasar dengan sangat jeli,” jelas Yusak. Rokok klobot yang tahan lembap menyasar masyarakat pesisir dan nelayan. Produksi dilakukan manual, distribusi menggunakan sepeda dan grobak sapi. Dari skala kecil itulah Sukun tumbuh menjadi perusahaan besar yang tetap dikelola keluarga hingga kini.
Semboyan “Urip iku urup” yang diusung PT Sukun Wartono Indonesia bukan sekadar slogan, melainkan refleksi nilai yang telah dijalani pendirinya sejak awal. “Ini penting,” kata Yusak, “karena menunjukkan kesinambungan antara nilai, keluarga, dan usaha.”
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar