Lahir pada tahun 1920 di Desa Gondosari, Gebog, Kudus, M.C. Wartono tumbuh dari keluarga sederhana—anak keempat dari enam bersaudara, putra Singo Sarpani, mantan kepala desa, dan ibu Paijah. Jiwa wirausahanya telah tampak sejak muda. Awalnya ia mencoba peruntungan di bidang pangan dengan mendirikan pabrik tahu, namun pasang surut usaha membuatnya beralih arah. Pada tahun 1947, ia mendirikan pabrik rokok klobot Cap Sukun, sebuah keputusan yang kelak mengubah arah hidupnya sekaligus menandai lahirnya salah satu legenda industri kretek di Kudus (sumber: arsip PT Sukun Wartono Indonesia).
Rokok klobot produksi M.C. Wartono dibuat dari bahan-bahan sederhana: tembakau pilihan, kulit jagung (klobot), lawe warna-warni, dan gunting bathil untuk memotong. Produk ini dipasarkan oleh Bapak Legirah menggunakan sepeda dan grobak sapi, menjangkau hingga perkampungan nelayan yang menjadi pasar utama. Inovasinya sederhana tapi jitu—rokok klobot tahan lembap dan bercita rasa khas. Popularitasnya melonjak, hingga pada 18 Agustus 1947 diadakan selamatan bersama para pekerja sebagai wujud syukur. Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai hari lahir PT Sukun Wartono Indonesia, tonggak awal perjalanan panjang yang berangkat dari semangat gotong royong dan kerja keras rakyat Kudus.
Seiring berjalannya waktu, Sukun bertransformasi dari pabrik kecil menjadi perusahaan rokok yang modern dan inovatif. Tahun 1950 menjadi titik penting ketika M.C. Wartono meluncurkan rokok kretek kertas bermerek Sukun King Size, disusul berbagai varian seperti Sukun Kretek Simo, Sukun Kretek Biru, hingga Sukun Filter Spesial pada akhir 1990-an. Di bawah kepemimpinan putra-putranya—H. Tas’an Wartono, H. Rindho Wartono, H. Yusuf Wartono, dan H. Edi Wartono—perusahaan ini berkembang pesat. Pada 1976, kantor pusat empat lantai dibangun, menandai era baru profesionalisme dan loyalitas karyawan yang menjadi kekuatan utama perusahaan (sumber: dokumentasi keluarga Wartono).
Kini, setelah lebih dari tujuh dekade, semangat pendirinya tetap menyala dalam semboyan “Urip iku urup”—hidup adalah memberi terang bagi sesama. Semboyan ini bersumber dari kearifan Jawa dan selaras dengan hadits Nabi: Khoirunnas anfa’uhum linnas—“sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” Filosofi tersebut menjadi napas PT Sukun Wartono Indonesia hingga kini: perusahaan rokok besar asli Indonesia yang tetap dikelola oleh keluarga pendirinya, tanpa pernah berpindah tangan. Dari sebuah desa kecil di lereng Muria, nama M.C. Wartono terus harum sebagai simbol ketekunan, inovasi, dan pengabdian pada kehidupan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar