Esai

Seni dan Cara Berpikir - Pasca Madilog

✍ Agam Abimanyu - 📅 10 Apr 2026

Seni dan Cara Berpikir - Pasca Madilog
Agam Abimanyu

Saya baru saja menonton monolog Ular di Meja Revolusi, dibawakan oleh Joind Bayu Winanda. Saya rasa pengalaman malam itu tidak berhenti pada satu wajah.

Pameran Mural oleh Edi Bonetski, dan diskusi merdeka bersama Ruly Harmadi.

Ketiganya seperti membentuk satu kesatuan yang tidak utuh tapi saling terkait, yang justru membuka ruang tafsir yang saling bertaut.

Di atas panggung, monolog bekerja melalui simbol, cerita tentang Tan Malaka. Ular, kursi, globe , dan revolusi tidak nampak sebagai pernyataan langsung, melainkan sebagai tanda yang mengundang pembacaan. Ular tidak pernah benar-benar muncul, tetapi terasa.

Dimaknai sebagai sesuatu yang laten, licin, dan mungkin mengendap dalam kesadaran.

Dalam konteks ini, saya membaca pertunjukan yang tidak soal menyampaikan cerita semata, melainkan memproduksi pengalaman tentang bagaimana sesuatu yang tidak terlihat dapat mengatur cara berpikir.

Di sisi lain, pameran mural yang berangkat dari tafsir perjalanan Tan Malaka seperti potongan perjalanan, serpihan gagasan, dan jejak sejarah yang tercerai.

Pendekatan ini secara argumentatif menarik, karena seperti menolak mitologisasi tokoh secara tunggal.

Tetapi, saat yang sama, juga membuka persoalan baru ketika sejarah dihadirkan sebagai tontonan, sejauh mana kemungkinan itu tetap dapat dibaca sebagai proses berpikir dan refleksi ?

Kedua hal ini bertemu dalam satu pertanyaan yang sama tentang bagaimana kita hari ini bernegosiasi dengan mitos?

Refleksi yang sering diangkat oleh Tan Malaka Institute menunjukkan bahwa mitos dalam masyarakat Indonesia tidak hilang, melainkan bertransformasi.

Dapat hadir sebagai kebiasaan, bahkan sebagai cara pandang yang tidak lagi dipertanyakan. Dalam konteks pertunjukan dan pameran tadi, mitos seperti tidak dilestarikan, tetapi juga ditafsir ulang baik sebagai objek kritik maupun sebagai kemungkinan legitimasi baru.

Menjadi relevan ketika membayangkan, bagaimana jika cara berpikir seperti dalam Madilog dihilangkan?

Secara argumentatif, hilangnya cara berpikir kritis tidak akan mematikan kesenian. Akan tetap ada, bahkan mungkin tetap produktif secara bentuk. Tapi akan berisiko kehilangan daya gugatnya.

Akan cenderung mengulang simbol tanpa membongkar makna, menghadirkan mitos tanpa menciptakan jarak kritis. Dalam kondisi demikian, kesenian tidak lagi menjadi ruang negosiasi, melainkan ruang reproduksi. Mungkin diskusi merdeka setelah pertunjukan menjadi titik penting untuk membaca ulang situasi ini.

Dalam lingkaran yang difasilitasi oleh Ruly Harmadi dan dipandu oleh Imam Khanafi, karya tidak lagi berdiri sebagai otoritas tunggal sebagai perdebatan teknis.

Dibuka, dipertanyakan, bahkan diperdebatkan tentang substansi dari narasi dan pikiran Tan Malaka. Bagaimana aktor melihat dan menyikapi kehidupan kondisi hari ini misalnya, bisa ditangkap menjadi sesuatu yang tidak berhenti pada satu makna.

Bergeser, ditarik, dan dinegosiasikan ulang oleh pengalaman masing-masing orang membaca dan menyikapi kebudayaan Indonesia hari ini.

Terlihat bahwa daya kritis kesenian tidak hanya terletak pada karya itu sendiri, tetapi juga pada ruang yang mengikutinya. Tanpa dialog, karya berpotensi menjadi seperti mitos: diterima tanpa jarak.

Dengan dialog, terdapat kemungkinan untuk membongkar, atau setidaknya menunda kepastian makna.

Mengapa gagasan Tan Malaka terasa kembali relevan bagi anak muda hari ini? Jawabannya tidak semata-mata historis, tetapi kontekstual.

Kita hidup dalam situasi di mana informasi berlimpah, tetapi tidak selalu diiringi dengan proses verifikasi. Kebenaran sering kali beroperasi pada persepsi, bukan analisis.

Dalam situasi ini, pikiran Tan Malaka dapat dibaca sebagai metode bukan doktrin untuk mengembalikan disiplin berpikir: menghubungkan materialitas, dialektika, dan logika sebagai alat untuk memahami realitas seperti yang disinggung oleh narasumber.

Dalam praktik kultural hari ini, gagasan Tan Malaka sering hadir dalam bentuk fragmentasi. Muncul sebagai kutipan, visual, atau potongan narasi yang beredar cepat.

Fragmentasi ini memang memungkinkan akses yang lebih luas, tetapi juga membawa risiko reduksi. Ketika gagasan dipisahkan dari konteksnya, berpotensi dapat kehilangan sifat metodologisnya dan berubah menjadi simbol.

Dengan kata lain, pikiran yang semula dimaksudkan sebagai alat untuk membongkar realitas justru berpotensi menjadi bagian dari realitas yang tidak lagi dibongkar.

Misalnya seperti gagasan realisme sosial menjadi penting untuk diajukan. Bukan sebagai gaya estetika semata, tetapi sebagai posisi berpikir. Realisme sosial menuntut kesenian untuk tidak berhenti pada simbol, melainkan menautkannya dengan kondisi material yang konkret: relasi kuasa, ketimpangan, pengalaman hidup sehari-hari.

Dalam konteks pertunjukan, pertanyaannya seperti apakah ular itu hanya metafora, atau ia memiliki rujukan pada realitas sosial yang bisa dikenali? Apakah fragmen perjalanan Tan Malaka dibaca sebagai pengalaman historis yang hidup, atau sebagai citra yang estetis?

Sebab realisme sosial berfungsi sebagai pengingat: bahwa di balik setiap mitos, selalu ada kondisi konkret yang bisa dibaca, dipahami, dan dipertanyakan. Dan tanpa itu, bahkan kritik terhadap mitos pun bisa berubah menjadi bentuk baru dari mitos itu sendiri.

Monolog, pameran mural, dan diskusi malam itu berdiri di antara dua kemungkinan tersebut, membuka ruang tafsir. Di sisi lain, tidak sepenuhnya lepas dari risiko fragmentasi terutama ketika tidak semua audiens memiliki akses atau kebiasaan untuk melanjutkan pengalaman itu ke dalam refleksi yang lebih dalam.

Dalam konteks grassroots misalnya, persoalan ini menjadi lebih kompleks. Ketika karya dibawa ke ruang yang jauh dari pusat wacana, dapat berfungsi sebagai pembuka dialog.

Tetapi, tanpa ruang percakapan yang setara, juga berpotensi menjadi “cara pandang luar” yang tidak sepenuhnya terhubung dengan pengalaman lokal.

Sebab wajah kesenian sebagai produsen makna hari ini dapat dipahami sebagai medan negosiasi yang terus berlangsung. Tidak sepenuhnya kehilangan daya kritis, tetapi juga tidak sepenuhnya bebas dari reproduksi mitos. Bergerak di antara upaya membongkar dan kecenderungan mengulang.

Malam itu, yang tersisa bagi saya bukanlah jawaban, melainkan posisi. Seperti menuntut keberlanjutan dalam percakapan, pembacaan ulang, keberanian serta kerelaan untuk tidak segera menyimpulkan.

Barangkali seperti suara - suara Malaka dalam babak penutup. Menjadi suara siapa saja.

Sebab tanpa itu, bahkan gagasan yang paling kritis sekalipun dapat berubah menjadi fragmen dan pada akhirnya, menjadi mitos baru yang tidak lagi kita sadari.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar