Di sebuah dukuh bernama Dukuh Cabean, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, akhir Agustus lalu masyarakatnya menyalakan api perjumpaan. Api itu tidak datang dari obor, melainkan dari semangat kolektif warga yang percaya bahwa kebudayaan adalah sumber kehidupan. Tahun 2025 ini, Festival Kampung Budaya Cabean memasuki edisi ketujuh. Tema yang diangkat, “Harmoni Kehidupan”, terasa sederhana namun sarat makna, terutama ketika dibaca dalam konteks dunia hari ini yang kerap dipenuhi keretakan sosial, krisis ekologis, dan terpinggirkannya nilai-nilai tradisi.
Festival ini berlangsung dari 28–30 Agustus 2025, menampilkan teater, tari, musik, monolog, parade rebana, musikalisasi puisi, hingga pasar rakyat. Dari format acaranya saja kita dapat menangkap sebuah prinsip: keberagaman medium seni adalah refleksi dari keberagaman kehidupan. Seperti halnya sebuah ekosistem, kesenian di Cabean tumbuh berlapis-lapis, saling menyokong, saling memberi ruang untuk berbicara.
Malam itu, udara di desa Cabean terasa berbeda. Lampu-lampu minyak menggantung di jalan masuk, sementara suara gamelan berpadu dengan alunan kentongan yang dipukul ritmis. Warga berbondong-bondong datang, anak-anak berlarian dengan wajah penuh tawa, sementara para orang tua duduk di kursi bambu, menunggu pertunjukan dimulai.
Festival Kampung Budaya Cabean bukan sekadar hiburan. Ia adalah ruang di mana ingatan desa bertemu dengan ekspresi seni, di mana warga merayakan jati diri mereka sebagai bagian dari kebudayaan yang masih hidup. Di tengah gempuran globalisasi yang menyeret seni rupa ke pasar dan sensasi, festival ini hadir sebagai perlawanan lirih—sebuah ajakan untuk kembali pada tubuh, alam, dan harmoni.
Seorang bapak paruh baya yang saya temui di pintu masuk berkata lirih, “Iki dudu mung tontonan, le. Iki pangeling-eling.” (Ini bukan sekadar tontonan, Nak. Ini pengingat.)
Gerbang bambu dan jerami yang didirikan di pintu masuk menjadi simbol pertama yang menandai perbedaan antara dunia sehari-hari dengan dunia ritual. Saat melangkah masuk, saya teringat pada konsep liminality yang diperkenalkan oleh Victor Turner: ruang peralihan yang membuka kemungkinan transformatif.
Di balik gerbang, kehidupan desa seolah berubah. Warga yang biasanya sibuk di sawah atau pasar kini menyatu dalam satu energi kolektif. Gerbang itu adalah “ambang kosmik”—tempat di mana orang melepas status sosial sehari-hari dan masuk ke ruang bersama. Seperti kata Turner, dalam momen liminal, masyarakat menemukan kembali rasa kesetaraan dan kebersamaan yang sering hilang dalam hiruk-pikuk keseharian.
Gerbang jerami itu mungkin sederhana, tetapi ia mengajarkan bahwa transendensi tidak memerlukan arsitektur megah. Sebatang bambu, ikatan jerami, dan niat warga cukup untuk mengubah ruang desa menjadi panggung kosmologi.
Di dalam arena, seorang pemain muncul dengan wajah dicat menyerupai kucing. Kostumnya merah muda, tubuhnya lincah, matanya menyala penuh energi. Penonton bersorak, anak-anak tertawa, seolah menyambut hadirnya dunia imajinasi.
Sosok kucing ini bukan sekadar hiburan. Ia mengingatkan kita bahwa manusia selalu berhutang pada dunia binatang. Dalam filsafat Nietzsche, seni adalah jalan untuk melepaskan sisi dionysian: energi instingtif, liar, penuh vitalitas. Kucing di panggung itu bukan hanya karakter, melainkan simbol animalitas yang kita sembunyikan di balik pakaian rapi dan tata krama sosial.
Di desa Cabean, topeng kucing itu seolah berkata: “Jangan lupa, manusia pun bagian dari rimba. Tubuhmu masih menyimpan naluri, dan itu bukan hal yang harus disembunyikan.”
Adegan berikutnya memperlihatkan seorang pemain bertubuh kekar dengan wajah merah-hitam merunduk di panggung. Gerakannya seperti hewan yang mencari mangsa, penuh energi, namun juga penuh kerendahan.
Maurice Merleau-Ponty pernah menulis bahwa tubuh adalah “pusat orientasi dunia.” Tubuh bukan sekadar objek, tetapi subjek pengalaman. Gerakan merunduk itu bukan akting belaka, melainkan wujud bagaimana tubuh manusia menyalurkan energi kosmik.
Dalam kosmologi Jawa, sikap merunduk juga berarti hormat kepada bumi. Tubuh yang menunduk mengingatkan kita pada asal-usul tanah, pada kesadaran bahwa manusia hanyalah tamu sementara. Festival ini seolah mengajarkan: “Bumi tidak butuh manusia, tapi manusia butuh bumi.”
Puncak festival hadir ketika sekelompok pemain berdiri tegap di panggung, dengan latar belakang instalasi bambu berbentuk wajah raksasa yang matanya menyala kuning. Tubuh-tubuh mereka bergerak dalam irama, menari bersama dalam formasi yang penuh energi.
Di sini saya teringat pada Martin Buber dan filsafat dialogisnya. Menurut Buber, ada dua cara manusia berhubungan: Ich-Es (aku-itu) dan Ich-Du (aku-engkau). Dalam tarian kolosal itu, hubungan yang muncul bukan sekadar antarindividu, melainkan antara manusia dan yang transenden. Wajah bambu yang bercahaya seolah menjadi saksi, sebuah entitas “Engkau” yang lebih besar, yang menyatukan semua gerak.
Dalam momen itu, tarian menjadi doa, tubuh menjadi doa, dan festival menjadi kitab terbuka di mana setiap orang bisa membaca makna keberadaan.
Paul Ricoeur mengatakan, “Simbol memberi untuk dipikirkan.” Simbol-simbol dalam festival ini—bambu, jerami, wajah raksasa, topeng kucing, tubuh yang merunduk—semua adalah teks yang mengajak warga untuk merenung.
Desa Cabean melalui festival ini menegaskan bahwa seni bukan konsumsi pasar, melainkan filsafat hidup. Ia hadir untuk menjaga hubungan manusia dengan alam, tubuh, dan roh leluhur. Ia bukan sekadar dekorasi, tetapi cara desa menyusun kosmologi.
Dari suara-suara itu, jelas bahwa festival adalah ruang pendidikan kultural. Warga belajar filsafat bukan dari buku, tetapi dari tubuh, panggung, dan simbol.
Di tengah dunia seni yang sering terjebak dalam pasar, festival ini adalah kritik. Ia mengingatkan bahwa seni desa bisa berdiri tegak tanpa harus tunduk pada selera kapital.
Jacques Rancière pernah berbicara tentang distribution of the sensible—siapa yang boleh terlihat, siapa yang boleh terdengar. Festival ini membalik hierarki itu: suara desa yang biasanya tenggelam kini tampil di panggung, mengklaim ruang estetika mereka sendiri.
Globalisasi mungkin membawa arus hiburan instan, tetapi festival Cabean menunjukkan bahwa akar budaya masih kuat. Inilah filsafat perlawanan: bertahan dengan kesederhanaan, namun penuh makna.
Ketika lampu padam dan warga mulai pulang, saya menyadari bahwa festival ini lebih dari sekadar pertunjukan. Ia adalah kitab terbuka tentang kehidupan.
Gerbang jerami mengajarkan tentang ambang kosmik. Topeng kucing mengingatkan pada animalitas yang terlupakan. Tubuh yang merunduk mengajarkan kerendahan pada bumi. Tarian kolosal menyatukan manusia dengan Yang Lain.
Festival Kampung Budaya Cabean adalah filsafat yang dipentaskan, filsafat yang bisa disentuh, dirasakan, dan dialami bersama. Ia bukan sekadar seni, melainkan ajaran hidup: tentang tubuh, alam, dan kebersamaan.
Ingatan, Sejarah, dan Lupa
Clifford Geertz, dalam studinya tentang kebudayaan Jawa, pernah menyebut bahwa budaya adalah “teks” yang harus dibaca. Festival ini, dalam pandangan semacam itu, bisa dilihat sebagai kitab terbuka yang ditulis oleh masyarakat Cabean. Setiap penampilan rebana, setiap adegan teater, hingga keramaian pasar rakyat adalah kalimat-kalimat yang membentuk narasi besar tentang siapa mereka dan bagaimana mereka ingin dikenang.
Paul Ricoeur menambahkan dalam bukunya Memory, History, Forgetting bahwa ingatan kolektif adalah landasan identitas sebuah komunitas. Jika ingatan terputus, identitas pun akan rapuh. Festival Cabean dapat dipahami sebagai ritual mengingat: mengingat tradisi, mengingat leluhur, sekaligus mengingat harapan untuk masa depan. Dalam tiap irama rebana dan dalam setiap syair puisi yang dimusikalisasi, ada upaya melawan lupa.
Salah satu hal yang menonjol dari festival ini adalah hadirnya Panggung Ekspresi Muria Raya. Dari Kudus, Pati, Jepara, hingga Semarang, para seniman dan komunitas berkumpul, menghadirkan warna-warni karya: Rebana Syifa As Syuro, Rebana Al-Munawwarah, Rebana Roudhotul Jannah, dan Rebana Khoirun Nisa yang menegaskan bahwa tradisi Islam Nusantara masih hidup, menyatu dengan ritme kehidupan sehari-hari. Bregodo Budoyo Mijen dan Saraswati Dapur Seni yang membawa tarian dan musik rakyat dengan semangat kebersamaan. Teater Tiga Koma, Sekam UMK, Komunitas Seni Samar, hingga Terban Teater Labs yang menunjukkan bahwa dunia teater tidak hanya milik kota besar, tetapi juga tumbuh subur di desa-desa.
Keanekaragaman ini bisa dibaca melalui perspektif filsuf Max Scheler yang membagi nilai ke dalam empat tingkatan: nilai kenikmatan, nilai kehidupan, nilai rohani, dan nilai religius. Dalam festival ini, kita melihat lapisan-lapisan itu hadir sekaligus: pasar rakyat mewakili nilai kenikmatan (makan, minum, berdagang); pertunjukan seni mewakili nilai kehidupan dan nilai rohani (kreativitas, kebenaran, keindahan); sementara rebana dan doa-doa yang menyertai acara mengarah pada nilai religius. Harmoni kehidupan, dengan demikian, adalah harmoni antar-lapisan nilai yang tidak saling meniadakan, melainkan saling menopang.
Mengapa seni begitu penting bagi sebuah desa? Pertanyaan ini bisa kita jawab dengan melihat seni bukan sekadar hiburan, melainkan filsafat hidup. Di Cabean, seni adalah cara untuk memahami dunia, cara untuk mengolah kesedihan, sekaligus cara untuk merayakan kebahagiaan.
Filsafat Jawa mengenal konsep “rukun agawe santosa” (kerukunan membawa kekuatan). Pertunjukan kolosal warga Dukuh Cabean pada malam puncak 30 Agustus 2025 adalah pengejawantahan nyata dari konsep ini. Anak-anak, pemuda, orang tua, semua terlibat. Panggung itu tidak membedakan siapa aktor profesional dan siapa penonton, karena pada hakikatnya semua warga adalah pelaku budaya.
Filsuf Jacques Rancière menyebut seni sebagai “redistribusi yang peka” (distribution of the sensible), yakni membagi ruang dan suara bagi mereka yang kerap terpinggirkan. Festival ini, dengan melibatkan masyarakat desa secara langsung, menghadirkan demokrasi estetik: suara warga desa mendapat panggung yang sama pentingnya dengan kelompok seni mapan.
Festival Cabean juga memperlihatkan bahwa desa bukanlah ruang yang tertinggal, melainkan ruang yang memiliki potensi untuk menghidupkan kembali nilai-nilai yang sering terabaikan di kota. Gotong-royong, kebersahajaan, dan kedekatan dengan alam adalah modal budaya yang jarang kita temukan di pusat metropolitan.
Martin Heidegger pernah menulis tentang poiesis, yakni “membiarkan sesuatu tampil ke hadapan.” Festival ini adalah poiesis dalam bentuk paling konkret: warga desa menampilkan dirinya sendiri, tanpa rekayasa, tanpa kosmetik berlebihan. Mereka hadir apa adanya, dan justru di situlah letak keindahannya.
Tema “Harmoni Kehidupan” bukan sekadar slogan. Ia bisa dibaca sebagai kritik halus terhadap kondisi zaman. Dunia kita kini penuh polarisasi politik, kerusakan ekologi, dan budaya instan. Dari Dukuh Cabean, muncul pesan bahwa harmoni tidak berarti seragam, tetapi justru menerima perbedaan sebagai bagian dari kehidupan.
Seperti dikatakan filsuf Jürgen Habermas, ruang publik yang sehat adalah ruang di mana semua orang bisa berbicara dan didengar. Festival Cabean, dengan formatnya yang terbuka, menjadi ruang publik alternatif di tingkat lokal. Ia mengajarkan bahwa demokrasi tidak hanya berlangsung di parlemen, tetapi juga di panggung sederhana desa.
Tiga hari festival memang akan usai, namun gema harmoni itu akan terus tinggal dalam ingatan. Festival Kampung Budaya Cabean #7 bukan hanya agenda tahunan, melainkan cermin dari cara sebuah komunitas memaknai dirinya di tengah zaman yang berubah.
Dari Cabean, kita belajar bahwa kebudayaan adalah jantung kehidupan. Tanpa seni, manusia kehilangan jiwa. Tanpa ingatan kolektif, masyarakat kehilangan arah. Dan tanpa harmoni, dunia akan terjebak dalam konflik yang tak berkesudahan.
Seperti doa yang kerap terucap di panggung rebana: semoga harmoni kehidupan yang dipentaskan di Dukuh Cabean ini bisa menjalar ke ruang-ruang lain, menjadi energi bagi bangsa, dan meneguhkan keyakinan bahwa kebudayaanlah yang menyelamatkan kita. Semoga bermanfaat. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar