Tari Kridanala menghadirkan kisah seorang raja bijaksana yang dihadapkan pada situasi penuh krisis ketika wabah melanda kerajaannya. Di tengah kekacauan yang terjadi, ia tidak hanya berjuang menghadapi keadaan dari luar, tetapi juga bergulat dengan dirinya sendiri. Kegelisahan, keraguan, hingga tanggung jawab yang besar menjadi bagian dari perjalanan batin yang harus ia lalui.
Karya ini dibawakan oleh dua penari dari Sanggar Tari Panji Wilis dalam Serah#4: Narasi Tubuh dalam Parade Tari, sebuah panggung apresiasi yang dihadirkan oleh Dewan Kesenian Kudus sebagai ruang bagi para pelaku seni untuk menyampaikan karya dan gagasannya kepada masyarakat.
Dalam penyajiannya, Tari Kridanala menghadirkan dua sosok yang saling terhubung. Penari laki-laki memerankan raja, sementara penari perempuan menjadi representasi batin sang raja, suara hati yang tak terlihat, namun selalu hadir. Keduanya bergerak dalam hubungan yang dinamis: saling mendekat, menjauh, berlawanan, hingga akhirnya menemukan keselarasan. Dari interaksi ini, terlihat bahwa pertarungan terbesar seorang pemimpin sering kali terjadi dalam dirinya sendiri.
Secara visual, warna putih yang mendominasi kostum menjadi simbol ketulusan dan niat baik seorang pemimpin. Namun, terdapat elemen kontras pada tubuh sang raja yaitu garis hitam yang melilit dan membentuk silang, seolah menjadi tanda beban, tekanan, serta luka batin yang ia tanggung. Sementara itu, sosok batin hadir sebagai penyeimbang, membawa ketenangan sekaligus dorongan untuk memahami dan menerima keadaan.
Tokoh raja dalam karya ini dihidupkan oleh Mandala, mahasiswa semester 4 Universitas Negeri Semarang sekaligus pemilik Sanggar Panji Wilis. Dengan pengalaman menari selama 19 tahun, Mandala menghadirkan karakter raja yang bijaksana, tegas, namun penuh pergulatan batin. Baginya, tari adalah ruang untuk mengekspresikan diri secara jujur. Latar belakang keluarga yang dekat dengan dunia seni, dari dalang, seni rupa, hingga dekorasi, membentuk kepekaan artistiknya sejak kecil. Di atas panggung, ia tidak hanya menari, tetapi menghidupkan jiwa seorang pemimpin yang tengah mencari makna dalam setiap keputusan.
Sementara itu, peran batin sang raja dihadirkan oleh Indah, alumni Universitas Negeri Semarang yang kini mengabdi sebagai guru tari. Dengan kepekaan rasa yang kuat, ia menghadirkan sosok batin yang reflektif, lembut, namun memiliki kekuatan yang dalam. Melalui geraknya yang mengalir, ia menjadi suara hati yang kadang menenangkan, kadang mengguncang, sekaligus menuntun sang raja menuju penerimaan. Bagi Indah, tari adalah napas kehidupan, tempat tubuh dan jiwa bertemu untuk menyampaikan makna. Secara visual, rambut yang dikepang kecil-kecil menjadi lima bagian turut memperkuat simbolisasi peran ini. Lima kepangan tersebut merepresentasikan lapisan batin yang dimiliki manusia : rasa, pikiran, intuisi, emosi, dan kesadaran, yang saling terjalin dan memengaruhi setiap keputusan. Kepangan yang rapi dan terikat juga mencerminkan bagaimana sosok batin berusaha menjaga keseimbangan di tengah kekacauan yang dialami sang raja.
Tanpa banyak properti, Tari Kridanala mengandalkan tubuh sebagai media utama untuk bercerita. Gerak yang tercipta bukan sekadar rangkaian koreografi, tetapi menjadi bahasa yang menyampaikan konflik, pencarian, hingga penerimaan.
Melalui karya ini, penonton diajak untuk memahami bahwa di balik kekuatan seorang pemimpin, terdapat sisi manusia yang rapuh dan penuh pertanyaan. Bahwa setiap individu memiliki pertarungan batinnya masing-masing. Dan dari proses itulah, lahir kekuatan untuk berdamai dan melangkah ke depan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar