Esai

Membaca Kembali Jepara dalam Pandangan R.A. Kartini

✍ Imam Khanafi - 📅 14 Apr 2026

Membaca Kembali Jepara dalam Pandangan R.A. Kartini
Imam Khanafi

Oleh Imam Khanafi , tinggal di Kudus dan menulis esai tentang pertunjukan serta budaya. Sejak 2024, ia berkarya bersama Phos dengan menerbitkan zine sastra.

SAYA membaca sebuah artikel berjudul “Dari Sudut yang Terlupakan” sebuah tulisan yang begitu puitis sekaligus tajam karya R.A. Kartini, yang diterbitkan di majalah Eigen Haard pada 3 Januari 1903. Artikel ini diterjemahkan oleh Daniel F.M. Tangkilisan, dengan penyempurnaan oleh Ibu Dr. Widjajanti Dharmowijono. Membaca teks ini bukan sekadar menyusuri deskripsi tentang sebuah kota kecil bernama Jepara, tetapi juga memasuki cara pandang seorang Kartini yang melihat lebih jauh dari apa yang tampak: sebuah kritik sosial, penghargaan terhadap seni rakyat, serta harapan akan kebangkitan martabat bangsa.

Sejak awal, Kartini menghadirkan Jepara sebagai sebuah paradoks. Ia menggambarkan kota itu sebagai tempat yang “terlupakan,” sunyi, dan bahkan dipandang rendah oleh orang-orang yang datang dari luar. Jepara seolah hanya menjadi persinggahan yang membosankan, tempat yang membuat orang ingin segera pergi. Gambaran ini menunjukkan bagaimana standar penilaian kala itu sangat dipengaruhi oleh hiruk-pikuk modernitas kota besar. Apa yang tenang dianggap tertinggal, apa yang sederhana dianggap tidak berharga.

Namun, Kartini tidak berhenti pada deskripsi tersebut. Ia justru membalik perspektif itu. Dengan gaya retoris yang kuat, ia seperti memanggil Jepara untuk bangkit dari penilaian yang keliru. Dalam tulisannya, Jepara bukanlah kota yang miskin, melainkan kota yang kaya kaya akan keindahan alam, ketenangan, dan yang paling penting: kekayaan seni rakyatnya. Di sini, kita melihat bagaimana Kartini menantang cara pandang kolonial yang sering merendahkan daerah-daerah di luar pusat kekuasaan.

Salah satu bagian paling kuat dari artikel ini adalah ketika Kartini mulai mengajak pembaca “berkunjung” ke desa Blakang Goenoeng, tempat para pengukir kayu bekerja. Ia menggambarkan perjalanan itu dengan detail yang hidup: dari menyeberangi sungai, melewati desa nelayan, hingga memasuki ruang kerja sederhana para pengrajin. Deskripsi ini bukan hanya naratif, tetapi juga politis ia menunjukkan kontras antara kesederhanaan tempat dengan keagungan karya yang dihasilkan.

Di ruang kerja yang sempit, dengan alat-alat sederhana, para pengukir kayu menciptakan karya yang luar biasa indah. Kartini menyoroti ironi ini dengan sangat halus: bagaimana mungkin keindahan yang begitu tinggi lahir dari kondisi yang begitu sederhana? Pertanyaan ini bukan sekadar kekaguman, tetapi juga kritik terhadap sistem yang tidak memberi ruang dan dukungan yang layak bagi para seniman lokal.

Lebih jauh, Kartini menolak anggapan bahwa keahlian para pengrajin itu berasal dari pendidikan formal atau pengaruh luar. Ia menegaskan bahwa seni ukir Jepara adalah seni rakyat warisan turun-temurun yang hidup dalam keseharian masyarakat. Di sinilah letak kekuatan utama tulisan ini: Kartini mengangkat nilai pengetahuan lokal sebagai sesuatu yang setara, bahkan unggul, dibandingkan standar Barat.

Yang menarik, Kartini juga mengangkat aspek spiritual dan mitologis dalam pemahaman masyarakat terhadap seni tersebut, seperti kepercayaan bahwa hanya orang-orang tertentu yang memiliki bakat karena “danyang” atau roh pelindung. Alih-alih menertawakan atau merendahkan, Kartini justru menghadirkan kepercayaan ini sebagai bagian dari kekayaan budaya yang membentuk identitas seni itu sendiri.

Selain itu, artikel ini juga memperlihatkan kesadaran Kartini terhadap pentingnya jaringan dan institusi dalam mengangkat seni rakyat. Ia menyebut peran organisasi Oost en West yang mulai membuka ruang apresiasi terhadap karya-karya pribumi, termasuk melalui pameran seni. Kartini melihat ini sebagai peluang besar: bahwa ketika dunia luar mulai melihat dan menghargai seni lokal, maka martabat masyarakat yang menciptakannya pun ikut terangkat.

Namun, Kartini tidak naif. Ia juga menyoroti persoalan ekonomi yang dihadapi para pengrajin mereka tidak memiliki modal, tidak bisa menyimpan karya, dan harus bekerja berdasarkan pesanan untuk bertahan hidup. Ini menunjukkan bahwa persoalan seni tidak bisa dilepaskan dari struktur ekonomi. Apresiasi saja tidak cukup; harus ada sistem yang mendukung keberlanjutan hidup para seniman.

Di bagian akhir, Kartini kembali pada Jepara sebagai simbol. Ia menolak ramalan pesimis yang menyebut bahwa Jepara akan menjadi tempat yang hina di masa depan. Dengan penuh keyakinan, ia percaya bahwa justru dari “sudut yang terlupakan” ini akan lahir kebangkitan melalui seni, melalui kerja tangan yang jujur, dan melalui pengakuan yang perlahan datang.

Membaca artikel ini hari ini terasa sangat relevan. Banyak daerah di Indonesia masih mengalami nasib serupa: kaya akan budaya dan potensi, tetapi sering dipandang sebelah mata. Kartini mengajarkan bahwa yang dibutuhkan bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga perubahan cara pandang kemampuan untuk melihat nilai dalam hal-hal yang selama ini dianggap biasa.

Lebih dari itu, tulisan ini memperlihatkan sisi Kartini yang sering terlupakan. Ia bukan hanya tokoh emansipasi perempuan, tetapi juga seorang pemikir budaya, pengamat sosial, dan pembela seni rakyat. Ia memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap ketidakadilan, sekaligus kepekaan estetika yang mendalam.

Pada akhirnya, “Dari Sudut yang Terlupakan” bukan hanya tentang Jepara. Ia adalah tentang bagaimana kita memandang dunia: apakah kita hanya melihat dari pusat, atau berani menoleh ke pinggiran dan menemukan keindahan di sana. Kartini mengajak kita untuk memilih yang kedua dan dari sanalah, mungkin, kita bisa menemukan kembali makna dari kemajuan yang sesungguhnya. (im)

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar